RADAR BANYUWANGI - KA Argo Merbabu tampil berbeda di Stasiun Semarang Tawang, Senin (28/9). Rangkaian relasi Semarang Tawang–Gambir itu kini mengenakan vintage livery yang terinspirasi dari ABL-9000, seri kereta penumpang Djawatan Kereta Api (DKA) yang mulai beroperasi pada 1954.
Nuansa kereta era 1950-an tersebut dihadirkan KAI Daop 4 Semarang bersama Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Perayaan tidak berhenti pada tampilan kereta. Di Stasiun Tawang, sejarah perkeretaapian juga dipertemukan dengan sastra melalui pembacaan puisi “Di Stasiun Tawang” karya penulis dan penyair Prancis-Haiti, Louis-Philippe Dalembert.
Pertemuan antara kereta, sejarah, dan sastra itu berlangsung di stasiun yang telah beroperasi sejak 1914 dan baru saja melewati revitalisasi bangunan bersejarah yang diresmikan pada 30 Juli 2026.
Manager Humas KAI Daop 4 Semarang Luqman Arif mengatakan, kehadiran vintage livery menjadi salah satu cara menghadirkan kembali bagian dari perjalanan panjang perkeretaapian kepada masyarakat.
“HUT ke-81 KAI menjadi momentum untuk melihat perjalanan perusahaan sekaligus mengenang sejarah perkeretaapian yang telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa. Melalui vintage livery ini, kami menghadirkan kembali nuansa salah satu kereta bersejarah dalam bentuk yang dapat dilihat dan dirasakan masyarakat saat ini,” ujar Luqman.
Mengenal ABL-9000, Kereta Kelas 1 dan 2 Era DKA
ABL-9000 merupakan salah satu seri kereta penumpang yang didatangkan DKA pada periode awal setelah kemerdekaan.
Dokumentasi sejarah perkeretaapian yang merujuk Berita DKA mencatat DKA membeli 49 unit ABL pada 1953. Sebanyak 17 unit dibuat Carel Fouché, 16 unit oleh Société Lorraine, dan 16 unit lainnya oleh Brissonneau et Lotz di Prancis. Sebanyak 24 kereta tiba pada 1954 dan 25 unit menyusul pada 1955.
ABL-9000 mulai dioperasikan secara resmi pada 1 Oktober 1954. Kereta tersebut dirancang sebagai kereta campuran kelas 1 dan kelas 2 dengan kapasitas 12 tempat duduk kelas 1 serta 47 tempat duduk kelas 2.
Tampilannya pada masa itu menggunakan kombinasi krem dan hijau. Interiornya juga memiliki sejumlah fasilitas yang cukup maju untuk zamannya, antara lain pintu sorong antarkompartemen, dua toilet, meja lipat pada kursi, hingga tombol yang dapat digunakan penumpang untuk memanggil layanan dari kereta restorasi.
Jejak visual kereta inilah yang kemudian menjadi inspirasi bagi vintage livery pada rangkaian Argo Merbabu.
“Yang kami hadirkan hari ini bukan sekadar tampilan livery lama. Ada cerita panjang di baliknya. Kereta yang dahulu menjadi bagian dari perjalanan penting pada masanya, kini inspirasinya hadir kembali melalui rangkaian KA Argo Merbabu dalam momentum HUT ke-81 KAI,” kata Luqman.
Menurut KAI Daop 4 Semarang, seri ABL-9000 juga memiliki catatan dalam perjalanan nasional karena pernah digunakan untuk mendukung perjalanan peserta Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 1955.
KAA sendiri berlangsung di Bandung pada 18–24 April 1955 dengan kehadiran 29 negara Asia dan Afrika. Museum Konferensi Asia Afrika mencatat pemerintah menyiapkan transportasi, akomodasi, logistik, keamanan, dan berbagai kebutuhan lain bagi sekitar 1.500 peserta konferensi.
Namun, sumber primer Museum KAA yang tersedia daring tidak merinci tipe kereta yang digunakan. Karena itu, keterlibatan ABL-9000 dalam perjalanan peserta KAA dalam artikel ini tetap merujuk pada keterangan KAI Daop 4 Semarang dan memerlukan arsip operasi DKA untuk verifikasi lebih lanjut.
Perjalanan ABL-9000 sendiri berlanjut selama beberapa dekade. Pada era 1970-an, penggunaannya mulai berkurang. Sebagian kemudian diretrofit INKA pada dekade 1980-an menjadi kereta kelas ekonomi seri K3-555XX. Sejumlah unit kembali dimodifikasi pada 1995 menjadi kereta eksekutif seri K1-968XX yang digunakan pada KA Argo Lawu.
Tetap Melayani 450 Penumpang
Meski membawa tampilan yang terinspirasi kereta masa lalu, rangkaian Argo Merbabu tersebut tetap beroperasi sebagai kereta reguler.
Satu rangkaian terdiri atas sembilan kereta eksekutif New Image, satu kereta makan New Image hasil modifikasi Balai Yasa Tegal, serta satu kereta pembangkit. Sembilan kereta penumpangnya memiliki total kapasitas 450 tempat duduk.
KA Argo Merbabu mulai diperkenalkan pada 1 Juni 2023. IRPS mencatat layanan itu kemudian menggunakan kereta eksekutif New Image produksi 2016 dan 2017 mulai 10 Desember 2024.
Sepanjang Semester I 2026, KAI mencatat Argo Merbabu melayani 277.780 pelanggan, meningkat 13,97 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Namun nama Argo Merbabu tinggal digunakan dalam hitungan hari.
Mulai 1 Oktober 2026, KAI menyatukan perjalanan yang selama ini menggunakan nama Argo Merbabu, Argo Muria, dan Argo Sindoro menjadi satu identitas, yakni KA Muria. KA Muria akan melayani 12 perjalanan setiap hari pada relasi Semarang Tawang–Gambir pulang pergi.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan bahwa perubahan tersebut ditujukan untuk membuat identitas layanan lebih sederhana.
“Kami ingin KA Muria semakin kuat sebagai nama yang mudah dikenali dan menjadi identitas perjalanan KAI pada relasi Semarang Tawang–Gambir,” kata Anne.
Artinya, vintage livery ABL-9000 hadir pada salah satu momen terakhir ketika nama Argo Merbabu masih digunakan untuk layanan Semarang Tawang–Gambir.
Ketika Sejarah Kereta Api Bertemu Sastra
Cerita masa lalu di Stasiun Tawang pada HUT ke-81 KAI tidak hanya hadir melalui warna sebuah rangkaian kereta.
Di ruang stasiun, sejarah perkeretaapian bertemu dengan sastra melalui pembacaan puisi “Di Stasiun Tawang” karya Louis-Philippe Dalembert.
Kegiatan tersebut menghadirkan Triyanto Triwikromo, sastrawan dan akademisi Universitas Diponegoro, serta Ucik Fuadhiyah, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang yang juga berkarya sebagai sastrawati dan peneliti.
Kehadiran karya Dalembert di Semarang memiliki konteks tersendiri. Novelis dan penyair kelahiran Haiti yang bermukim di Paris itu sedang menjalani Residensi Rimbaud di Semarang selama September hingga November 2026. Ia menjadi penulis pertama dalam program residensi silang antara Indonesia dan Prancis tersebut.
Residensi itu mengambil nama Arthur Rimbaud, penyair Prancis yang pernah singgah di Semarang pada 1876. Program tersebut dirancang untuk mendorong penciptaan karya baru sekaligus mempertemukan penulis dengan masyarakat, akademisi, mahasiswa, peneliti, dan komunitas sastra.
Dalembert sejak awal menegaskan bahwa proses kreatifnya di Semarang tidak akan dilakukan dengan mengamati kota dari kejauhan.
“Saya berjanji akan serius dalam menulis, dan juga turun bertemu masyarakat agar tulisan saya memiliki jiwa di dalamnya, tidak kosong,” ujar Dalembert.
Dalam kesempatan lain saat peluncuran Residensi Rimbaud, Dalembert mengatakan dirinya akan menghabiskan tiga bulan untuk berinteraksi dengan lingkungan sastra di Semarang.
“Saya akan berada di sana selama tiga bulan dan bertemu berbagai komunitas sastra, serta melakukan workshop,” katanya.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen juga menyatakan dukungan terhadap proses kreatif tersebut. Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin mengatakan lembaganya akan membantu Dalembert mendapatkan informasi terkait bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan literasi selama berada di Semarang.
Hal tersebut membuat pembacaan “Di Stasiun Tawang” tidak hanya menjadi acara seni pendamping peringatan HUT KAI. Stasiun dan perjalanan kereta justru berada di tengah proses Dalembert membaca Semarang sebagai kota dan ruang kehidupan.
“Kereta api dan sastra memiliki satu ruang pertemuan yang sama, yaitu manusia dan perjalanannya. Stasiun menjadi tempat banyak cerita dimulai maupun berakhir,” kata Luqman.
“Karena itu, melalui pembacaan puisi di Stasiun Tawang, kami ingin menghadirkan cara lain untuk melihat perjalanan kereta api, tidak hanya dari sisi sarana dan perjalanan, tetapi juga dari sisi budaya dan cerita manusia,” lanjutnya.
Tawang, Stasiun Berusia Lebih dari Satu Abad
Pemilihan Stasiun Semarang Tawang sebagai ruang pertemuan sejarah dan sastra juga mempunyai dasar historis yang kuat.
Stasiun tersebut mulai beroperasi pada 1914 setelah pembangunannya dimulai pada 1911. Bangunan itu kemudian tumbuh menjadi salah satu simpul utama perjalanan kereta api di Semarang.
Pada 30 Juli 2026, revitalisasi Stasiun Semarang Tawang diresmikan setelah pekerjaan berlangsung selama 330 hari. Pembaruan dilakukan pada fasad depan, hall utama, sisi barat dan timur, lampu, serta sejumlah ornamen dengan menggunakan dokumentasi foto lama sebagai referensi untuk mengembalikan karakter historis bangunan.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menekankan bahwa tujuan pekerjaan tersebut bukan menghapus jejak masa lalu.
“Bangunan yang telah berusia 112 tahun ini dapat terus kita jaga kelestarian serta jejak sejarahnya,” kata Bobby saat peresmian.
Tawang juga tetap menjadi ruang hidup dengan aktivitas penumpang yang tinggi. KAI mencatat 2.152.894 aktivitas naik dan turun pelanggan di Stasiun Semarang Tawang sepanjang Januari–Juni 2026, tertinggi keempat di antara stasiun jarak jauh KAI pada periode tersebut.
Dengan demikian, vintage livery ABL-9000 tidak dipamerkan di ruang museum yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Kereta tersebut berada pada rangkaian yang masih membawa ratusan pelanggan, di stasiun berusia lebih dari satu abad yang tetap sibuk melayani perjalanan.
Jika livery membawa kembali salah satu wajah kereta api dari pertengahan abad ke-20, pembacaan puisi menghadirkan lapisan lain dari sebuah perjalanan, yaitu manusia, kota, pertemuan, perpisahan, dan ingatan yang tumbuh di sekitar rel kereta api.
Keduanya bertemu di Stasiun Tawang.
Peringatan KAI setiap 28 September sendiri merujuk pada pengambilalihan pengelolaan perusahaan kereta api dari Jepang oleh pekerja kereta api Indonesia pada 28 September 1945. KAI menyebut peristiwa tersebut sebagai salah satu tonggak pengelolaan perkeretaapian oleh bangsa Indonesia.
“81 tahun KAI adalah perjalanan yang panjang. Kami ingin merayakannya dengan mengingat dari mana perjalanan ini berasal, menghargai cerita yang telah menjadi bagian dari sejarah, sekaligus terus melangkah bersama masyarakat,” kata Luqman.
“Semoga rangkaian kegiatan ini dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan menikmati kembali sejarah perkeretaapian melalui cara yang lebih dekat,” pungkasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi