Dari Yugoslavia ke INKA, Jejak Senja Utama Solo Menjelang 48 Tahun

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 12:45 WIB
KA Fajar Utama Solo melintas di Stasiun Maguwo, Yogyakarta, 27 September 2026. Layanan yang berakar dari Senja Utama Solo sejak 1978 kini menggunakan rangkaian Stainless Steel New Generation produksi PT INKA. (Wikimedia Commons/Ghazy2007)
KA Fajar Utama Solo melintas di Stasiun Maguwo, Yogyakarta, 27 September 2026. Layanan yang berakar dari Senja Utama Solo sejak 1978 kini menggunakan rangkaian Stainless Steel New Generation produksi PT INKA. (Wikimedia Commons/Ghazy2007)

RADAR BANYUWANGI - Berawal dari kereta bisnis Goša buatan Yugoslavia pada 1978, layanan Solo–Jakarta ini pernah membawa kereta tidur couchette sebelum memasuki era Stainless Steel New Generation buatan Indonesia.

Pada 14 Oktober 1978, sebuah kereta malam berangkat dari Stasiun Solo Balapan menuju Jakarta. Namanya Senja Utama Solo. Saat itu, perjalanan dilakukan menggunakan kereta kelas bisnis dengan rangkaian Goša buatan Yugoslavia.

Menjelang usia 48 tahun, wajah kereta tersebut telah berubah jauh. Relasinya kini berujung di Pasar Senen, kelas pelayanannya berkembang, sedangkan rangkaian generasi terbaru berbahan baja nirkarat produksi PT INKA menjadi bagian dari perjalanan Jakarta–Surakarta.

Di antara dua masa itu, Senja Utama Solo bahkan pernah membawa couchette atau kereta tidur pada dekade 1990-an.

Perjalanan tersebut membuat sejarah Fajar dan Senja Utama Solo bukan semata cerita mengenai satu layanan kereta api. Hampir lima dekade perjalanannya juga merekam perubahan pelayanan dan sarana kereta antarkota di Indonesia.

Berawal dari Kereta Goša Yugoslavia

Senja Utama Solo mulai beroperasi pada 14 Oktober 1978 dengan relasi Solo Balapan–Gambir. Pada masa awalnya, kereta ini hadir sebagai layanan kelas bisnis menggunakan rangkaian buatan Goša dari Yugoslavia. Salah satu cirinya adalah delapan jendela pada masing-masing sisi kereta.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan perjalanan layanan tersebut menunjukkan perubahan kereta api antarkota dalam rentang waktu yang panjang.

“Sejak Senja Utama Solo hadir pada 1978, beberapa generasi pelanggan telah tumbuh bersama layanan ini. Rangkaian, kelas pelayanan, dan fasilitasnya terus berubah, sementara nama Solo tetap menjadi bagian penting dari perjalanannya,” ujar Anne.

Nama “Senja” berkaitan dengan karakter perjalanan malam dari Surakarta menuju Jakarta. Dalam perjalanannya, kereta melintasi koridor Yogyakarta, Purwokerto, dan Cirebon.

Layanan di koridor Jakarta–Solo kemudian berkembang dengan identitas Fajar Utama Solo dan Senja Utama Solo yang mengikuti waktu keberangkatan masing-masing.

Saat ini, Fajar Utama Solo melayani perjalanan dari Pasar Senen menuju Solo Balapan, sedangkan Senja Utama Solo bergerak dari Solo Balapan menuju Pasar Senen.

Pernah Membawa Kereta Tidur Couchette

Perjalanan Senja Utama Solo tidak selamanya identik dengan konfigurasi tempat duduk seperti yang dikenal pelanggan sekarang.

Memasuki dekade 1990-an, komposisi rangkaiannya pernah mencakup kereta eksekutif-A, eksekutif-B, serta couchette, yakni kereta tidur dengan tempat tidur tetap.

Catatan sejarah yang kembali dipublikasikan KAI pada September 2026 menyebut tarif layanan couchette pada 25 November 1994 sebesar Rp33.000. Setelah periode tersebut, rangkaian Senja Utama Solo kembali menggunakan layanan bisnis.

Fase tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan malam Solo–Jakarta pernah menawarkan cara beristirahat yang berbeda dari konfigurasi tempat duduk reguler.

“Setiap periode memiliki karakter pelayanan sendiri. Riwayat Fajar dan Senja Utama Solo mencatat fase kereta bisnis, pernah membawa layanan eksekutif dan couchette, hingga berkembang menjadi layanan dengan sarana generasi terbaru,” kata Anne.

Mengapa Ada Nama Fajar dan Senja?

Salah satu perubahan penting terjadi ketika Grafik Perjalanan Kereta Api atau Gapeka 2019 mulai berlaku pada 1 Desember 2019.

Sebelumnya, Senja Utama Solo dari Pasar Senen menuju Solo Balapan diberangkatkan pada malam hari pukul 22.00 WIB. Dalam Gapeka 2019, perjalanan dari Jakarta bergeser menjadi pukul 05.50 WIB dan menggunakan nama Fajar Utama Solo.

Executive Vice President KAI Daop 1 Jakarta saat itu, Dadan Rudiansyah, menjelaskan hubungan langsung perubahan waktu keberangkatan dengan pergantian nama.

“Untuk Fajar Utama Solo sendiri merupakan perubahan nama dari Senja Utama Solo lantaran perubahan waktu keberangkatan yang sebelumnya malam hari menjadi berangkat di pagi hari,” kata Dadan.

Dengan demikian, kata “Fajar” dan “Senja” bukan sekadar nama. Keduanya merepresentasikan karakter waktu perjalanan pada masing-masing arah: pagi dari Jakarta menuju Solo dan malam dari Solo menuju Jakarta.

Dari Kereta Impor Menuju Stainless Steel Buatan INKA

Perubahan besar juga terjadi pada asal sarana yang digunakan.

Jika Senja Utama Solo memulai perjalanan pada 1978 menggunakan kereta Goša buatan Yugoslavia, modernisasi berikutnya membawa rangkaian produksi dalam negeri ke koridor tersebut.

Pada 2016, kelas eksekutif kembali hadir. Kemudian sejak 21 Mei 2018, Fajar dan Senja Utama Solo menggunakan rangkaian berbahan baja nirkarat produksi PT INKA dengan kombinasi kelas eksekutif dan ekonomi premium.

Babak berikutnya dimulai pada 31 Januari 2025. KAI mengubah sarana Fajar Utama Solo dan Senja Utama Solo dengan rangkaian eksekutif dan ekonomi Stainless Steel New Generation. Perubahan yang sama ketika itu juga dilakukan pada sejumlah layanan lain, termasuk Bogowonto dan Logawa.

Anne Purba mengatakan tujuan perubahan tersebut adalah meningkatkan pengalaman perjalanan pelanggan.

“Melalui perubahan sarana ini, diharapkan perjalanan kereta api semakin menyenangkan dengan fasilitas yang lebih modern dan ergonomis,” ujar Anne.

Rangkaian ekonomi Stainless Steel New Generation produksi PT INKA memiliki kapasitas 72 penumpang per kereta, berkurang dari konfigurasi ekonomi generasi sebelumnya yang mencapai 106 kursi. Kursinya menggunakan formasi 2-2 dan dapat direbahkan serta diputar mengikuti arah perjalanan. Rangkaian ini juga menggunakan pintu geser elektrik dan Passenger Information Display System atau PIDS.

Untuk kereta eksekutif Stainless Steel New Generation, PT INKA mencantumkan kapasitas 50 penumpang per kereta dengan kecepatan operasional maksimum 120 kilometer per jam.

Kontrasnya terlihat jelas. Pada 1978 pelanggan Senja Utama Solo melakukan perjalanan menggunakan kereta bisnis buatan Yugoslavia. Hampir lima dekade kemudian, koridor yang sama dilayani kereta generasi baru yang diproduksi di Madiun.

Bagian dari Program 612 Kereta Baru

Modernisasi Fajar dan Senja Utama Solo merupakan bagian dari perubahan sarana KAI dalam skala yang lebih besar.

KAI dan PT INKA menandatangani kontrak pengadaan 612 unit kereta Stainless Steel New Generation pada 2023. Dalam kontrak awal, pengadaan tersebut ditempatkan sebagai program penggantian sarana penumpang.

Data KAI pada 6 Juni 2026 menunjukkan 39 trainset atau 391 kereta Stainless Steel New Generation telah diserahterimakan dan beroperasi. Program senilai Rp5,505 triliun itu mencakup 297 kereta eksekutif, 199 kereta ekonomi, 57 kereta makan, 57 kereta pembangkit, serta dua kereta bagasi. Fajar dan Senja Utama Solo termasuk layanan kelas campuran yang telah menggunakan rangkaian tersebut.

Perubahan dari sarana impor menuju produksi dalam negeri juga sejalan dengan arah kolaborasi KAI dan INKA saat ini.

Dalam pertemuan KAI dan INKA pada 11 September 2026, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan perusahaan ingin ikut memperkuat industri nasional sekaligus mempertahankan aspek keselamatan.

“Kami ingin turut membangun industri perkeretaapian dalam negeri. Dalam menjalankan pelayanan maupun mengembangkan perkeretaapian, kami menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama,” ujar Bobby.

Direktur Utama PT INKA Bambang Jatmika dalam kesempatan yang sama menyatakan INKA siap mendukung peningkatan pelayanan KAI melalui penyediaan sarana yang mengutamakan keselamatan dan keandalan.

Rentang sejarah Fajar dan Senja Utama Solo dengan demikian memperlihatkan perubahan yang lebih luas dalam industri perkeretaapian Indonesia: dari penggunaan rangkaian produksi luar negeri pada masa lalu menuju sarana yang dikembangkan dan diproduksi industri nasional.

Penumpang Fajar Utama Solo Naik 7,65 Persen

Transformasi sarana berjalan beriringan dengan permintaan perjalanan yang masih terjaga.

Berdasarkan data KAI, Fajar Utama Solo melayani 148.669 pelanggan sepanjang Januari–Agustus 2026. Angka tersebut meningkat 7,65 persen dibandingkan 138.102 pelanggan pada periode yang sama tahun 2025.

Jumlah pelanggan tercatat 17.540 orang pada Januari, 14.036 pada Februari, 21.068 pada Maret, 18.049 pada April, 18.995 pada Mei, 20.335 pada Juni, 19.656 pada Juli, dan 18.990 pelanggan pada Agustus.

Maret menjadi bulan dengan jumlah pelanggan tertinggi sepanjang delapan bulan pertama 2026, yakni 21.068 orang. Secara kumulatif terdapat tambahan 10.567 pelanggan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka tersebut perlu dibaca secara spesifik karena data 148.669 pelanggan merupakan volume Fajar Utama Solo, bukan gabungan penumpang Fajar Utama Solo dan Senja Utama Solo.

Pertumbuhan itu memberi konteks baru terhadap perjalanan layanan yang akarnya telah ada sejak 1978. Nama, jadwal, kelas pelayanan, stasiun terminus, hingga rangkaian telah berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi koridor Jakarta–Surakarta tetap menjadi bagian dari mobilitas masyarakat.

Hampir 48 tahun setelah Senja Utama Solo pertama kali berangkat dengan kereta bisnis Goša, perjalanan itu kini memasuki era Stainless Steel New Generation buatan Indonesia.

Dari kereta Yugoslavia, fase couchette pada 1990-an, lahirnya identitas Fajar dan Senja, hingga penggunaan rangkaian produksi INKA, perjalanan kereta ini juga merekam perubahan pelayanan kereta api antarkota Indonesia selama hampir lima dekade.

“Sejarah panjang Fajar dan Senja Utama Solo terus berlanjut melalui pelanggan yang masih memilih layanan ini hingga sekarang. KAI akan menjaga identitas historisnya sambil terus mengembangkan kualitas perjalanan sesuai kebutuhan pelanggan,” pungkas Anne.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Senja Utama Solo Fajar Utama Solo kereta api indonesia pt inka Stainless Steel New Generation