Hampir Seabad Kereta Makan Indonesia, dari RESTORKA hingga Prama-Prami

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 11:02 WIB
Prami KAI Services melayani makanan kepada pelanggan di dalam kereta. Pelayanan konsumsi yang dahulu berpusat di kereta restorasi kini dapat menjangkau penumpang di sepanjang rangkaian. (KAI Services)
Prami KAI Services melayani makanan kepada pelanggan di dalam kereta. Pelayanan konsumsi yang dahulu berpusat di kereta restorasi kini dapat menjangkau penumpang di sepanjang rangkaian. (KAI Services)

RADAR BANYUWANGI - Jauh sebelum prama-prami berjalan menyusuri rangkaian menawarkan makanan dan minuman, penumpang kereta api di Indonesia sudah mengenal layanan restoran di atas rel.

Jejaknya dapat ditarik hingga dekade 1930-an. Catatan sejarah resmi KAI Services menyebut restoran kereta api dibentuk pada masa Pemerintah Hindia Belanda untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum penumpang selama perjalanan.

Lebih dari sembilan dekade kemudian, kebutuhan itu tetap ada. Yang berubah adalah cara pelayanan diberikan, orang-orang yang melayani, menu yang disajikan, sampai rupa kereta makan itu sendiri.

Dalam perjalanan panjang tersebut muncul nama RESTORKA, minuman Es Siripit, Nasi Goreng Parahyangan yang kemudian melegenda, pelayan restorasi, prama-prami, hingga kereta makan Stainless Steel New Generation dengan interior yang jauh berbeda dari pendahulunya.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan perubahan tersebut berjalan bersama perkembangan sarana dan kebutuhan masyarakat.

“Pelayanan di dalam kereta memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Bermula dari kebutuhan menyediakan makanan dan minuman selama perjalanan, bentuk pelayanan terus berkembang bersama perubahan sarana dan kebutuhan pelanggan,” ujar Anne.

Ketika RESTORKA Mengelola Restoran di Atas Rel

Salah satu titik penting perjalanan itu terjadi ketika pengelolaan restoran kereta semakin terstruktur pada masa Perusahaan Jawatan Kereta Api atau PJKA.

KAI Services mencatat RESTORKA mulai berada dalam lingkungan Balai Besar PJKA pada 1971 dan berkantor di Jalan Stasiun Timur No. 6 Bandung. Pada masa awal tersebut, layanan yang tercatat bahkan masih sederhana, sebuah minuman bernama Es Siripit.

Setahun kemudian, kedudukan RESTORKA menjadi lebih jelas. Berdasarkan Surat Keputusan Direksi PJKA Nomor 4805/SK/72 tanggal 5 Desember 1972, RESTORKA menjadi unit khusus dalam struktur PJKA untuk penyelenggaraan dan pengelolaan restoran kereta api.

Periode tersebut juga melahirkan salah satu cerita kuliner paling panjang dalam perjalanan kereta Indonesia, yakni Nasi Goreng Parahyangan.

Nasi Goreng yang Membuat Penumpang Bernostalgia

Nama Nasi Goreng Parahyangan melekat pada KA Parahyangan yang selama puluhan tahun menghubungkan Jakarta dan Bandung.

KAI Services memasukkan hidangan tersebut dalam catatan sejarah RESTORKA sebagai salah satu menu legendaris.

Jejaknya tidak hanya berada dalam arsip perusahaan. Dalam wawancara dengan KompasTravel pada 2017, Totok Suryono, yang pernah memimpin PT Reska Multi Usaha, mengingat kuatnya hubungan penumpang dengan hidangan tersebut.

“Nasi Goreng Parahyangan itu sangat melegenda. Peminatnya sangat banyak,” kata Totok.

Kompas mencatat menu tersebut selama bertahun-tahun menjadi bagian dari pengalaman penumpang KA Parahyangan. Ketika kemudian dihadirkan kembali, salah satu daya tariknya justru berasal dari nostalgia pelanggan lama terhadap perjalanan Jakarta–Bandung.

Di situlah makanan di dalam kereta memperoleh makna yang lebih luas daripada sekadar pengganjal lapar.

Ada penumpang yang mengingat perjalanan karena stasiunnya, pemandangan dari jendela, atau kereta yang digunakan. Ada pula yang mengingatnya melalui aroma dan rasa makanan yang disantap ketika kereta sedang melaju.

“Kalau kita melihat perjalanan tersebut, makanan ternyata mempunyai tempat tersendiri dalam sejarah kereta api,” kata Anne.

Jejak Nasi Goreng Parahyangan masih bertahan. Pada 2026, KAI Services masih memasukkan Nasi Goreng Parahyangan Legend sebagai salah satu menu Kuliner Kereta.

Dari Pelayan Restorasi hingga Prama-Prami

Transformasi juga terjadi pada orang-orang yang bekerja di dalam rangkaian.

Pada masa awal, pelayanan konsumsi berpusat pada kereta restorasi atau kereta makan. Petugas restorasi melayani kebutuhan makan dan minum penumpang dari ruang tersebut.

Dalam perkembangannya, pelayanan bergerak semakin dekat ke tempat duduk penumpang. Pramugara dan pramugari kereta api kemudian menjadi bagian dari layanan perjalanan dan kini lebih dikenal dengan sebutan prama dan prami.

Pekerjaan mereka tidak sekadar membawa makanan. KAI Services masih memberikan pelatihan khusus mengenai hospitality, pengetahuan produk, peralatan makan, penyajian makanan, hingga penanganan masukan pelanggan.

Pada Januari 2026, misalnya, 11 prama-prami dari Jakarta, Surabaya, Solo, dan Yogyakarta mengikuti pelatihan pelayanan rangkaian Compartment. Materinya meliputi pengenalan menu, cara penyajian, standar gramasi hingga kelengkapan kondimen.

Penampilan petugas juga berubah bersama identitas perusahaan.

Pada Hari Batik Nasional 2025, prama-prami KAI Services mengenakan batik karya Anne Avantie dengan motif Sawunggaling dan Truntum. Sawunggaling disebut melambangkan kekuatan dan keteguhan, sedangkan Truntum merepresentasikan cinta yang tulus dan konsisten.

“Batik adalah identitas bangsa sekaligus kebanggaan korporasi kami,” kata Manager Corporate Communication KAI Services Nyoman Suardhita ketika itu.

Perubahan seragam menjadi bagian yang mudah terlihat. Namun, perubahan yang lebih mendasar terjadi pada cara pelayanan berlangsung: dari penumpang yang mendatangi ruang restorasi menjadi pelayanan yang dapat bergerak menyusuri rangkaian.

Kereta Makan Lama Tidak Langsung Hilang

Hampir satu abad setelah layanan restoran kereta mulai dikenal, kereta makan tetap menjadi bagian dari perjalanan kereta jarak jauh.

Namun, kereta makan yang ditemui penumpang hari ini tidak semuanya berasal dari generasi yang sama.

KAI menjalankan pembaruan dengan dua pendekatan sekaligus. Kereta baru didatangkan melalui program pengadaan, sementara sejumlah kereta makan lama yang masih dapat digunakan ditingkatkan melalui modifikasi.

Salah satunya dilakukan terhadap Kereta Makan M1 di Balai Yasa Tegal.

Sepanjang 2024-2025, sebanyak 17 Kereta Makan M1 selesai dimodifikasi, terdiri atas empat unit pada 2024 dan 13 unit pada 2025. Seluruh unit tersebut kemudian kembali beroperasi. Pada 2026, sebanyak 10 unit lainnya masuk proses pengerjaan.

Pekerjaannya tidak sebatas mempercantik interior. Pemeriksaan dilakukan terhadap rangka dasar, sistem roda, pengereman, kelistrikan, pencahayaan, tata ruang, hingga kelengkapan fasilitas pelanggan. Kereta yang selesai dikerjakan juga harus melewati pemeriksaan kualitas dan pengujian fungsi sebelum digunakan.

Hasil modifikasi tersebut telah digunakan bukan hanya di Jawa. Salah satunya hadir pada KA Sindang Marga relasi Kertapati-Lubuklinggau pulang-pergi di Sumatra Selatan.

“Kereta Makan M1 memiliki fungsi penting dalam perjalanan jarak jauh,” kata Anne Purba dalam keterangan yang dikutip RRI pada Juni 2026.

Menurut Anne, ruang tersebut tidak hanya menjadi tempat memperoleh makanan dan minuman, tetapi juga dapat digunakan penumpang untuk beristirahat sejenak dan menikmati suasana perjalanan.

Peran itu bahkan mulai melampaui fungsi makan. Pada Juli 2026, misalnya, KAI menggunakan kereta makan di 14 perjalanan sebagai ruang menonton pertandingan sepak bola bersama. KAI menyebut kereta makan semakin berfungsi sebagai ruang bersantap, berinteraksi, dan menikmati aktivitas tematik selama perjalanan.

Modernisasi, dengan demikian, tidak selalu berarti semua sarana lama langsung diganti.

“Modernisasi tidak selalu berarti mengganti sarana lama dengan yang baru. KAI juga meningkatkan sarana yang masih laik melalui program modifikasi,” ujar Anne.

Generasi Baru Kereta Makan Mulai Mengisi Rangkaian

Sementara kereta lama dimodifikasi, generasi baru terus berdatangan.

KAI dan PT Industri Kereta Api atau INKA menandatangani kontrak pengadaan 612 unit kereta Stainless Steel New Generation pada 9 Maret 2023 di Banyuwangi.

Data KAI mengenai program pengadaan tersebut mencakup 297 kereta eksekutif, 199 kereta ekonomi, 57 kereta makan, 57 kereta pembangkit, dan dua kereta bagasi.

Angka 57 kereta makan itu merupakan jumlah dalam program pengadaan, bukan jumlah seluruh kereta makan yang dimiliki KAI dan bukan berarti semuanya sudah beroperasi.

Produksi, pengujian, serah terima, dan pengoperasiannya berlangsung bertahap.

Salah satu wajah pertama generasi baru itu muncul pada KA Argo Dwipangga. Rangkaian New Generation yang mulai beroperasi pada 13 Desember 2023 membawa tujuh kereta eksekutif, tiga kereta luxury, satu kereta makan dan satu kereta pembangkit.

“Kami bangga atas diresmikannya operasional kereta Argo Dwipangga New Generation,” kata Senior Manager Humas dan Kantor Perwakilan INKA Agung Dwi Cahyono.

Perubahan terlihat bukan hanya pada kereta penumpang. INKA menyebut interior kereta makan New Generation menggunakan aksen kayu, sementara rangkaiannya dilengkapi sejumlah fitur seperti pintu elektrik otomatis, Passenger Information Display System, CCTV, USB charging, serta kaca tempered double glass.

Pada Januari 2026, kereta makan SSNG juga menjadi bagian dari susunan KA Gajayana. Satu rangkaiannya terdiri antara lain dari delapan kereta eksekutif SSNG, satu Kereta Makan M1 SSNG, satu kereta Luxury Generasi Kedua dan satu kereta pembangkit SSNG.

“Modernisasi sarana menjadi elemen penting dalam menjaga kualitas layanan,” kata Anne ketika KAI memperkenalkan penggunaan rangkaian baru tersebut.

Pembaruan terus berjalan.

Dalam laporan resmi KAI tertanggal 27 Juli 2026, program replacement 2023-2027 mencakup 612 unit kereta SSNG yang dirangkai menjadi 56 rangkaian dengan nilai kontrak sekitar Rp5,5 triliun. Saat itu 40 rangkaian telah diserahterimakan kepada KAI, 39 di antaranya sudah beroperasi, sedangkan satu rangkaian masih dalam persiapan operasional.

Artinya, penumpang pada masa sekarang dapat menjumpai karakter kereta makan yang berbeda bergantung pada rangkaian yang dinaiki: kereta makan generasi terdahulu yang masih beroperasi, M1 hasil modifikasi, atau kereta makan Stainless Steel New Generation.

Dari Es Siripit ke Kuliner Kereta

Perjalanan panjang kereta makan juga dapat dibaca melalui isi dapurnya.

Pada awal RESTORKA tercatat nama Es Siripit. Kemudian muncul Nasi Goreng Parahyangan yang menjadi bagian dari memori perjalanan. Kini pilihan makanan dan minuman jauh lebih beragam.

Layanan konsumsi tersebut dikelola KAI Services melalui Kuliner Kereta.

Selama Ramadan 2026, misalnya, tersedia Buko Pandan, Bubur Kacang Hijau, Kolak Pisang, kurma hingga gorengan untuk berbuka. Menu reguler saat itu mencakup Nasi Goreng Parahyangan Legend, Nasi Sei Sapi, dan Nasi Sapi Lada Hitam.

Perkembangan menu terus berlangsung. Pada KAI Expo September 2026, KAI Services menampilkan sejumlah produk Kuliner Kereta yang disebut biasa ditemui di kereta makan, di antaranya Bakso Enak, Tekwan, Sei Sapi dan Cuank Enak, bersama minuman seperti teh premium, wedang uwuh, cokelat, matcha, dan cold brew.

Cara memperolehnya pun berbeda dari masa RESTORKA.

Penumpang sekarang tidak harus selalu mendatangi kereta makan. Prama-prami dapat menawarkan makanan dan minuman di sepanjang rangkaian, sementara pemesanan tertentu juga dapat dilakukan melalui Railfood di Access by KAI.

“Jadi penumpang tidak perlu repot memesan saat perjalanan kereta dan produk pasti diantarkan langsung ke kursi penumpang,” kata Vice President Corporate Secretary KAI Services Ixfan Hendri Wintoko.

Di sinilah perjalanan hampir satu abad itu terlihat paling jelas.

Dulu, penumpang mendatangi restoran atau kereta makan untuk mendapatkan konsumsi. Sekarang pelayanan dapat datang langsung ke tempat duduk, sementara kereta makan tetap berfungsi sebagai dapur, ruang penyajian, tempat bersantap, hingga ruang interaksi selama perjalanan.

Satu Benang Merah Sejak 1930-an

Jarak antara Es Siripit dan kereta makan Stainless Steel New Generation membentang lebih dari sembilan dekade.

Di tengahnya terdapat RESTORKA, Nasi Goreng Parahyangan, berbagai generasi kereta makan, perubahan pelayan restorasi menjadi prama-prami, serta lahirnya PT Reska Multi Usaha atau KAI Services pada 2003. Saat ini salah satu bisnis utama perusahaan itu tetap On Board Services yang mencakup pelayanan di dalam kereta.

Teknologi berubah. Interior berubah. Seragam berubah. Menu berubah. Cara memesan makanan juga berubah.

Namun alasan mengapa layanan tersebut muncul pada 1930-an masih mudah dikenali penumpang sekarang: perjalanan selama berjam-jam membutuhkan makanan, minuman dan pelayanan yang membuat waktu di dalam kereta lebih nyaman.

“Banyak hal telah berubah. Sarana semakin modern, seragam petugas berkembang, pilihan makanan semakin beragam, dan cara pelanggan mendapatkan pelayanan juga semakin mudah,” ujar Anne.

Di balik perubahan teknologi dan rangkaian, ada pula sisi manusia yang terus hadir.

“Ketika membicarakan sejarah kereta api, kita sering mengingat lokomotif, stasiun, atau jalurnya,” kata Anne.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
sejarah kereta api Indonesia kereta makan Indonesia RESTORKA Nasi Goreng Parahyangan KAI Services