159 Tahun Kereta Api Indonesia, Menyusuri Jalur Pertama Semarang–Tanggung

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 07:03 WIB
Stasiun Tanggung di Grobogan menjadi salah satu titik penting dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Jalur Semarang–Tanggung sepanjang sekitar 25 kilometer mulai beroperasi pada 10 Agustus 1867. Foto: Fajar Muhammad/Wikimedia Commons)
Stasiun Tanggung di Grobogan menjadi salah satu titik penting dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Jalur Semarang–Tanggung sepanjang sekitar 25 kilometer mulai beroperasi pada 10 Agustus 1867. (Fajar Muhammad/Wikimedia Commons)

RADAR BANYUWANGI – Peluit kondektur terdengar. Tak lama kemudian, lokomotif membunyikan klakson. Kereta Luar Biasa (KLB) perlahan meninggalkan Stasiun Semarang Tawang, Jumat (25/9).

Pagi itu, kereta tidak sekadar membawa penumpang menuju Tanggung dan Kedungjati, Kabupaten Grobogan. Perjalanan tersebut mengajak peserta menelusuri jejak awal perkeretaapian di Indonesia.

KLB Vintage yang dijalankan dalam rangka KAI Heritage Week 2026 berangkat dari Semarang Tawang sekitar pukul 09.47 WIB. Rangkaiannya dibuat bernuansa kereta era 1980-an.

Lokomotif, kereta pembangkit, kereta makan, serta tiga kereta eksekutif tampil dengan corak klasik. Dalam rangkaian itu juga terdapat kereta Panoramic, kereta wisata Retro, dan kereta wisata Jaka Lelana.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin mengatakan perjalanan heritage tersebut bukan sekadar nostalgia.

”Kita punya tanggung jawab merawat sejarah kepada generasi,” kata Bobby.

Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-81 KAI yang mengusung tema Wonderful Journey. Menurut Bobby, perjalanan kereta api Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah, warisan budaya, kebudayaan, dan perjalanan bangsa.

Bermula dari Jalur 25 Kilometer

Lintasan yang dilalui KLB tersebut mempunyai tempat khusus dalam sejarah transportasi Indonesia.

Sejarah perkeretaapian bermula dari pembangunan jalur Semarang–Tanggung sepanjang sekitar 25 kilometer. Pembangunannya dimulai pada 17 Juni 1864 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Tiga tahun kemudian, tepatnya 10 Agustus 1867, jalur tersebut resmi beroperasi. Itulah lintasan kereta api pertama yang beroperasi di Indonesia.

Artinya, pada 2026 perjalanan perkeretaapian Indonesia telah mencapai usia 159 tahun.

”159 tahun lalu sejarah perkeretaapian Indonesia dimulai dari lintasan Semarang–Tanggung,” ujar Bobby.

Pada masa awal, kereta tidak hanya mengangkut penumpang. Hasil bumi, ternak, pedati, hingga gerobak turut dibawa dengan kereta.

Perjalanan Semarang–Tanggung saat itu memakan waktu sekitar satu jam. Kereta dijalankan dua kali sehari.

Perjalanan pagi berangkat dari Semarang sekitar pukul 07.00 dan tiba di Tanggung pukul 08.00. Sementara itu, perjalanan dari Tanggung dimulai sekitar pukul 16.00 dan tiba di Semarang satu jam kemudian.

Ketua Indonesia Railway Preservation Society (IRPS) Ricki Dwi Agusti mengatakan pembangunan jalur tersebut pada awalnya berkaitan erat dengan kebutuhan angkutan hasil bumi.

”Semarang–Tanggung itu dulu dibangun untuk komoditas rempah-rempah dan berbagai hasil bumi,” ujar Ricki.

Menurut dia, jalur tersebut kemudian menjadi titik awal berkembangnya jaringan kereta api ke berbagai wilayah di Jawa.

Bukan dari Semarang Tawang

Ada satu hal yang kerap luput dalam cerita tentang jalur kereta api pertama tersebut.

Meski KAI Heritage Week 2026 dimulai dari Semarang Tawang, kereta pertama pada 1867 bukan berangkat dari stasiun itu.

Titik awalnya berada di Stasiun Samarang milik NIS di kawasan Kemijen atau Tambaksari, Semarang.

Stasiun Semarang Tawang baru hadir beberapa dekade kemudian. Pembangunannya dimulai pada 1911 dan stasiun tersebut mulai beroperasi pada 1914.

Tawang kemudian berkembang menjadi salah satu simpul utama transportasi kereta api di Jawa Tengah.

Sepanjang 2025, Stasiun Semarang Tawang mencatat lebih dari 3,8 juta aktivitas naik dan turun penumpang. Pada semester I 2026, angkanya telah melampaui 2,15 juta aktivitas.

Rata-rata terdapat 34 perjalanan kereta api yang dilayani setiap hari.

Bangunan bersejarah itu kini juga telah direvitalisasi. Sejumlah elemen lama dipertahankan dan dikembalikan dengan merujuk dokumentasi historis.

KAI saat ini mengelola lebih dari 600 bangunan cagar budaya. Sekitar 120 bangunan di antaranya masuk program revitalisasi dan penataan.

Perjalanan dari Tawang menuju Tanggung pun seperti mempertemukan dua zaman. Tawang mewakili perkembangan perkeretaapian pada awal abad ke-20. Sementara itu, lintasan menuju Tanggung membawa cerita kembali ke 1867.

Tanggung, Saksi Perjalanan Pertama

Sekitar pukul 10.15 WIB, KLB Vintage tiba di Stasiun Tanggung, Kecamatan Tanggungharjo, Grobogan.

Peserta turun untuk melihat lebih dekat salah satu lokasi penting dalam sejarah awal kereta api Indonesia.

Pada 10 Agustus 1867, Tanggung menjadi ujung perjalanan pertama kereta dari Semarang.

”Stasiun Tanggung menjadi pengingat bagaimana perjalanan kereta api Indonesia dimulai sejak 1867,” kata Bobby.

Perkembangan jaringan tidak berhenti di Tanggung.

Setahun setelah jalur Semarang–Tanggung dibuka, rel diperpanjang menuju Kedungjati. Ruas Tanggung–Kedungjati mulai digunakan pada 19 Juli 1868.

Jaringan kemudian terus bergerak ke arah Surakarta. Ruas Kedungjati–Solo mulai dibuka pada 10 Februari 1870.

Dari jalur sepanjang sekitar 25 kilometer, jaringan kereta perlahan berkembang menghubungkan wilayah pesisir dengan kawasan pedalaman Jawa.

Aktivitas angkutan barang pun meningkat. Pada 1870, jaringan NIS dari Solo menuju Semarang antara lain mengangkut ribuan ton gula dan kopi.

Kereta api saat itu tidak hanya mengubah cara orang bepergian. Moda transportasi tersebut juga mengubah pola distribusi komoditas dan hubungan ekonomi antardaerah.

Kedungjati Jadi Titik Penting

KLB meninggalkan Tanggung sekitar pukul 10.24 WIB. Sekitar 22 menit kemudian, rangkaian tiba di Stasiun Kedungjati.

Stasiun itu mempunyai posisi strategis dalam perkembangan jaringan NIS.

Dari Kedungjati, jalur berkembang menuju Surakarta. Dari titik yang sama, rel juga dibangun menuju Ambarawa.

Lintas Kedungjati–Ambarawa mulai digunakan pada 21 Mei 1873. Jalur itu kemudian menjadi bagian penting dalam jaringan kereta api di Jawa Tengah.

Jejaknya masih dapat ditemukan hingga sekarang. Antara lain, melalui Stasiun Tuntang dan bekas Stasiun Willem I yang kini menjadi Museum Kereta Api Ambarawa.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pengenalan jalur bersejarah penting agar masyarakat mengetahui perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia.

”Masyarakat dapat mengenal lebih dekat perjalanan panjang kereta api Indonesia,” ujarnya.

Kedungjati pun bukan semata-mata stasiun bersejarah yang tersisa sebagai monumen.

Stasiun itu masih melayani perjalanan masyarakat. Selama Januari–Agustus 2026, tercatat 13.132 aktivitas penumpang di Stasiun Kedungjati.

Rinciannya, 6.700 penumpang naik dan 6.432 penumpang turun.

Lebih dari satu setengah abad setelah menjadi bagian dari pengembangan jaringan rel di Jawa, Kedungjati masih menjalankan fungsi transportasinya.

Sejarah yang Bisa Dialami

Perjalanan heritage memberi pengalaman berbeda bagi peserta. Sejarah tidak hanya dibaca melalui arsip atau dilihat dari foto lama.

Peserta melintasi relnya. Mereka berhenti di stasiunnya dan melihat langsung bangunan yang menjadi bagian dari perjalanan panjang kereta api.

Sepanjang perjalanan, sejumlah pencinta kereta terlihat mengabadikan KLB Vintage ketika rangkaian melintas.

Peserta juga datang dari berbagai daerah. Ada yang berasal dari Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, hingga Cirebon.

Salah satunya Muhammad Rizka Aulia, pelajar berusia 13 tahun asal Cirebon. Dia mengikuti perjalanan bersama komunitas IRPS.

Bagi Rizka, perjalanan Semarang–Tanggung–Kedungjati menjadi pengalaman pertama menyusuri lintasan bersejarah tersebut.

Kehadiran generasi muda dalam perjalanan itu sejalan dengan pesan yang disampaikan Bobby.

Menurut dia, modernisasi kereta api tidak boleh membuat sejarah ditinggalkan. Peninggalan masa lalu justru perlu dirawat dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Sebelum KAI Heritage Week, perusahaan juga menggelar kegiatan KAI Explore di kawasan Kedungjati–Tuntang. Kegiatan tersebut melibatkan penulis, kreator konten, pencinta sejarah, dan komunitas perkeretaapian.

Kawasan heritage dengan demikian tidak hanya diposisikan sebagai aset lama, tetapi juga sebagai ruang belajar.

Dari 25 Kilometer Menjadi Jaringan Nasional

Perjalanan Semarang–Tanggung pada 1867 hanya sekitar 25 kilometer.

Namun, dari lintasan pendek itulah sejarah panjang perkeretaapian Indonesia dimulai.

Dari Tanggung, rel berlanjut ke Kedungjati. Dari Kedungjati, jaringan berkembang menuju Surakarta dan Ambarawa. Perkembangan berikutnya membawa kereta api menjangkau semakin banyak wilayah.

Sebanyak 159 tahun kemudian, KLB kembali menyusuri sebagian lintasan tersebut.

Tentu dengan wajah yang sama sekali berbeda.

Jika kereta pada masa lalu membawa hasil bumi dan berbagai komoditas, rangkaian pada September 2026 membawa masyarakat, komunitas, dan pencinta kereta untuk melihat kembali titik awal sejarah itu.

”KAI akan terus menjaga nilai sejarah tersebut sekaligus menghadirkan layanan kereta api yang semakin melayani,” ujar Bobby.

Kereta telah berubah. Teknologi berkembang. Stasiun terus berbenah.

Namun, rel menuju Tanggung dan Kedungjati masih menyimpan cerita tentang tempat perjalanan kereta api Indonesia bermula.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
sejarah kereta api Indonesia Stasiun Kedungjati KAI Heritage Week 2026 jalur Semarang Tanggung kereta api pertama Indonesia