KRL Jabodetabek Tembus 1,1 Juta Penumpang per Hari, Penambahan Armada Mendesak

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 14:32 WIB
Penumpang memadati peron Stasiun Manggarai, Jakarta. KAI menyebut rata-rata pengguna KRL Jabodetabek kini mencapai sekitar 1,1 juta orang per hari. (ANTARA)
Penumpang memadati peron Stasiun Manggarai, Jakarta. KAI menyebut rata-rata pengguna KRL Jabodetabek kini mencapai sekitar 1,1 juta orang per hari. (ANTARA)

RADAR BANYUWANGI – Kepadatan KRL Jabodetabek semakin menjadi perhatian. Jumlah penumpang kini rata-rata mencapai 1,1 juta orang per hari. Bahkan, pada periode puncak, angkanya bisa menembus 1,3 juta penumpang.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Bobby Rasyidin mengungkapkan angka tersebut dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (23/9).

“Pada saat ini itu rata-rata 1,1 juta penumpang per harinya, termasuk dengan weekend, dengan puncak penumpang itu 1,3 juta penumpang per hari,” kata Bobby.

Tingginya jumlah pengguna juga tergambar dari data KAI. Sepanjang Januari–Agustus 2026, Commuter Line Jabodetabek telah melayani sekitar 277,2 juta pengguna.

Kondisi tersebut mendapat perhatian Anggota Komisi VI DPR RI Rivqy Abdul Halim. Dia mendorong pemerintah dan KAI segera menambah kapasitas armada KRL Jabodetabek.

“Kami melihat kondisi saat ini. KRL sudah amat sangat padat, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja. Kondisi ini tentu tidak nyaman bagi masyarakat,” kata Rivqy dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (25/9).

Menurut dia, KRL telah menjadi salah satu tulang punggung mobilitas masyarakat Jabodetabek. Kereta komuter menghubungkan kawasan permukiman dengan pusat pekerjaan, pendidikan, perdagangan, hingga pelayanan publik.

Karena itu, peningkatan jumlah pengguna harus diikuti penambahan kapasitas angkut.

“Kepadatan tidak bisa terus dianggap sebagai konsekuensi yang harus diterima masyarakat. Negara harus hadir memastikan pertumbuhan jumlah penumpang diikuti pertumbuhan kapasitas layanan,” tegasnya.

KAI Usulkan 23 Trainset dari Jepang

Kebutuhan tambahan armada juga dibahas dalam RDP KAI dengan Komisi VI DPR. Salah satu opsi yang muncul adalah pengadaan 23 trainset KRL bukan baru dari Jepang.

Rinciannya, tujuh trainset dengan formasi 12 kereta atau SF12 dan 16 trainset dengan formasi delapan kereta atau SF8.

Perbedaan formasi itu disesuaikan dengan kondisi infrastruktur. Sebab, belum semua peron dapat melayani rangkaian yang terdiri atas 12 kereta.

KAI memosisikan pengadaan KRL bukan baru tersebut sebagai solusi transisi. Langkah itu ditempuh sembari meningkatkan kapasitas produksi kereta di dalam negeri.

“Ini sebagai transisi kita,” ujar Bobby.

Tambahan armada juga dibutuhkan untuk menggantikan sejumlah rangkaian yang usianya telah lebih dari 40 tahun. Rangkaian dari Jepang tersebut direncanakan digunakan selama sekitar 10 tahun pada masa transisi.

Dalam kesimpulan RDP pada 23 September 2026, Komisi VI DPR mendukung pengadaan rangkaian bukan baru sebagai salah satu solusi transisi. Namun, KAI tetap diminta memperkuat industri perkeretaapian nasional dan meningkatkan sinergi dengan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA.

Meski demikian, rencana pengadaan tersebut belum menjadi keputusan final pemerintah.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan Kementerian Perhubungan belum menerima pengajuan dari KAI terkait rencana tersebut.

“KAI belum masukin ke saya,” kata Dudy, Kamis (24/9).

Saat ditanya mengenai arahan untuk mengutamakan produk dalam negeri, Dudy menegaskan pemerintah akan mengikuti kebijakan Presiden.

“Ya, tentunya apa yang menjadi harapan Presiden harus kita laksanakan,” ujarnya.

Rivqy meminta pemerintah berhati-hati apabila opsi impor akhirnya dipilih. Menurut dia, keputusan tidak boleh hanya didasarkan pada kecepatan mendatangkan rangkaian tambahan.

“Kalau pemerintah memutuskan impor KRL, jangan sekadar berpikir bagaimana kereta bisa cepat datang. Hal yang harus dipastikan adalah apakah kereta tersebut benar-benar aman, laik operasi, sesuai dengan kondisi infrastruktur kita, dan memberikan kenyamanan kepada penumpang,” katanya.

Dia menilai sejumlah aspek harus diperhitungkan secara menyeluruh. Mulai keselamatan dan kelaikan teknis, kesesuaian dengan infrastruktur dan sistem persinyalan, ketersediaan suku cadang, hingga kemampuan perawatan.

Keputusan impor, lanjut Rivqy, juga tidak boleh melemahkan industri perkeretaapian nasional.

Tujuh Trainset KRL INKA Jalani Perawatan

Di tengah tingginya kebutuhan armada, tujuh trainset KRL iE305/CLI-225 produksi INKA menjalani perawatan intensif pada September 2026.

Perawatan tersebut sempat membuat KAI Commuter menyesuaikan perjalanan mulai 7 September. Sebanyak 17 perjalanan terdampak. Jumlah perjalanan harian pun sempat turun dari 1.065 menjadi 1.048 perjalanan.

KAI menyatakan pemeriksaan dilakukan terhadap sistem, komponen teknis, serta aspek keselamatan sebelum rangkaian kembali digunakan untuk melayani penumpang.

“KAI memastikan setiap proses perawatan sarana dilakukan sesuai standar keselamatan dan keandalan yang berlaku,” kata Bobby.

Pada 19 September, satu rangkaian iE305 telah menyelesaikan pemeriksaan menyeluruh atau general check-up.

“Satu trainset telah menyelesaikan seluruh tahapan General Check Up dan sudah kami serahkan kembali kepada KAI Commuter untuk digunakan dalam pelayanan,” kata Senior Manager Corporate Communications and Representative Office INKA Nanang Agung Rohmandiyas.

Kembalinya satu trainset tersebut membuat KAI Commuter dapat mengoperasikan kembali empat jadwal perjalanan Commuter Line Bogor.

Dengan rekayasa sarana yang dilakukan, jumlah perjalanan KRL Jabodetabek kembali mencapai 1.065 perjalanan per hari. Sementara itu, perawatan enam trainset iE305 lainnya dilakukan secara bertahap.

Infrastruktur Ikut Ditingkatkan

Penambahan armada bukan satu-satunya langkah yang disiapkan KAI. Kapasitas infrastruktur juga akan ditingkatkan untuk mengantisipasi pertumbuhan penumpang.

KAI menyiapkan layanan KRL Jabodetabek agar mampu mengakomodasi sekitar 2 juta pengguna per hari.

Di Rangkasbitung Line atau Green Line, misalnya, KAI menambah lima gardu traksi serta meningkatkan kapasitas sembilan gardu lainnya.

Peningkatan tersebut ditargetkan membuat pengoperasian rangkaian SF12 semakin luas pada semester I 2027.

Sistem persinyalan juga akan ditingkatkan. Dengan pembenahan itu, jarak waktu antarkereta atau headway yang saat ini berkisar 10–15 menit ditargetkan dapat dipangkas menjadi sekitar 4–5 menit.

Sementara itu, di Bogor Line, KAI menyiapkan perubahan pola perjalanan Nambo Line melalui terminasi di Citayam. Langkah tersebut diproyeksikan membuka tambahan 22 slot perjalanan menuju Bogor.

KAI juga merencanakan pengembangan elektrifikasi dari Cikarang menuju Cikampek serta perluasan layanan dari Bogor ke arah Cigombong dan kawasan Lido.

Rivqy menilai berbagai langkah tersebut harus berjalan beriringan. Sebab, persoalan kepadatan KRL tidak cukup diselesaikan hanya dengan menambah jumlah kereta.

“Jadi, solusinya bukan sekadar menambah kereta. Kita harus membangun ekosistem transportasi KRL yang kapasitasnya memadai, aman, nyaman, tepat waktu, dan mampu mengantisipasi pertumbuhan penumpang ke depan,” ujarnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
penambahan armada KRL impor KRL Jepang penumpang krl kai commuter krl jabodetabek