Naik Lori Dresin, KAI Periksa Jalur Kediri–Tulungagung dan Kesiapan Petugas

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 14:19 WIB
Petugas KAI Daop 7 Madiun memeriksa jalur kereta api dalam kegiatan cek lintas Kediri–Tulungagung, Kamis (24/9). Pemeriksaan dilakukan untuk mengecek kondisi prasarana dan kesiapan petugas. (KAI)
Petugas KAI Daop 7 Madiun memeriksa jalur kereta api dalam kegiatan cek lintas Kediri–Tulungagung, Kamis (24/9). Pemeriksaan dilakukan untuk mengecek kondisi prasarana dan kesiapan petugas. (KAI)

RADAR BANYUWANGI - PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun mengecek jalur kereta api Kediri–Tulungagung, Kamis (24/9). Tak hanya kondisi rel dan prasarana, kesehatan petugas di sepanjang lintasan juga diperiksa.

Pengecekan dilakukan menggunakan lori dresin. Vice President KAI Daop 7 Madiun Ali Afandi memimpin langsung kegiatan tersebut bersama jajaran manajemen serta kepala unit pelaksana teknis (KUPT) wilayah Kediri dan Tulungagung.

Menurut Ali, pengecekan langsung diperlukan untuk melihat kondisi jalur, prasarana, dan kesiapan personel di lapangan.

”Cek lintas ini menjadi kesempatan bagi kami untuk melihat secara langsung kondisi jalur, prasarana, maupun kesiapan petugas di lapangan,” kata Ali.

Dia menegaskan, faktor manusia tak kalah penting dibandingkan dengan keandalan prasarana. Terutama bagi petugas yang terlibat langsung dalam operasional perjalanan kereta api.

”Keselamatan perjalanan kereta api tidak hanya ditentukan oleh kondisi sarana dan prasarana, tetapi juga oleh kesiapan dan kedisiplinan seluruh petugas,” ujarnya.

Dalam perjalanan dari Kediri menuju Tulungagung, manajemen mengecek sejumlah petugas operasional. Di antaranya, operator prasarana, petugas jaga perlintasan (PJL), pengawas peron (PAP), dan pengatur perjalanan kereta api (PPKA).

Kondisi kesehatan mereka juga diperiksa. Tim Klinik Mediska KAI dilibatkan dalam pengecekan tersebut.

Pemeriksaan meliputi tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, asam urat, kadar alkohol, hingga kadar oksigen dalam tubuh. Tujuannya, memastikan petugas dalam kondisi prima ketika menjalankan tugas yang berkaitan langsung dengan keselamatan perjalanan kereta api.

Manager Humas KAI Daop 7 Madiun Tohari menyebut kondisi fisik petugas menjadi salah satu faktor penting dalam operasional kereta api.

”Petugas di lapangan memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keselamatan perjalanan kereta api,” katanya.

Karena itu, pengecekan tidak cukup dilakukan terhadap rel dan fasilitas perkeretaapian. Kondisi personel juga harus mendapat perhatian.

”Selain memastikan keandalan sarana dan prasarana, kami juga perlu memastikan para petugas dalam kondisi sehat, siap, dan fokus dalam menjalankan tugasnya,” jelas Tohari.

Cek lintas tersebut sekaligus dimanfaatkan manajemen untuk berdialog langsung dengan petugas. Kondisi di lapangan dan potensi risiko yang dijumpai selama perjalanan dicatat untuk bahan evaluasi.

Setelah tiba di Tulungagung, kegiatan dilanjutkan dengan evaluasi bersama jajaran operasional wilayah Kediri dan Tulungagung. Pembahasan mencakup kondisi lapangan, potensi risiko, serta langkah perbaikan yang diperlukan.

”Bagi KAI, keselamatan bukan hanya sebuah prosedur, tetapi merupakan tanggung jawab yang harus dijaga bersama,” tegas Tohari.

Meski demikian, KAI belum memerinci hasil teknis pengecekan jalur Kediri–Tulungagung. Belum ada penjelasan mengenai ada atau tidaknya titik rel, wesel, persinyalan, perlintasan, maupun prasarana lain yang membutuhkan penanganan khusus.

Informasi yang dipublikasikan sejauh ini menyebut kondisi dan potensi risiko yang ditemukan selama pengecekan menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut.

Pengecekan menggunakan lori dresin bukan kali pertama dilakukan KAI Daop 7 Madiun. Pada Agustus lalu, Ali juga memimpin inspeksi lintas Madiun–Kertosono.

Kala itu, pemeriksaan mencakup jalan rel, jembatan, bangunan hikmat, perlintasan sebidang, geometri jalur, lebar rel, bantalan, wesel, hingga perangkat persinyalan.

”Keselamatan merupakan fondasi utama dalam operasional perkeretaapian,” kata Ali saat inspeksi tersebut.

Lintas Kediri–Tulungagung juga menjadi bagian dari jalur Commuter Line Dhoho. Dalam jadwal KAI Commuter, layanan tersebut melewati sejumlah stasiun di koridor itu. Di antaranya, Kediri, Ngadiluwih, Kras, Ngujang, dan Tulungagung.

Tingginya mobilitas penumpang membuat keandalan jalur tersebut penting. Pada 18–21 Desember 2025, misalnya, Commuter Line Dhoho mencatat 68.851 pengguna. Jumlah itu menjadi yang tertinggi di antara layanan KAI Commuter Wilayah 8 Surabaya pada periode tersebut.

Saat masa Angkutan Natal dan Tahun Baru 2025–2026, KAI Commuter mengoperasikan delapan perjalanan Dhoho per hari.

Vice President Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda ketika itu menyatakan kesiapan sarana, prasarana, dan personel menjadi bagian dari upaya menjaga pelayanan selama periode dengan mobilitas tinggi.

”KAI Commuter memastikan seluruh perjalanan Commuter Line Wilayah 8 Surabaya berjalan aman dan nyaman melalui kesiapan sarana, prasarana, serta petugas yang siaga,” ujar Karina.

Tohari menambahkan, pengawasan terhadap jalur dan petugas akan terus dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan perjalanan kereta api.

”Kami ingin memastikan setiap aspek yang berkaitan dengan keselamatan mendapatkan perhatian sehingga pelanggan dapat melakukan perjalanan dengan aman, nyaman, dan tenang,” katanya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Commuter Line Dhoho jalur Kediri Tulungagung inspeksi jalur kereta api kai daop 7 madiun Keselamatan Kereta Api