Dari KRL hingga Whoosh, Begini Perubahan Kereta Api Indonesia dalam 81 Tahun

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 13:57 WIB
Menjelang usia ke-81 pada 28 September 2026, perjalanan perkeretaapian Indonesia telah berkembang dari elektrifikasi KRL sejak 1925 hingga hadirnya kereta berkecepatan 350 kilometer per jam. (KAI)
Menjelang usia ke-81 pada 28 September 2026, perjalanan perkeretaapian Indonesia telah berkembang dari elektrifikasi KRL sejak 1925 hingga hadirnya kereta berkecepatan 350 kilometer per jam. (KAI)

RADAR BANYUWANGI - Kereta api Indonesia terus berubah. Dari angkutan antarkota, kini jaringan rel berkembang menjadi bagian penting mobilitas harian masyarakat. Ada KRL, kereta lokal, kereta bandara, LRT, hingga kereta cepat.

Perubahan itu semakin terlihat menjelang usia ke-81 PT Kereta Api Indonesia (KAI) pada 28 September 2026.

Sepanjang Januari-Agustus 2026, KAI Group telah melayani 351.602.397 pelanggan. Jumlah tersebut tumbuh 7,09 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 328.311.868 pelanggan.

KAI Commuter menjadi penyumbang terbesar dengan 277.272.682 pelanggan. Kereta api jarak jauh dan lokal yang dikelola KAI menyusul dengan 40.379.062 pelanggan.

Sementara itu, LRT Jabodebek melayani 21.809.797 pelanggan. Whoosh mencatat 4.078.168 pelanggan selama delapan bulan pertama 2026.

Sebanyak 317,7 juta pelanggan atau 90,29 persen dari total pengguna KAI Group memanfaatkan layanan yang mendapat dukungan pemerintah melalui skema public service obligation (PSO) dan layanan perintis.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kereta api tak lagi sebatas moda perjalanan antarkota. Rel kini menjadi bagian dari perjalanan rutin jutaan orang untuk bekerja, belajar, berwisata, hingga menjalankan aktivitas ekonomi.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan setiap layanan dalam ekosistem KAI memiliki fungsi berbeda, tetapi saling melengkapi.

“Setiap layanan mempunyai fungsi yang saling melengkapi,” kata Anne.

Integrasi itu terlihat di sejumlah simpul transportasi. Di Halim, misalnya, LRT Jabodebek terhubung dengan Whoosh. Sementara itu, kawasan Dukuh Atas mempertemukan Commuter Line, LRT Jabodebek, MRT Jakarta, KA Bandara, dan TransJakarta.

Di Bandung Raya, perjalanan Whoosh juga tersambung dengan KA Feeder dan jaringan kereta lainnya.

Berawal dari 28 September 1945

Tanggal 28 September menjadi tonggak penting perjalanan KAI.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, pengambilalihan aset strategis dari Jepang terjadi di berbagai daerah. Salah satunya di sektor perkeretaapian.

Pada 28 September 1945, para pekerja kereta api dan pemuda mengambil alih Balai Besar Kereta Api di Bandung. Bendera Merah Putih kemudian dikibarkan di kantor tersebut.

Peristiwa itu menjadi tonggak lahirnya Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI), cikal bakal KAI.

Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia. Pada 28 September 2026, KAI genap berusia 81 tahun.

“Kereta api memiliki cerita panjang bersama Indonesia,” ujar Anne.

Pada masa awal Republik, kereta api berperan penting sebagai penghubung antarkota dan antarwilayah. Jaringan rel juga menopang pergerakan masyarakat dan aktivitas ekonomi.

Namun, sebagian teknologi yang membentuk wajah perkeretaapian modern Indonesia ternyata sudah hadir jauh sebelum DKARI berdiri.

Kereta listrik sudah ada sejak 1925

Kereta listrik bukan teknologi baru di Indonesia.

Perjalanannya bahkan dimulai dua dekade sebelum Indonesia merdeka.

Pada 6 April 1925, kereta listrik pertama beroperasi di lintas Tanjung Priok–Meester Cornelis, kawasan yang kini dikenal sebagai Jatinegara.

Layanan tersebut ketika itu dioperasikan perusahaan kereta api negara Hindia Belanda, Staatsspoorwegen.

Artinya, elektrifikasi kereta di Indonesia telah berusia lebih dari satu abad.

Seratus tahun kemudian, KRL menjadi salah satu tulang punggung transportasi massal, terutama di kawasan perkotaan.

Pada 2025, KAI Commuter memperingati satu abad perjalanan KRL dengan menampilkan sejumlah rangkaian yang pernah menjadi bagian dari sejarah kereta komuter. Mulai lokomotif listrik ESS 3200 hingga generasi baru KRL produksi CRRC dan PT INKA.

Direktur Utama KAI Commuter Asdo Artriviyanto menyebut kehadiran sarana baru menjadi bukti perkembangan layanan tersebut.

“Kehadiran sarana KRL baru ini merupakan salah satu bukti dari perkembangan KRL yang menjelma sebagai transportasi andalan masyarakat,” ujar Asdo.

Skalanya memang besar.

Sepanjang Januari–Agustus 2026, KAI Commuter melayani 277.272.682 pelanggan. Angkanya meningkat 6,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 260.797.109 pelanggan.

Layanan komuter pun tak lagi hanya identik dengan Jabodetabek. Jaringannya berkembang ke sejumlah kawasan lain, termasuk Yogyakarta, Bandung Raya, dan Surabaya.

LRT Jabodebek, kereta tanpa masinis

Lompatan teknologi berikutnya datang pada 2023.

LRT Jabodebek mulai beroperasi pada 28 Agustus tahun itu. Moda tersebut membawa teknologi operasi otomatis ke jaringan transportasi perkotaan.

LRT Jabodebek menggunakan sistem Communication-Based Train Control (CBTC) dengan Grade of Automation Level 3 atau GoA3.

Teknologi itu memungkinkan kereta berjalan otomatis tanpa masinis. Pergerakan rangkaian dan jadwal operasi dikendalikan serta dipantau melalui Operation Control Center (OCC).

Meski tanpa masinis, petugas tetap berada di dalam rangkaian. Train attendant bertugas memberikan pelayanan kepada penumpang sekaligus menangani kondisi darurat.

Penggunanya terus bertambah.

Hingga 27 Agustus 2026, atau hampir tiga tahun sejak beroperasi, LRT Jabodebek telah melayani 75.937.674 pelanggan.

Jumlah pelanggan meningkat dari sekitar 4,56 juta pada 2023 menjadi 21,06 juta pada 2024. Pada 2025, angkanya kembali naik menjadi 28,82 juta.

“Selama tiga tahun, LRT Jabodebek telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat,” kata Anne.

Tren pertumbuhan berlanjut tahun ini.

Sepanjang Januari–Agustus 2026, LRT Jabodebek melayani 21.809.797 pelanggan. Naik 19,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Keberadaan LRT Jabodebek juga memperkuat integrasi transportasi di Jabodetabek. Penumpang bisa berpindah ke Whoosh di Halim. Di kawasan Dukuh Atas, perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan Commuter Line, MRT Jakarta, ataupun TransJakarta.

Whoosh dan era 350 km per jam

Tahun 2023 juga menjadi babak baru lain dalam sejarah kereta api Indonesia.

Whoosh diresmikan pada 2 Oktober 2023. Operasional komersial dimulai pada 17 Oktober 2023.

Layanan tersebut menjadi kereta cepat pertama di Indonesia sekaligus di Asia Tenggara.

Jalurnya membentang sekitar 142 kilometer untuk menghubungkan kawasan Jakarta dan Bandung.

Kecepatan operasinya mencapai 350 kilometer per jam. Perjalanan dengan kereta cepat di koridor Jakarta–Bandung dapat ditempuh sekitar 40–46 menit, bergantung pada relasi stasiun.

Saat peresmian, Presiden Joko Widodo menjelaskan nama layanan tersebut.

“Kereta cepat ini kita namakan Whoosh,” kata Jokowi.

Whoosh merupakan akronim dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat.

Jumlah penggunanya terus bertambah sejak beroperasi.

Hingga 14 April 2026, Whoosh telah melayani lebih dari 15 juta perjalanan penumpang. Sementara itu, selama Januari–Agustus 2026, jumlah pelanggannya mencapai 4.078.168 orang.

Kereta cepat juga banyak digunakan pada periode liburan.

Selama libur sekolah 13 Juni–12 Juli 2026, misalnya, sebanyak 573.780 penumpang menggunakan Whoosh.

General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan layanan tersebut menjadi salah satu pilihan masyarakat pada masa liburan.

“Whoosh menjadi solusi mobilitas yang praktis selama periode libur sekolah,” ujar Eva.

Integrasi turut menjadi bagian penting layanan kereta cepat. Dari Stasiun Halim, penumpang dapat berpindah ke LRT Jabodebek. Sementara itu, perjalanan dari Padalarang menuju pusat Kota Bandung dilayani KA Feeder.

Bukan lagi sekadar kereta antarkota

Delapan dekade perjalanan perkeretaapian menunjukkan perubahan yang lebih luas daripada sekadar teknologi kereta.

Pola perjalanan masyarakat ikut bergeser.

Kereta jarak jauh tetap menjadi penghubung antarkota. Namun, KRL dan LRT kini menjadi bagian dari rutinitas perjalanan harian.

Kereta bandara menghubungkan jaringan rel dengan transportasi udara. Whoosh menghadirkan perjalanan berkecepatan tinggi antara dua kawasan metropolitan.

Keragaman itu tercermin dalam komposisi pelanggan KAI Group.

Selain 277,27 juta pelanggan KAI Commuter dan 40,38 juta pelanggan KA jarak jauh serta lokal, KAI Bandara melayani 4.647.947 pelanggan sepanjang Januari–Agustus 2026.

KA Makassar–Parepare melayani 231.764 pelanggan. Sementara itu, KAI Wisata mencatat 216.980 pelanggan.

KAI juga menyiapkan transformasi lanjutan melalui Rencana Jangka Panjang Perusahaan 2026–2030. Arahnya bukan lagi sekadar menjadi operator kereta, melainkan pengelola ekosistem mobilitas yang menghubungkan layanan penumpang, logistik, teknologi, aset, dan keberlanjutan.

Digitalisasi ikut mengubah cara masyarakat menggunakan layanan kereta.

Hingga 2026, aplikasi Access by KAI tercatat memiliki 29,87 juta pengguna. Sebanyak 8,92 juta di antaranya merupakan pengguna aktif bulanan.

Pada semester I 2026, sekitar 76,49 persen transaksi KAI telah berlangsung melalui kanal digital.

Dari pengambilalihan perkeretaapian pada 1945, elektrifikasi yang sudah dimulai sejak 1925, hingga hadirnya LRT otomatis dan Whoosh berkecepatan 350 kilometer per jam, perubahan kereta api Indonesia tidak pernah berhenti.

Kini, menjelang usia ke-81, KAI Group telah melayani lebih dari 351,6 juta pelanggan hanya dalam delapan bulan pertama 2026.

Delapan dekade berlalu. Teknologi berganti. Kereta semakin cepat. Namun, transportasi kereta api terus menjadi bagian dari pergerakan masyarakat Indonesia.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
HUT KAI ke-81 KRL Indonesia kereta api indonesia KAI WHOOSH