RADAR BANYUWANGI – Ada pemandangan berbeda di dalam KA Sangkuriang, Jumat (25/9). Tujuh penari Gandrung dengan busana khas Banyuwangi muncul di tengah perjalanan dari Kalibaru menuju Ketapang.
Lorong kereta pun berubah menjadi panggung. Para penari membawakan kesenian khas Banyuwangi di hadapan penumpang yang tengah menuju ujung timur Pulau Jawa.
Pertunjukan bertajuk Gandrung On Train itu menjadi bagian dari KAI Mini Fair menjelang HUT Ke-81 PT Kereta Api Indonesia (KAI) pada 28 September 2026.
Kegiatan tersebut digelar KAI Daop 9 Jember bersama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi serta sejumlah mitra.
Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember Cahyo Widiantoro mengatakan, perayaan ulang tahun KAI tahun ini tidak hanya dikemas dalam kegiatan seremonial. KAI ingin penumpang ikut merasakan suasana perayaan selama perjalanan.
“Perayaan HUT KAI tahun ini kami hadirkan tidak hanya dalam bentuk seremoni, tetapi juga melalui pengalaman yang dapat dirasakan langsung oleh pelanggan,” ujar Cahyo kepada Radar Banyuwangi.
Gandrung dipilih bukan tanpa alasan. Tarian tersebut telah lama melekat dengan identitas Banyuwangi.
“Kami ingin perjalanan dengan kereta menjadi semakin berkesan, salah satunya dengan menghadirkan kesenian Gandrung yang merupakan bagian dari kekayaan budaya Banyuwangi,” katanya.
Kehadiran Gandrung di KA Sangkuriang juga mempertemukan dua cerita. Satu sisi adalah layanan kereta jarak jauh yang relatif baru. Di sisi lain, Gandrung merupakan kesenian yang telah tumbuh dan diwariskan lintas generasi di Banyuwangi.
KA Sangkuriang mulai melayani perjalanan langsung Bandung–Ketapang pada 1 Mei 2026. Sehari kemudian, perjalanan perdana dari Ketapang menuju Bandung dimulai.
Kereta tersebut menempuh jarak sekitar 1.002 kilometer. Dalam perjalanannya, KA Sangkuriang melintasi sejumlah kota di Pulau Jawa, antara lain Yogyakarta, Solo, Surabaya, Jember, hingga Banyuwangi.
Respons masyarakat cukup tinggi sejak kereta tersebut dioperasikan. Dalam sebulan pertama, KA Sangkuriang tercatat melayani 64.248 penumpang.
Cahyo menyebut tingginya jumlah penumpang menunjukkan layanan tersebut mendapat tempat di masyarakat.
“Tingginya minat masyarakat menunjukkan KA Sangkuriang menjadi salah satu pilihan transportasi favorit untuk perjalanan jarak jauh,” kata Cahyo sebagaimana diberitakan ANTARA pada Juni 2026.
Jumlah penumpang terus bertambah. Data KAI mencatat KA Sangkuriang melayani 133.119 penumpang sepanjang Mei–Juni 2026.
Jumat itu, sebagian perjalanan panjang KA Sangkuriang mendapat sentuhan berbeda. Penumpang yang melintas dari Kalibaru menuju Ketapang tidak hanya melihat pemandangan dari balik jendela.
Mereka juga menyaksikan tujuh penari Gandrung tampil di dalam kereta.
Menurut Cahyo, konsep tersebut dirancang agar penumpang tidak sekadar menjadi penonton.
“Ketika kesenian Gandrung hadir di dalam kereta, pelanggan tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjadi bagian dari suasana perayaan,” ujarnya.
Gandrung memang memiliki posisi penting bagi Banyuwangi. Kesenian tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia kategori seni pertunjukan melalui Surat Keputusan Nomor 238/M/2013.
Namun, pengakuan terhadap Gandrung sebagai identitas daerah sudah berlangsung jauh sebelumnya.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menetapkan Gandrung sebagai maskot pariwisata melalui Keputusan Bupati Banyuwangi Nomor 188/173/KEP/429.011/2002 pada 31 Desember 2002.
Setahun kemudian, Tari Jejer Gandrung juga ditetapkan sebagai tari selamat datang di Banyuwangi.
Upaya menjaga kesenian tersebut terus dilakukan. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa kebudayaan tidak cukup hanya diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Budaya tidak cukup hanya diwariskan. Ia harus dirawat, dipentaskan, dan dibanggakan,” kata Ipuk saat peluncuran Banyuwangi Attractions 2026.
Regenerasi penari menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut. Pada Juli 2026, sekitar 500 pelajar mengikuti tahap awal seleksi Gandrung Sewu di wilayah Banyuwangi Kota.
Ketua Paguyuban Pelatih Tari dan Seniman Banyuwangi Suko Prayitno menyebut lebih dari 1.000 penari diproyeksikan terlibat dalam Gandrung Sewu 2026.
Karena itu, kehadiran Gandrung di dalam KA Sangkuriang tidak semata menjadi hiburan. Pertunjukan tersebut sekaligus mengenalkan salah satu wajah budaya Banyuwangi kepada masyarakat yang tengah menuju daerah berjuluk Sunrise of Java itu.
Kemeriahan juga tidak berhenti ketika KA Sangkuriang tiba di Ketapang.
Melalui Gandrung On Station, tujuh penari kembali tampil di Stasiun Ketapang. Kali ini, mereka menyambut penumpang KA Pandanwangi yang baru tiba.
Stasiun Ketapang merupakan salah satu simpul transportasi penting di ujung timur Pulau Jawa. Lokasinya berdekatan dengan Pelabuhan Ketapang sehingga menjadi titik pertemuan perjalanan kereta api dan penyeberangan menuju Bali.
Aktivitas penumpang di stasiun tersebut juga terus meningkat. Sepanjang Januari–Agustus 2026, Stasiun Ketapang mencatat 553.202 aktivitas penumpang naik dan turun.
Jumlah itu meningkat 8,50 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 509.862 aktivitas penumpang.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, Stasiun Ketapang memiliki perjalanan panjang dalam sejarah perkeretaapian di Banyuwangi.
“Stasiun Ketapang memiliki cerita panjang sejak kereta api mencapai Banyuwangi lebih dari satu abad lalu,” ujar Anne.
Selain Gandrung On Train dan Gandrung On Station, KAI Mini Fair di Ketapang juga diisi fun games bersama The Nice Playland Probolinggo.
Menurut Cahyo, kolaborasi dengan pemerintah daerah dan mitra menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Sinergi dengan pemerintah daerah dan mitra kerja juga menjadi bagian penting untuk menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat dan pengalaman positif bagi masyarakat,” katanya.
Rangkaian tersebut digelar menjelang HUT Ke-81 KAI pada 28 September 2026.
Tanggal 28 September merujuk pada momentum pengambilalihan perusahaan kereta api dari Jepang oleh para pekerja kereta api Indonesia pada 1945. Peristiwa itu menjadi salah satu tonggak pengelolaan perkeretaapian oleh bangsa Indonesia.
Memasuki usia ke-81, fungsi perjalanan kereta juga terus berkembang. Bukan hanya sebagai sarana berpindah dari satu kota ke kota lain, kereta kini menjadi bagian dari perjalanan wisata dan pengalaman penumpang.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyebut perubahan itu terlihat dari semakin beragamnya kebutuhan masyarakat dalam menggunakan kereta api.
“Dahulu, perjalanan kereta api banyak dimaknai sebagai sarana menuju kota lain atau pulang ke kampung halaman,” kata Anne.
Sepanjang Januari-Agustus 2026, KAI Group mencatat 351,60 juta pelanggan menggunakan berbagai layanan perusahaan.
Di tengah perubahan pola perjalanan tersebut, Gandrung On Train menghadirkan pengalaman lain bagi penumpang KA Sangkuriang.
Sebelum kereta tiba di Ketapang, penumpang lebih dahulu diperkenalkan pada salah satu identitas daerah yang mereka tuju.
Bukan melalui baliho atau layar promosi. Melainkan lewat gerak tujuh penari Gandrung di dalam gerbong yang terus melaju ke timur.
“Harapannya, semangat HUT Ke-81 KAI dapat dirasakan bersama oleh pelanggan. Kami akan terus menghadirkan pelayanan yang mengutamakan keselamatan, kenyamanan, dan pengalaman pelanggan,” tutur Cahyo.
Editor : Lugas Rumpakaadi