Jumlah pengguna pos kesehatan LRT Jabodebek pada Januari–Agustus 2026 sudah melampaui total sepanjang 2025. Layanan gratis itu tersedia di 18 stasiun.
RADAR BANYUWANGI – Pos kesehatan LRT Jabodebek makin banyak dimanfaatkan pengguna. Sepanjang Januari–Agustus 2026, sebanyak 1.882 pengguna mendapat pelayanan kesehatan di fasilitas tersebut.
Jumlah itu sudah melampaui capaian sepanjang 2025. Tahun lalu, pos kesehatan LRT Jabodebek melayani 1.707 pengguna.
Artinya, hanya dalam delapan bulan, jumlah pengguna layanan kesehatan pada 2026 sudah 175 orang lebih banyak dibandingkan total selama 12 bulan pada 2025. Kenaikannya sekitar 10,3 persen.
Keluhan yang ditangani beragam. Mulai sakit kepala, gangguan lambung, diare, demam, kelelahan, nyeri tubuh, hingga terkilir.
Manager of Public Relations LRT Jabodebek Radhitya Mardika mengatakan, pengguna yang merasa kurang sehat tidak perlu menunggu kondisi memburuk. Mereka bisa langsung meminta bantuan petugas.
“Pengguna dapat melapor kepada petugas atau mendatangi pos kesehatan di stasiun. Jika melihat pengguna lain membutuhkan pertolongan, segera sampaikan kepada petugas agar bantuan dapat dikoordinasikan,” ujar Radhitya.
Penumpang LRT Terus Bertambah
Meningkatnya pemanfaatan pos kesehatan terjadi ketika jumlah pengguna LRT Jabodebek juga terus bertumbuh.
Sepanjang Januari–Agustus 2026, LRT Jabodebek melayani 21.809.797 pengguna. Jumlah itu naik 19,04 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 18.320.640 pengguna.
Rata-rata pengguna pada hari kerja mencapai 114.759 orang per hari. Angka tersebut meningkat sekitar 19,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada Agustus 2026 saja, jumlah pengguna mencapai 2.730.450 orang. Naik 7,16 persen dibandingkan Agustus 2025.
Radhitya menyebut pertumbuhan tersebut menjadi indikator bahwa LRT Jabodebek semakin banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan perjalanan masyarakat.
“Pertumbuhan jumlah pengguna tentu menjadi hal positif. Namun, yang lebih penting adalah memastikan LRT Jabodebek tetap relevan dengan kebutuhan perjalanan masyarakat yang terus berkembang,” katanya.
Meski sama-sama meningkat, pertumbuhan jumlah penumpang tidak serta-merta dapat disebut sebagai penyebab bertambahnya pengguna pos kesehatan. Data yang tersedia belum menunjukkan hubungan langsung antara kedua indikator tersebut.
Gratis di 18 Stasiun
Pos kesehatan tersedia di seluruh 18 stasiun LRT Jabodebek. Layanan itu tidak dipungut biaya.
Lokasinya berada di sekitar area gerbang masuk dan keluar stasiun. Papan penunjuk juga disediakan untuk memudahkan pengguna menemukan fasilitas tersebut.
Pos kesehatan dilengkapi kotak pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), tensimeter, kursi roda, serta tandu darurat. Peralatan diperiksa dan dirawat secara berkala.
Fasilitas kesehatan tersebut bukan layanan baru. Dalam keterangan resmi pada 6 Maret 2025, LRT Jabodebek menyebut pos kesehatan sudah tersedia di seluruh stasiun.
Saat itu, sebanyak 4.227 pengguna tercatat telah memanfaatkan pos kesehatan sejak LRT Jabodebek mulai beroperasi pada 28 Agustus 2023 hingga Februari 2025.
Angka 4.227 tersebut merupakan data kumulatif sejak awal operasi. Karena itu, tidak dapat dibandingkan langsung dengan angka 1.707 pengguna yang khusus dicatat sepanjang 2025.
Mantan Wakil Presiden Eksekutif LRT Jabodebek Mochamad Purnomosidi saat itu mengatakan, kondisi kesehatan pengguna dapat berubah selama perjalanan karena berbagai faktor.
“Kami memahami bahwa kondisi tubuh dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk puasa, cuaca yang tidak menentu, maupun aktivitas yang padat,” ujar Purnomosidi.
Pos kesehatan dapat dimanfaatkan untuk pertolongan pertama. Petugas juga dapat melakukan pemeriksaan dasar, termasuk mengecek tekanan darah serta menangani keluhan kesehatan ringan.
Pada September 2025, LRT Jabodebek mencatat 1.146 pengguna telah memanfaatkan pos kesehatan sejak awal tahun. Jumlah tersebut kemudian mencapai 1.707 pengguna hingga akhir 2025.
Sakit di Dalam Kereta? Segera Lapor
Keluhan kesehatan tidak selalu muncul ketika pengguna berada di stasiun. Kondisi kurang sehat juga bisa terjadi saat kereta sedang berjalan.
Jika itu terjadi, pengguna dapat segera melapor kepada pramugara atau pramugari kereta (Train Attendant) maupun petugas keamanan.
Petugas dapat memberikan pertolongan awal menggunakan perlengkapan P3K yang tersedia di dalam kereta.
Jika memerlukan penanganan lebih lanjut, pengguna akan dibantu turun dan diarahkan menuju pos kesehatan di stasiun terdekat.
Prosedur tersebut telah diterapkan LRT Jabodebek sejak sebelumnya. Pengguna yang mengalami gangguan kesehatan selama perjalanan diminta segera memberi tahu petugas agar penanganan dapat dikoordinasikan.
Purnomosidi pernah menjelaskan bahwa fasilitas kesehatan disiapkan untuk memberi rasa aman kepada masyarakat selama menggunakan LRT Jabodebek.
“Kami ingin memastikan pengguna merasa aman dan nyaman selama perjalanan. Jika mengalami keluhan kesehatan, mereka dapat segera mendapatkan pertolongan awal,” ujarnya.
Didukung 19 Paramedis
Saat ini, layanan kesehatan LRT Jabodebek didukung 19 paramedis operasional.
Para petugas tersebut memiliki kompetensi pertolongan pertama serta izin dan registrasi sebagai tenaga kesehatan sesuai dengan ketentuan.
Jumlah tenaga kesehatan dapat berubah menyesuaikan kebutuhan operasional. Sebelumnya, LRT Jabodebek mencatat 26 petugas kesehatan pada Maret 2025 dan 27 petugas pada September 2025.
Jika kondisi pengguna memerlukan penanganan lebih lanjut, petugas akan mengoordinasikan rujukan medis. Penanganan dapat melibatkan ambulans maupun fasilitas kesehatan terdekat sesuai dengan kebutuhan.
Karena itu, pengguna diminta tidak menunda melaporkan keluhan kesehatan.
“LRT Jabodebek mengimbau pengguna untuk melaporkan keluhan sedini mungkin agar petugas dapat memberikan pertolongan awal dan mengoordinasikan penanganan lanjutan sesuai kebutuhan,” kata Radhitya.
Pengguna yang melihat penumpang lain membutuhkan bantuan juga diminta segera melapor. Semakin cepat laporan diterima, semakin cepat pula petugas dapat memberikan pertolongan.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara