KAI Usulkan Impor 23 Rangkaian KRL Bekas Jepang, Ganti Armada Tua

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 19:25 WIB
Rangkaian KRL melintas di kawasan Jabodetabek. KAI mengusulkan impor 23 rangkaian KRL bekas dari Jepang sebagai solusi transisi untuk mengganti armada tua dan memenuhi kebutuhan operasional. (ChatGPT)
Rangkaian KRL melintas di kawasan Jabodetabek. KAI mengusulkan impor 23 rangkaian KRL bekas dari Jepang sebagai solusi transisi untuk mengganti armada tua dan memenuhi kebutuhan operasional. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI – PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengusulkan impor 23 rangkaian KRL bekas dari Jepang. Langkah itu disiapkan sebagai solusi transisi untuk menutup kebutuhan armada sekaligus mengganti kereta yang sudah berusia lebih dari 40 tahun.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, usulan tersebut terdiri atas tujuh rangkaian berformasi 12 kereta atau SF12 dan 16 rangkaian berformasi delapan kereta atau SF8.

”Kami usulkan untuk kereta yang tidak baru ini tujuh trainset dengan SF12 ditambah 16 trainset dengan SF8,” kata Bobby dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (23/9).

Perbedaan formasi itu disesuaikan dengan kondisi infrastruktur. Sebab, belum semua peron stasiun pada jaringan Commuter Line Jabodetabek mampu melayani rangkaian berformasi 12 kereta.

Meski demikian, rencana impor tersebut belum final. KAI masih membutuhkan dispensasi untuk mendatangkan barang bukan baru.

”Kementerian Perindustrian, Perdagangan, dan Perhubungan sudah kami koordinasikan untuk penerbitan dispensasi proses impor barang bukan baru,” ujar Bobby.

Menurut dia, Jepang dipilih karena sistem perkeretaapiannya dinilai kompatibel dengan infrastruktur KRL di Indonesia. Di antaranya, lebar rel dan sistem listrik aliran atas.

Pertimbangan lain adalah waktu pengadaan. KRL bekas disebut bisa didatangkan sekitar satu hingga dua bulan setelah seluruh perizinan diperoleh. Sementara itu, pengadaan kereta baru membutuhkan waktu satu hingga dua tahun.

KAI juga tidak ingin impor kereta baru dalam jumlah besar mengurangi ruang bagi industri perkeretaapian nasional. Karena itu, KRL bekas ditempatkan sebagai solusi sementara sampai kapasitas produksi dalam negeri mampu mengejar kebutuhan.

Rangkaian bekas tersebut direncanakan digunakan sekitar 10 tahun.

Armada Tua Masih Beroperasi

Kebutuhan armada baru semakin mendesak karena sebagian KRL yang beroperasi telah berusia puluhan tahun.

Bobby menyebut masih ada rangkaian yang telah berumur sekitar 41 tahun. Bahkan, terdapat kereta yang diproduksi sejak 1977. Padahal, menurut dia, usia ideal penggunaan sebuah rangkaian sekitar 20 tahun.

Kondisi itu terjadi ketika jumlah pengguna Commuter Line Jabodetabek terus meningkat.

Data KAI menunjukkan, jumlah penumpang KRL Jabodetabek naik dari 257 juta orang pada 2015 menjadi sekitar 401 juta orang pada 2025.

Hingga Agustus 2026, jumlah pengguna mencapai sekitar 277,2 juta orang. Jaringan pelayanan juga berkembang dari 71 stasiun pada 2015 menjadi 85 stasiun pada 2026.

Khusus periode Januari–Juli 2026, Commuter Line Jabodetabek mengangkut 210,47 juta penumpang. Angka itu naik 6,39 persen dibandingkan 197,83 juta penumpang pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pesanan INKA Belum Tuntas

Usulan impor KRL bekas muncul ketika pengadaan rangkaian baru produksi PT Industri Kereta Api (INKA) belum seluruhnya tuntas.

KAI Commuter sebelumnya memesan 16 rangkaian atau 192 kereta KRL baru dari INKA. Nilai investasinya hampir Rp3,83 triliun.

Selain itu, terdapat program peremajaan atau retrofit terhadap 19 rangkaian KRL dengan nilai investasi lebih dari Rp2,23 triliun.

Namun, hingga September 2026, baru tujuh dari 16 rangkaian baru tersebut yang diterima.

”Yang 16 unit dari INKA, yaitu yang baru beroperasi itu tujuh unit. Sembilan unitnya ini belum kita terima,” kata Bobby.

Dia menyebut penyerahan sembilan rangkaian tersebut terlambat lebih dari satu tahun.

Menurut Bobby, INKA sebelumnya memproyeksikan kemampuan produksi delapan rangkaian per tahun. Namun, realisasinya baru sekitar dua hingga tiga rangkaian per tahun.

Kondisi tersebut berbeda dengan target yang pernah disampaikan KAI pada Februari 2026. Saat itu, perusahaan menargetkan 11 rangkaian tersisa dari INKA dapat mulai beroperasi sebelum Juli 2026.

Produksi di INKA sendiri masih berjalan. Pada pertengahan September 2026, seluruh kereta untuk rangkaian kesembilan telah memasuki proses pengiriman menuju Madiun. Setelah tiba, rangkaian tersebut masih harus menjalani inspeksi dan pengujian sebelum dapat diserahkan.

Tujuh KRL INKA Sempat Diperiksa

Tujuh rangkaian KRL iE305/CLI 225 produksi INKA yang sudah beroperasi juga sempat ditarik sementara untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan.

KAI menyatakan pemeriksaan dilakukan bersama INKA dan KAI Commuter. Pemeriksaan mencakup sistem, komponen teknis, hingga aspek keselamatan.

”KAI memastikan setiap proses perawatan sarana dilakukan sesuai standar keselamatan dan keandalan yang berlaku,” ujar Bobby.

Dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI, Bobby menjelaskan pemeriksaan dilakukan setelah ditemukan komponen yang berpotensi mengalami kelelahan material.

INKA juga menyatakan pemeriksaan menyeluruh dilakukan secara bertahap dengan menempatkan aspek keselamatan sebagai prioritas.

”Fokus kami adalah memastikan seluruh aspek yang berkaitan dengan keselamatan dan keandalan sarana berada dalam kondisi optimal,” kata Senior Manager Corporate Communication INKA Nanang Agung Rohmandiyas.

Butuh 156 Rangkaian hingga 2040

Kebutuhan KRL diperkirakan terus bertambah. Berdasarkan perhitungan awal KAI, kebutuhan hingga 2040 mencapai sekitar 156 rangkaian.

Jumlah itu belum termasuk kebutuhan kereta rel diesel, kereta penumpang jarak jauh, lokomotif, maupun sarana angkutan barang.

”Dengan kebutuhan sekitar 156 rangkaian KRL hingga 2040, peluang pengembangan industri ini sangat besar,” kata Bobby.

KAI dan INKA juga tengah mendorong integrasi strategis untuk menyelaraskan kebutuhan operator dengan kapasitas manufaktur nasional. Integrasi itu mencakup perencanaan, desain, produksi, pengujian, hingga penyerahan sarana.

Berbeda dengan Kebijakan 2023

Usulan impor KRL bekas kali ini menjadi perkembangan baru setelah rencana serupa pada 2023 tidak dilanjutkan.

Saat itu, pemerintah tidak merekomendasikan impor KRL bekas setelah mempertimbangkan hasil reviu Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), ketentuan impor barang bukan baru, serta kepentingan pengembangan industri perkeretaapian nasional.

Pemerintah kemudian memilih sejumlah alternatif. Di antaranya, optimalisasi armada yang ada, retrofit KRL lama, pengadaan produksi dalam negeri, serta pembelian kereta baru dari luar negeri.

KAI Commuter selanjutnya memesan 16 rangkaian baru dari INKA dan menjalankan program retrofit terhadap 19 rangkaian. Perusahaan juga membeli 11 rangkaian KRL baru dari CRRC Qingdao Sifang, China.

Tiga tahun kemudian, opsi KRL bekas Jepang kembali diajukan. Kali ini KAI menempatkannya sebagai solusi transisi di tengah bertambahnya jumlah penumpang, usia armada yang semakin tua, serta belum terpenuhinya seluruh pesanan kereta produksi dalam negeri.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
KRL bekas Jepang commuter line inka KAI krl jabodetabek