RADAR BANYUWANGI – Mobilitas masyarakat dengan kereta api terus meningkat. Sepanjang Januari–Agustus 2026, KAI Group melayani 351.602.397 pelanggan.
Jumlah itu naik 7,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 328.311.868 pelanggan.
Pertumbuhan tersebut tak hanya tercermin dari ramainya perjalanan kereta. PT Kereta Api Indonesia (KAI) juga terus memperkuat bisnis sekaligus memperluas program ramah lingkungan.
Mulai pemanfaatan energi surya hingga penyediaan fasilitas isi ulang air minum di stasiun.
Data KAI menunjukkan, pertumbuhan penumpang terjadi di berbagai layanan. Mulai kereta api jarak jauh dan lokal, commuter line, LRT, kereta bandara, kereta wisata, hingga kereta cepat.
Dari total pelanggan KAI Group selama delapan bulan pertama 2026, sebanyak 317,7 juta orang atau 90,29 persen menggunakan layanan yang didukung pemerintah melalui skema Public Service Obligation (PSO) dan layanan perintis.
Sementara itu, layanan komersial digunakan sekitar 34,2 juta pelanggan atau 9,71 persen.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, peningkatan jumlah penumpang harus diikuti dengan layanan yang semakin mudah dijangkau masyarakat.
“KAI terus menghadirkan layanan yang aman, nyaman, dan terjangkau agar semakin banyak masyarakat dapat memanfaatkan transportasi berbasis rel untuk berbagai aktivitas,” ujar Anne, Rabu (23/9).
Kontributor terbesar jumlah pelanggan KAI Group berasal dari KAI Commuter. Jumlahnya mencapai 277.272.682 orang.
Adapun kereta api jarak jauh dan lokal yang dikelola KAI melayani 40.379.062 pelanggan. Angka itu tumbuh 8,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut menjadi bagian dari pendekatan People, Profit, Planet yang dijalankan KAI. Mobilitas masyarakat masuk dalam aspek People. Pertumbuhan bisnis menjadi bagian Profit. Sementara itu, efisiensi energi dan pengurangan dampak lingkungan berada dalam aspek Planet.
Bisnis Tumbuh, Laba Bersih Tertekan
Pertumbuhan tidak hanya terjadi di angkutan penumpang. Bisnis logistik KAI juga bergerak positif.
Sepanjang semester I 2026, KAI mengangkut 32.498.043 ton barang.
Sebanyak 26.534.095 ton atau 81,65 persen di antaranya berupa batu bara. Sisanya, 5.963.948 ton, merupakan komoditas nonbatu bara.
Komoditas tersebut antara lain peti kemas, bahan bakar minyak, semen dan klinker, produk perkebunan, pupuk, baja, serta berbagai kebutuhan industri.
Kinerja bisnis utama KAI Group juga tumbuh.
Pendapatan pada semester I 2026 mencapai Rp17,96 triliun. Naik 6,61 persen dibandingkan Rp16,85 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Laba bruto meningkat 18,81 persen menjadi Rp6,79 triliun. Sementara itu, laba usaha melonjak 25,79 persen, dari Rp3,71 triliun menjadi Rp4,66 triliun.
“Pertumbuhan pendapatan dan laba usaha menjadi modal penting bagi KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan, kesiapan sarana dan prasarana, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat,” kata Anne.
Namun, pertumbuhan laba usaha belum diikuti laba bersih.
Laba tahun berjalan KAI Group pada semester I 2026 tercatat Rp314,03 miliar. Angka itu turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,18 triliun.
Laba sebelum pajak juga turun. Dari Rp1,86 triliun menjadi Rp842,69 miliar.
Salah satu faktor yang menekan laba adalah meningkatnya bagian rugi bersih dari perusahaan asosiasi dan usaha patungan. Nilainya naik dari Rp948,20 miliar menjadi sekitar Rp3 triliun.
Artinya, tantangan KAI bukan sekadar meningkatkan pendapatan. Perusahaan juga harus menjaga pertumbuhan bisnis utama agar berujung pada kinerja konsolidasi yang sehat.
124 Water Station di 58 Stasiun
Di sisi lingkungan, KAI memperluas fasilitas air minum gratis di stasiun.
Hingga Juni 2026, sebanyak 124 unit water station tersedia di 58 stasiun. Fasilitas itu ditempatkan di 70 area pelayanan pelanggan.
Penumpang bisa menggunakannya untuk mengisi air minum dengan membawa tumbler atau botol pakai ulang.
Sejumlah stasiun dengan mobilitas tinggi memiliki lebih dari satu unit.
Stasiun Gambir dan Pasar Senen, misalnya, masing-masing dilengkapi delapan unit di empat area pelayanan. Stasiun Malang memiliki enam unit.
Sementara itu, Stasiun Surabaya Gubeng dan Surabaya Pasarturi masing-masing memiliki lima unit.
Fasilitas serupa juga tersedia di Bekasi, Jatinegara, Bandung, Cirebon, Semarang Tawang Bank Jateng, Purwokerto, Yogyakarta, Solo Balapan, Madiun, Kediri, Jember, Medan, Kertapati, dan Tanjungkarang.
KAI memperkirakan penggunaan water station berpotensi mengurangi sekitar 2,99 juta botol plastik sekali pakai dalam enam bulan.
Namun, angka tersebut bukan jumlah botol yang benar-benar tercatat berkurang. Angka 2,99 juta merupakan estimasi berdasarkan pola penggunaan fasilitas.
Perhitungannya menggunakan asumsi 10 persen dari 29.858.267 pelanggan kereta api jarak jauh dan lokal pada semester I 2026 menggunakan water station satu kali.
Setiap sekali pengisian diasumsikan menggantikan satu botol air minum kemasan berukuran 600 mililiter.
Dengan perhitungan tersebut, volume air yang berpotensi diisi ulang mencapai sekitar 1,79 juta liter.
“Satu kali isi ulang mungkin terlihat sederhana. Namun, ketika jutaan pelanggan melakukannya bersama, dampaknya terhadap pengurangan sampah plastik bisa menjadi sangat besar,” tutur Anne.
KAI juga menyebut air pada fasilitas tersebut telah melalui pengujian kualitas. Pengujian mencakup 20 parameter baku mutu, mulai mikrobiologi, fisik, hingga kimia.
Energi Surya Tembus 4,43 MWp
Upaya menekan dampak lingkungan juga dilakukan melalui pemanfaatan energi surya.
Hingga September 2026, KAI mengoperasikan 113 unit pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di 92 lokasi.
Total kapasitas terpasangnya mencapai 4.430,65 kilowatt peak (kWp) atau sekitar 4,43 megawatt peak (MWp).
Sebanyak 62 lokasi berada di stasiun dengan kapasitas 1.759,90 kWp. Sepuluh lokasi lainnya berada di balai yasa dengan kapasitas 1.786,50 kWp.
PLTS juga dipasang di kantor, griya karya, depo, serta sejumlah fasilitas pendukung lainnya.
KAI memperkirakan seluruh PLTS tersebut mampu menghasilkan listrik sekitar 5,8 juta hingga 6,6 juta kilowatt jam per tahun.
Pemanfaatannya diperkirakan dapat menekan emisi sekitar 5.100 hingga 5.800 ton CO₂ per tahun.
Sama seperti estimasi pengurangan botol plastik, angka pengurangan emisi itu merupakan hasil perhitungan berdasarkan potensi produksi energi. Bukan pengukuran emisi secara langsung pada setiap perjalanan kereta.
“Melalui pemanfaatan energi terbarukan, KAI terus mengoptimalkan pengelolaan aset agar semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan operasional,” ujar Anne.
Pemanfaatan tenaga surya di lingkungan KAI dikembangkan secara bertahap sejak 2022.
Saat itu, kapasitas terpasangnya baru 206 kWp. Kapasitas tersebut terus bertambah seiring perluasan instalasi pada berbagai aset perusahaan.
Selain tenaga surya, KAI mulai menerapkan biodiesel B50 pada sarana berbahan bakar diesel sejak 1 Juli 2026.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan meningkatkan efisiensi energi sekaligus menekan emisi operasional.
Ujian Ada pada Dampak Nyata
Jumlah penumpang dan angkutan barang yang terus tumbuh menunjukkan besarnya peran kereta api dalam mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.
Namun, pertumbuhan itu juga membawa konsekuensi.
Semakin banyak perjalanan berarti kebutuhan energi, kapasitas sarana, fasilitas penumpang, dan pengelolaan dampak lingkungan ikut meningkat.
Karena itu, konsep People, Profit, Planet tak cukup diukur dari pertumbuhan jumlah pelanggan, pendapatan, jumlah water station, atau kapasitas PLTS.
Ukuran berikutnya adalah dampak nyata.
Seberapa luas masyarakat memperoleh akses transportasi publik. Seberapa sehat bisnis perusahaan tumbuh. Seberapa efisien energi digunakan. Juga, seberapa besar sampah dan emisi benar-benar dapat ditekan.
Menjelang usia ke-81, tantangan KAI berada pada titik itu: menjaga mobilitas tetap tumbuh tanpa meninggalkan keberlanjutan bisnis dan lingkungan.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara