KAI Layani 351,6 Juta Pelanggan, PLTS dan B50 Tekan Emisi

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 18:30 WIB
Lokomotif KAI beroperasi dalam layanan kereta api. KAI memperluas penggunaan biodiesel B50 pada sarana diesel serta mengoperasikan 113 unit PLTS di 92 lokasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi energi dan menekan emisi operasional. (ANTARA)
Lokomotif KAI beroperasi dalam layanan kereta api. KAI memperluas penggunaan biodiesel B50 pada sarana diesel serta mengoperasikan 113 unit PLTS di 92 lokasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi energi dan menekan emisi operasional. (ANTARA)

RADAR BANYUWANGI – Mobilitas masyarakat menggunakan kereta api terus meningkat. Sepanjang Januari–Agustus 2026, PT Kereta Api Indonesia (KAI) bersama KAI Group melayani 351.602.397 pelanggan.

Jumlah itu tumbuh 7,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 328.311.868 pelanggan.

Pertumbuhan terjadi di hampir seluruh segmen layanan. Mulai kereta komuter, kereta jarak jauh dan lokal, LRT, kereta bandara, hingga kereta cepat.

KAI Commuter masih menjadi penyumbang pelanggan terbesar. Selama delapan bulan pertama 2026, layanan tersebut mengangkut 277.272.682 pelanggan atau tumbuh 6,32 persen.

Sementara itu, layanan kereta api jarak jauh dan lokal mencatat 40.379.062 pelanggan. Angka itu naik 8,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan lebih tinggi terjadi pada LRT Jabodebek. Jumlah penggunanya mencapai 21.809.797 pelanggan atau meningkat 19,05 persen.

Whoosh melayani 4.078.168 pelanggan. Adapun KAI Bandara mencatat 4.647.947 pelanggan.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pengembangan layanan tidak hanya diarahkan untuk menambah kapasitas angkut. Integrasi antarmoda juga terus diperkuat.

“Keterhubungan antarlayanan terus kami perkuat agar manfaat transportasi berbasis rel semakin luas,” kata Anne, Rabu (23/9).

Peningkatan jumlah pelanggan itu berjalan beriringan dengan upaya KAI menekan konsumsi energi.

Berdasarkan Laporan Keberlanjutan KAI 2025, konsumsi energi perusahaan turun 15,39 persen. Dari 11.945.467 gigajoule (GJ) pada 2024 menjadi 10.107.302 GJ pada 2025.

Penurunan juga terlihat pada intensitas energi per pelanggan. Angkanya turun dari 0,0263 GJ pada 2024 menjadi 0,0205 GJ pada 2025, atau berkurang sekitar 22,05 persen.

Angka tersebut menggambarkan rasio antara total energi yang digunakan perusahaan dan skala pelayanan. Bukan jumlah energi yang secara langsung dikonsumsi setiap penumpang.

“Pengelolaan energi menjadi salah satu aspek penting dalam operasional perkeretaapian,” ujar Anne.

113 PLTS Beroperasi di 92 Lokasi

Efisiensi energi tidak hanya dilakukan dengan menekan konsumsi. KAI juga memperluas penggunaan energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Hingga September 2026, sebanyak 113 unit PLTS telah beroperasi di 92 lokasi aset perkeretaapian.

Total kapasitas terpasangnya mencapai 4.430,65 kilowatt peak (kWp), atau sekitar 4,43 megawatt peak (MWp).

Sebanyak 62 lokasi stasiun memiliki kapasitas PLTS 1.759,90 kWp. Sementara itu, sepuluh balai yasa memiliki kapasitas total 1.786,50 kWp.

PLTS juga dipasang di kantor, depo, griya karya, serta sejumlah fasilitas pendukung lainnya.

KAI masih berencana menambah kapasitas PLTS sebesar 500 kWp sepanjang 2026.

Dengan kapasitas saat ini, seluruh PLTS tersebut diperkirakan mampu menghasilkan 5,8 juta hingga 6,6 juta kilowatt jam (kWh) listrik per tahun.

Dampaknya tidak hanya pada penggunaan listrik. Berdasarkan perhitungan KAI yang mengacu pada faktor emisi sistem ketenagalistrikan Jawa–Madura–Bali, pemanfaatan PLTS berpotensi menghindari emisi sekitar 5.100 hingga 5.800 ton CO₂ per tahun.

Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan potensi produksi listrik dan faktor emisi. Bukan hasil pengukuran emisi secara langsung.

Pengembangan PLTS di lingkungan KAI dilakukan bertahap sejak 2022. Energi yang dihasilkan dimanfaatkan untuk mendukung fasilitas pelayanan pelanggan, gedung operasional, hingga fasilitas pemeliharaan sarana.

B50 Masuk Operasional Kereta Diesel

Perubahan sumber energi juga menyentuh armada berbahan bakar diesel.

Sejak Juli 2026, KAI menjalankan penggunaan biodiesel B50 pada sarana diesel. Bahan bakar tersebut merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis nabati dan 50 persen bahan bakar diesel.

Penerapannya tidak dilakukan secara mendadak.

Sebelum digunakan dalam operasional, KAI melakukan serangkaian pengujian. Mulai performa mesin, konsumsi bahan bakar, stabilitas pembakaran, kondisi filter dan pelumas, hingga ketahanan sistem bahan bakar.

“Penggunaan Biodiesel B50 membutuhkan kesiapan teknis yang matang,” kata Anne.

KAI menyatakan seluruh lokomotif dan kereta pembangkit diesel telah dipersiapkan untuk menggunakan B50.

Kesiapan tersebut juga berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang mulai menerapkan program B50 pada Juli 2026.

“Kesiapan KAI sejalan dengan mandatori biodiesel B50 yang mulai diberlakukan pemerintah sejak 1 Juli 2026,” ujar Anne.

Sebelum mandatori diberlakukan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga telah menguji penggunaan B50 pada sektor perkeretaapian.

Pengujian dilakukan terhadap mesin diesel kereta pembangkit dan lokomotif. Tujuannya untuk mengetahui pengaruh bahan bakar terhadap kinerja, kondisi mesin, serta keandalan operasional.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut hasil pengujian memberikan indikasi positif.

“Secara teknis sudah dilakukan uji coba. Hasilnya sangat menggembirakan,” ujar Bahlil.

Estimasi Emisi Turun 9.000 Ton CO₂e

Sepanjang Januari–Agustus 2026, layanan kereta jarak jauh dan lokal KAI mengonsumsi 172.228.585 liter bahan bakar minyak (BBM).

Dalam periode itu, layanan tersebut mengangkut 40.379.062 pelanggan.

Jika dibandingkan dengan jumlah pelanggan, konsumsi tersebut setara dengan sekitar 4,27 liter BBM per pelanggan.

Namun, rasio tersebut bukan berarti setiap penumpang menghabiskan BBM sebanyak itu. Angka itu digunakan sebagai indikator intensitas konsumsi bahan bakar dibandingkan volume pelanggan yang dilayani.

KAI juga menghitung dampak awal penggunaan B50.

Dalam 55 hari pertama penerapannya, mulai 1 Juli hingga 24 Agustus 2026, penggunaan biodiesel B50 diperkirakan mampu menekan emisi sekitar 9.000 ton CO₂ ekuivalen.

Angka tersebut merupakan estimasi KAI berdasarkan penggunaan bahan bakar selama periode implementasi. Bukan hasil inventarisasi emisi independen.

“KAI terus melakukan berbagai inovasi operasional agar layanan semakin efisien,” ujar Anne.

Pada skala nasional, Kementerian ESDM memperkirakan penerapan B50 berpotensi menurunkan emisi sekitar 44,46 juta ton CO₂.

Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan potensi pengurangan emisi melalui skema B40 yang berada di kisaran 39,66 juta ton CO₂.

Bagi pemerintah, B50 juga menjadi bagian dari strategi mengurangi ketergantungan terhadap impor solar dan meningkatkan pemanfaatan sumber energi domestik.

Mobilitas Naik, Efisiensi Jadi Tantangan

Pertumbuhan jumlah pelanggan membawa konsekuensi.

Semakin banyak perjalanan berarti semakin besar pula kebutuhan sarana, listrik, bahan bakar, pemeliharaan, dan fasilitas pelayanan.

Karena itu, capaian keberlanjutan tidak cukup diukur dari banyaknya penumpang atau jumlah PLTS yang terpasang.

Efisiensi penggunaan energi untuk setiap layanan juga menjadi indikator penting.

Data KAI menunjukkan dua tren berjalan bersamaan. Jumlah pelanggan meningkat, tetapi intensitas penggunaan energi pada 2025 justru turun.

Pada saat yang sama, perusahaan memperluas pemanfaatan energi surya dan meningkatkan porsi biodiesel pada sarana berbahan bakar diesel.

Transformasi tersebut berlangsung menjelang usia ke-81 KAI pada 28 September 2026.

Tantangannya kini bukan sekadar membawa lebih banyak orang dengan kereta api. KAI juga harus memastikan pertumbuhan mobilitas diikuti penggunaan energi yang semakin efisien, operasi yang tetap andal, serta dampak lingkungan yang dapat diukur secara transparan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Transportasi Berkelanjutan PLTS KAI biodiesel B50 kereta api indonesia KAI