Hampir 1 dari 5 Penumpang Kereta Api di Banyuwangi Dilayani Stasiun Kalisetail

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 17:07 WIB
Aktivitas penumpang di Stasiun Kalisetail, Kecamatan Sempu, Banyuwangi. Sepanjang Januari–Agustus 2026, stasiun tersebut melayani 458.484 penumpang atau sekitar 19,72 persen dari total penumpang yang dilayani stasiun-stasiun di Kabupaten Banyuwangi. (KAI)
Aktivitas penumpang di Stasiun Kalisetail, Kecamatan Sempu, Banyuwangi. Sepanjang Januari–Agustus 2026, stasiun tersebut melayani 458.484 penumpang atau sekitar 19,72 persen dari total penumpang yang dilayani stasiun-stasiun di Kabupaten Banyuwangi. (KAI)

RADAR BANYUWANGI – Stasiun Kalisetail kian sibuk. Sepanjang Januari–Agustus 2026, stasiun yang berada di Kecamatan Sempu itu melayani 458.484 penumpang.

Jumlah tersebut setara dengan 19,72 persen dari total 2.325.522 penumpang yang dilayani seluruh stasiun di Kabupaten Banyuwangi pada periode yang sama. Artinya, hampir satu dari lima penumpang kereta api di Banyuwangi tercatat melalui Stasiun Kalisetail.

Aktivitas penumpang di stasiun tersebut juga terus tumbuh. Pada Januari–Agustus 2025, jumlah penumpang tercatat 450.182 orang. Setahun berselang, angkanya bertambah 8.302 penumpang atau naik sekitar 1,84 persen.

Pertumbuhan itu memperkuat posisi Kalisetail sebagai salah satu simpul penting perjalanan kereta api di Banyuwangi, khususnya wilayah selatan.

Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember Cahyo Widiantoro mengatakan, peningkatan jumlah penumpang menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap layanan kereta api di kawasan tersebut terus berkembang.

“Pertumbuhan penumpang menunjukkan bahwa Stasiun Kalisetail memiliki peran yang semakin penting dalam mendukung mobilitas masyarakat. Karena itu, pengembangan fasilitas kami lakukan agar pertumbuhan tersebut diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan dan kenyamanan bagi pengguna jasa,” ujar Cahyo, Rabu (23/9).

Sepanjang 2025, aktivitas penumpang di Kalisetail juga tergolong tinggi. Data KAI Daop 9 Jember yang diberitakan pada Januari 2026 mencatat 669.440 pergerakan penumpang melalui Stasiun Kalisetail.

Angka tersebut menempatkan Kalisetail di bawah Stasiun Banyuwangi Kota dan Ketapang, tetapi lebih tinggi dibandingkan Rogojampi.

Jika dibandingkan dengan total 3.316.127 penumpang di seluruh stasiun wilayah Kabupaten Banyuwangi sepanjang 2025, kontribusi Kalisetail mencapai sekitar 20,19 persen.

Fasilitas Ikut Berbenah

Peningkatan jumlah penumpang diikuti pembenahan fasilitas stasiun.

Sejak Oktober 2025, KAI melakukan sejumlah pekerjaan di Stasiun Kalisetail. Di antaranya penataan pintu masuk, gerbang, area parkir, lanskap, pembangunan musala, serta penyediaan area komersial.

Penataan dilakukan bersamaan dengan pengembangan Stasiun Ketapang dan Banyuwangi Kota. Langkah tersebut diambil seiring meningkatnya jumlah pengguna kereta api di Banyuwangi.

Memasuki Januari 2026, pengembangan Kalisetail masih berlanjut. KAI Daop 9 Jember menyebut penataan diarahkan untuk meningkatkan kenyamanan, keselamatan, serta mutu pelayanan kepada pengguna jasa.

“Dengan adanya penataan dan pengembangan stasiun, kami berharap pelayanan kepada pelanggan semakin optimal,” kata Cahyo dalam keterangan KAI pada 14 Januari 2026.

Kalisetail juga melayani 20 perjalanan kereta api reguler setiap hari. Frekuensi perjalanan itu menjadikan stasiun tersebut salah satu titik penting bagi masyarakat Sempu dan wilayah selatan Banyuwangi untuk bepergian.

Kereta api digunakan untuk berbagai keperluan, mulai bekerja, mengunjungi keluarga, menjalankan aktivitas ekonomi, hingga berwisata.

Jadi Akses Menuju Destinasi Wisata

Peran Kalisetail juga terlihat saat mobilitas wisatawan meningkat.

Pada masa Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Stasiun Kalisetail melayani 39.683 penumpang. Angka itu menempatkannya sebagai salah satu stasiun dengan pergerakan penumpang terbesar di Banyuwangi.

Cahyo menilai capaian tersebut menarik karena Kalisetail bukan termasuk stasiun besar.

“Menariknya, Stasiun Kalisetail yang tergolong stasiun kecil justru menunjukkan potensi luar biasa, bahkan jumlah penumpangnya mengungguli Stasiun Rogojampi,” ujarnya.

Menurut KAI, tingginya potensi pariwisata Banyuwangi ikut mendorong masyarakat memilih kereta api sebagai moda perjalanan menuju kabupaten paling timur di Pulau Jawa tersebut.

Dari Stasiun Kalisetail, perjalanan dapat dilanjutkan ke sejumlah destinasi di Banyuwangi bagian selatan dan sekitarnya. KAI antara lain menyebut Air Terjun Lider, Pulau Merah, Pemandian Umbul Bening, De Djawatan, Gerbang Raung, hingga Teluk Hijau.

Untuk menuju lokasi tersebut, penumpang dapat melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan umum maupun transportasi daring dari kawasan sekitar stasiun.

“Kami berharap stasiun ini dapat menjadi simpul transportasi yang semakin diminati masyarakat,” kata Cahyo.

Meningkatnya mobilitas penumpang juga membuka peluang ekonomi di sekitar stasiun. Mulai kebutuhan transportasi lanjutan, kuliner, perdagangan, hingga berbagai usaha masyarakat.

“Ketika mobilitas masyarakat meningkat, maka aktivitas di sekitar kawasan stasiun juga memiliki peluang untuk ikut berkembang. Kehadiran penumpang dapat menggerakkan kebutuhan transportasi lanjutan, kuliner, perdagangan, maupun usaha masyarakat di sekitar stasiun,” jelas Cahyo.

Disiapkan Jadi Titik Muat Komoditas

Peran Stasiun Kalisetail berpotensi semakin luas. Tidak hanya melayani penumpang, stasiun tersebut juga disiapkan menjadi salah satu titik pengiriman ternak dan hasil pertanian dari Banyuwangi.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada 12 September 2026 mengumumkan rencana KAI Logistik membuka layanan pengiriman ternak, terutama sapi, serta hasil pertanian menuju Jakarta.

Dua lokasi disiapkan sebagai titik muat, yakni Stasiun Argopuro di Kecamatan Kalipuro dan Stasiun Kalisetail di Kecamatan Sempu.

Layanan tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada akhir September 2026.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menilai pengiriman melalui kereta api dapat memberikan kepastian waktu yang lebih baik bagi petani dan peternak.

“Dengan kereta api jarak tempuh akan lebih cepat dan tepat waktu. Tentu ini memudahkan para peternak dan petani di Banyuwangi,” kata Ipuk.

Direktur Operasi KAI Logistik Broer Rizal menjelaskan, angkutan ternak dan hasil pertanian menggunakan kereta api sebenarnya pernah beroperasi sejak era 1960-an hingga awal 2000-an sebelum akhirnya berhenti.

Layanan tersebut kini akan dihidupkan kembali untuk memperlancar distribusi komoditas dari daerah produksi menuju pasar.

“Kami akan melakukan perjalanan kereta apinya dari Banyuwangi sebagai titik awal keberangkatan. Tujuan akhirnya di Jakarta,” kata Broer.

Banyuwangi dipilih karena memiliki potensi besar di sektor pertanian dan peternakan. KAI Logistik menargetkan waktu pengiriman maksimal 26 jam.

Satu rangkaian kereta direncanakan terdiri atas 20 gerbong. Selain sapi, kereta tersebut dapat mengangkut hasil pertanian seperti buah, sayuran, dan cabai.

Rencana itu membuat fungsi Kalisetail semakin beragam. Stasiun yang selama ini menjadi titik pergerakan masyarakat Banyuwangi selatan berpeluang ikut menopang distribusi komoditas daerah.

Dengan 458.484 penumpang hanya dalam delapan bulan pertama 2026, pengembangan fasilitas, akses menuju sejumlah destinasi wisata, serta rencana menjadikannya titik muat komoditas, posisi Stasiun Kalisetail semakin strategis.

Bagi masyarakat Banyuwangi selatan, Kalisetail tak lagi sekadar tempat naik dan turun kereta. Stasiun tersebut berkembang menjadi simpul mobilitas yang menghubungkan perjalanan masyarakat, pariwisata, dan aktivitas ekonomi daerah.

Editor : Lugas Rumpakaadi
transportasi Banyuwangi stasiun kalisetail kereta api banyuwangi wisata banyuwangi KAI Daop 9 Jember