RADAR BANYUWANGI - PT MRT Jakarta (Perseroda) menyiapkan tujuh proyek di enam kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) di Jakarta.
Pengembangan tersebut mencakup kawasan properti, ruang publik, hingga infrastruktur interkoneksi yang diarahkan untuk memperkuat hubungan antara transportasi massal dan aktivitas perkotaan.
Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta (Perseroda), Farchad Mahfud, mengatakan tujuh proyek tersebut disiapkan sejalan dengan mandat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam pengembangan kawasan TOD.
Pernyataan itu disampaikan Farchad dalam Indonesia–Japan Infrastructure and Transportation Business Forum and Business Matching 2026 di Tokyo, Jepang.
Forum tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah Indonesia mempertemukan pemilik proyek dengan calon investor, lembaga keuangan, dan mitra strategis dari Jepang.
Tujuh proyek yang disiapkan MRT Jakarta adalah Kali Besar Heritage, XGL Mixed-Use, Ultimate Development Blok M, Lebak Bulus Park and Ride, Thamrin Asset Development, Extended Concourse Bundaran HI, serta Dukuh Atas Pedestrian Deck.
Fokus pengembangannya berada pada properti dan interkoneksi.
Dengan pendekatan tersebut, kawasan di sekitar stasiun tidak hanya diarahkan menjadi lokasi pembangunan properti, tetapi juga menjadi ruang yang menghubungkan transportasi publik, pejalan kaki, ruang publik, dan berbagai aktivitas perkotaan.
7 proyek TOD yang disiapkan MRT Jakarta
Tujuh proyek tersebut tersebar dalam portofolio pengembangan kawasan MRT Jakarta.
Beberapa di antaranya berada di kawasan yang sudah menjadi simpul transportasi penting Jakarta, seperti Blok M, Lebak Bulus, Bundaran HI, dan Dukuh Atas.
Untuk proyek Extended Concourse Bundaran HI, MRT Jakarta menyiapkan ruang multifungsi dan tiga pintu masuk tambahan di Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta.
Dua pintu masuk berada di sisi barat dan satu di sisi timur stasiun.
MRT Jakarta menjelaskan bahwa penambahan tersebut merupakan bagian dari pengembangan sirkulasi bawah tanah sekaligus membuka peluang interkoneksi dengan kawasan komersial di sekitar stasiun.
Proyek tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan 2027.
Pengembangan ini juga berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan kapasitas kawasan Bundaran HI.
MRT Jakarta menyebut Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta merupakan salah satu stasiun tersibuk pada fase 1 dengan rata-rata pelanggan sekitar 450.000 hingga 500.000 orang per bulan.
Jumlah tersebut diperkirakan meningkat ketika pengembangan fase 2A beroperasi.
TOD tidak hanya soal pembangunan gedung
Konsep pengembangan TOD MRT Jakarta sebenarnya sudah berjalan sebelum tujuh proyek terbaru tersebut ditawarkan kepada investor.
Dalam TOD Investment Forum 2024 di Jepang, Direktur Utama MRT Jakarta Tuhiyat menjelaskan bahwa pengembangan TOD ditujukan untuk meningkatkan kualitas kawasan sekaligus memperbaiki mobilitas masyarakat.
“TOD Investment Forum merupakan upaya yang kami lakukan untuk mendorong kerja sama dan kolaborasi dengan berbagai pihak dalam pengembangan kawasan-kawasan di Jakarta menjadi area yang memberikan kenyamanan dan kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat,” kata Tuhiyat.
Menurut dia, pengembangan tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan masyarakat terhadap sistem mobilitas yang lebih efisien.
“Selain itu, untuk memberikan pilihan yang lebih efisien dan efektif bagi warganya dalam bermobilitas dari satu titik ke titik tujuannya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa TOD tidak semata-mata diposisikan sebagai proyek properti.
Integrasi kawasan dengan transportasi publik menjadi bagian penting dari pengembangannya.
Dukuh Atas menjadi salah satu pusat integrasi
Dukuh Atas menjadi salah satu kawasan yang menonjol dalam pengembangan TOD MRT Jakarta.
Sejumlah fasilitas pendukung telah dibangun di kawasan tersebut, termasuk jembatan penyeberangan multiguna, area pedestrian Terowongan Kendal, transport hub, serta pedestrianisasi Jalan Blora dan Pati.
Dalam pengembangan yang dipaparkan MRT Jakarta, Dukuh Atas Pedestrian Deck menjadi salah satu proyek yang ditawarkan.
Infrastruktur tersebut diarahkan untuk semakin memperkuat hubungan antarmoda di kawasan yang telah menjadi salah satu simpul transportasi utama Jakarta.
Dukuh Atas juga memiliki sejarah penting dalam pengembangan TOD Jakarta.
MRT Jakarta menyebut kawasan tersebut sebagai kawasan berorientasi transit pertama di Jakarta yang dikembangkan berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 107 Tahun 2020.
Selain pedestrian deck, Terowongan Interkoneksi Gedung UOB dan Stasiun Dukuh Atas BNI juga telah dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas kawasan.
Blok M dan Lebak Bulus ikut dikembangkan
Blok M menjadi kawasan lain yang masuk dalam agenda pengembangan TOD.
Kawasan ini telah memiliki pengalaman dalam mengintegrasikan stasiun MRT dengan bangunan di sekitarnya.
Dalam forum TOD Investment Forum 2024, MRT Jakarta mencatat adanya kerja sama pengembangan Blok M Mixed Use bersama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero).
“Blok M merupakan salah satu kawasan berorientasi transit pertama yang memiliki koneksi langsung dengan gedung di sekitar stasiun,” demikian keterangan MRT Jakarta mengenai kawasan tersebut.
Pengembangan Blok M juga mencakup ruang publik.
MRT Jakarta mencontohkan revitalisasi Taman Literasi Martha Christina Tiahahu sebagai salah satu hasil pengembangan kawasan.
Sementara itu, Lebak Bulus menjadi bagian lain dari portofolio TOD MRT Jakarta.
Pengembangannya mencakup fasilitas park and ride dan infrastruktur pendukung perjalanan yang menghubungkan kawasan sekitar stasiun dengan berbagai aktivitas di sekitarnya.
Investasi menjadi bagian penting pengembangan TOD
Penawaran tujuh proyek tersebut dibawa MRT Jakarta dalam forum infrastruktur dan transportasi Indonesia–Jepang di Tokyo.
Agenda ini memiliki dimensi yang lebih luas karena pemerintah Indonesia juga membawa berbagai proyek strategis dari sektor infrastruktur dan transportasi.
Dalam forum TOD Investment Forum 2024, MRT Jakarta sebelumnya telah menunjukkan bahwa pasar Jepang menjadi salah satu sasaran untuk membangun kemitraan pengembangan TOD.
Antusiasme investor Jepang terhadap konsep tersebut juga terlihat dari kehadiran lebih dari 50 perusahaan Jepang dalam forum 2024.
Mereka berasal dari berbagai sektor, termasuk lembaga pemerintah, pemilik lahan, konsultan, kontraktor, operator kereta, perusahaan properti, real estate, dan ritel.
Pada forum tersebut, MRT Jakarta juga mencatat penandatanganan tujuh dokumen kerja sama berupa dua Head of Agreement, empat Memorandum of Understanding, dan satu Minutes of Discussion dengan nilai total sekitar Rp11 triliun.
Salah satu kerja sama tersebut berkaitan langsung dengan Dukuh Atas Pedestrian Deck, yang melibatkan Hankyu Hanshin Properties dan Mitsubishi Jisho Design.
Dari stasiun menjadi kawasan perkotaan
Perkembangan proyek-proyek tersebut memperlihatkan perubahan peran MRT Jakarta.
Sistem transportasi massal tidak lagi berdiri sendiri sebagai infrastruktur mobilitas, tetapi menjadi bagian dari pengembangan kawasan perkotaan.
Pendekatan tersebut juga terlihat dari jenis infrastruktur yang dibangun.
Selain stasiun, MRT Jakarta dan mitranya mengembangkan jalur pejalan kaki, transport hub, terowongan interkoneksi, pedestrianisasi, ruang publik, hingga kawasan mixed-use.
Tuhiyat sebelumnya menekankan bahwa pengembangan TOD membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Pengembangan kawasan-kawasan di Jakarta menjadi area yang memberikan kenyamanan dan kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat,” ujarnya ketika menjelaskan tujuan TOD Investment Forum.
Artinya, keberhasilan TOD tidak hanya ditentukan oleh berdirinya sebuah gedung baru.
Kualitas koneksi antarmoda, kemudahan berjalan kaki, akses menuju stasiun, keberadaan ruang publik, dan integrasi dengan kegiatan ekonomi turut menentukan apakah sebuah kawasan benar-benar berfungsi sebagai kawasan berorientasi transit.
Belajar dari Jepang
Pengembangan TOD Jakarta juga mendapat referensi dari pengalaman Jepang.
Dalam rangkaian agenda di Tokyo, delegasi Indonesia berkesempatan melihat pengembangan kawasan yang menggabungkan fungsi transportasi dan mixed-use.
Pengalaman Jepang menjadi relevan karena pengembangan kawasan perkotaan berbasis stasiun telah menjadi bagian dari sistem transportasi dan tata ruang di negara tersebut.
Bagi Jakarta, pendekatan itu dapat menjadi referensi dalam mengembangkan kawasan sekitar stasiun MRT agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat perpindahan penumpang, tetapi juga menjadi pusat kegiatan ekonomi dan sosial.
Tujuh proyek menjadi tahap berikutnya
Tujuh proyek yang disiapkan MRT Jakarta menunjukkan bahwa agenda TOD Jakarta memasuki tahap pengembangan yang semakin luas.
Kali Besar Heritage, XGL Mixed-Use, Ultimate Development Blok M, Lebak Bulus Park and Ride, Thamrin Asset Development, Extended Concourse Bundaran HI, dan Dukuh Atas Pedestrian Deck memiliki karakter pengembangan yang berbeda, tetapi berada dalam kerangka yang sama, yakni mengintegrasikan kawasan dengan transportasi publik.
Sejumlah proyek sudah memiliki bentuk pembangunan yang lebih konkret, sementara proyek lainnya masih berada dalam tahap penyiapan dan penjajakan investasi.
Ke depan, realisasi proyek-proyek tersebut akan bergantung pada kesiapan perencanaan, skema pembiayaan, kemitraan, serta minat investor.
Namun, arah pengembangannya sudah menunjukkan bahwa MRT Jakarta tidak hanya membangun jaringan kereta, tetapi juga berupaya membentuk lingkungan perkotaan di sekitar simpul transportasi.
Jika integrasi tersebut berjalan baik, kawasan TOD dapat memberikan manfaat lebih luas bagi Jakarta, perjalanan yang lebih mudah, konektivitas antarmoda yang lebih baik, ruang publik yang lebih terintegrasi, serta peluang pertumbuhan ekonomi di sekitar stasiun.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara