Di Balik Mata Air Jernih Goa Sodong Banyuwangi, Tersimpan Kisah Mbah Kecling

Shinta Ayu Rahma Wardani • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 14:23 WIB
Suasana Goa Sodong di Desa Grogol, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Kawasan ini memadukan daya tarik mata air alami dengan cerita tentang Mbah Kecling dan sejarah lokal Blambangan. (Shinta untuk Radar Banyuwangi)
Suasana Goa Sodong di Desa Grogol, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Kawasan ini memadukan daya tarik mata air alami dengan cerita tentang Mbah Kecling dan sejarah lokal Blambangan. (Shinta untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Air jernih mengalir di tengah rimbunnya pepohonan Desa Grogol, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Suasananya sejuk dan tenang, tetapi kawasan Goa Sodong tidak hanya menawarkan tempat untuk menikmati kesegaran alam.

Di balik kolam pemandian alami dan keberadaan gua tersebut, tersimpan cerita tentang Mbah Kecling, sosok yang dipercaya masyarakat setempat memiliki hubungan keturunan dengan Wong Agung Wilis, tokoh yang dikenal dalam sejarah perjuangan rakyat Blambangan.

Kisah itulah yang membuat Goa Sodong memiliki daya tarik berbeda. Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati suasana alam, tetapi juga dapat mengenal cerita sejarah dan tradisi yang berkembang di tengah masyarakat sekitar.

Goa Sodong Bukan Sekadar Pemandian Alami

Goa Sodong berada di lingkungan yang masih terasa asri. Pepohonan rindang berpadu dengan aliran mata air yang menjadi salah satu daya tarik kawasan.

Bagi masyarakat dan pengelola setempat, potensi Goa Sodong tidak berhenti pada wisata alam. Kawasan tersebut juga memiliki nilai historis dan spiritual yang terus diperkenalkan kepada pengunjung.

Berdasarkan data Sistem Informasi Data Destinasi Pariwisata (SIDITA) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Goa Sodong tercatat memiliki nilai sejarah selain daya tarik wisata alam.

Nilai tersebut menjadi bagian penting dalam upaya pengembangan kawasan agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mengenalkan sejarah lokal kepada masyarakat.

Mas Hariri, pengelola kawasan Goa Sodong, menilai cerita masa lalu yang melekat pada tempat tersebut merupakan bagian dari potensi wisata yang perlu dijaga.

“Selain wahana wisata, Goa Sodong juga mampu mengedukasi sejarah tentang adanya sebuah peristiwa dan pertapaan leluhur di tempat ini,” ujar Hariri.

Kisah Mbah Kecling di Balik Goa

Salah satu cerita yang melekat kuat pada Goa Sodong berkaitan dengan sosok Mbah Kecling. Masyarakat setempat mengenalnya dengan nama asli H. Hasan.

Dalam kisah yang berkembang di tengah masyarakat, H. Hasan dipercaya memiliki hubungan keturunan dengan Wong Agung Wilis. Goa Sodong kemudian dikenal sebagai salah satu tempat yang digunakan Mbah Kecling untuk bertapa, merenung, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Kisah tersebut membuat keberadaan gua memiliki makna tersendiri bagi masyarakat sekitar. Tempat yang secara fisik merupakan bagian dari lingkungan alam itu juga dipandang sebagai ruang yang menyimpan jejak perjalanan spiritual leluhur.

Karena bersumber dari cerita dan kepercayaan masyarakat, kisah mengenai hubungan Mbah Kecling dengan Wong Agung Wilis perlu ditempatkan sebagai bagian dari narasi lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Jejak Wong Agung Wilis dalam Sejarah Blambangan

Nama Wong Agung Wilis memiliki tempat penting dalam sejarah Blambangan. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang memimpin perlawanan rakyat Blambangan terhadap kompeni Belanda pada abad ke-18.

Bagi masyarakat yang mewarisi cerita tersebut, semangat perjuangan Wong Agung Wilis kemudian dikaitkan dengan sosok Mbah Kecling. Hubungan itu menjadikan Goa Sodong tidak hanya menarik dari sisi alam, tetapi juga memiliki narasi sejarah yang kuat.

Di tempat seperti inilah sejarah lokal dapat dikenalkan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Pengunjung dapat melihat langsung lingkungan yang menjadi bagian dari cerita, bukan hanya membaca nama tokoh dan peristiwa dari buku.

Warga Ikut Menata Kawasan

Potensi tersebut kemudian mendorong warga lokal bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk terus menata kawasan Goa Sodong.

Penataan dilakukan dengan tetap memperhatikan keberadaan situs yang dianggap memiliki nilai historis dan spiritual. Di sisi lain, kawasan tersebut juga diarahkan agar dapat menjadi ruang publik yang dapat dinikmati masyarakat.

Upaya itu menunjukkan bahwa pengembangan destinasi tidak selalu harus menghilangkan karakter asli sebuah tempat. Justru cerita lokal dan lingkungan alam dapat menjadi bagian dari identitas wisata.

Bagi Goa Sodong, identitas tersebut terletak pada perpaduan antara mata air, pepohonan, keberadaan gua, serta cerita mengenai leluhur yang berkembang di masyarakat.

Mengenal Sejarah Tidak Harus dari Buku

Ada cara lain untuk mengenal sejarah selain membaca buku atau mendengarkan penjelasan di ruang kelas. Mengunjungi tempat yang berkaitan dengan cerita masa lalu dapat memberikan pengalaman yang berbeda.

Di Goa Sodong, pengunjung dapat menikmati suasana alam sekaligus mendengar kisah tentang Mbah Kecling dan keterkaitannya dengan sejarah Blambangan.

Pengalaman semacam ini menjadi penting karena sejarah lokal sering kali hidup melalui cerita masyarakat. Ketika cerita tersebut diperkenalkan dengan tetap menghormati fakta dan konteksnya, destinasi wisata dapat berfungsi sekaligus sebagai ruang edukasi.

Goa Sodong akhirnya menawarkan dua pengalaman dalam satu kunjungan. Di satu sisi ada kesejukan mata air dan lingkungan yang rindang. Di sisi lain terdapat cerita tentang laku spiritual dan jejak perjuangan yang menjadi bagian dari ingatan masyarakat Banyuwangi.

Bagi pencinta wisata alam maupun mereka yang ingin mengenal sejarah lokal lebih dekat, Goa Sodong di Desa Grogol dapat menjadi salah satu tujuan yang menawarkan pengalaman berbeda.

Lebih dari sekadar menikmati air yang jernih, kunjungan ke kawasan ini juga dapat menjadi kesempatan untuk memahami bagaimana alam, sejarah, dan cerita leluhur terus hidup berdampingan di tanah Blambangan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Goa Sodong Mbah Kecling Wong Agung Wilis wisata sejarah banyuwangi