Museum Kereta Api Ambarawa Dikunjungi 490.487 Orang, Simpan Jejak Kereta Api Indonesia

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 15:04 WIB
Museum Kereta Api Ambarawa menempati bekas Stasiun Ambarawa atau Willem I Station yang mulai beroperasi pada 21 Mei 1873 dan kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Kabupaten Semarang. (Antara)
Museum Kereta Api Ambarawa menempati bekas Stasiun Ambarawa atau Willem I Station yang mulai beroperasi pada 21 Mei 1873 dan kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Kabupaten Semarang. (Antara)

RADAR BANYUWANGI - Museum Kereta Api Ambarawa di Kabupaten Semarang mencatat tingginya minat masyarakat sepanjang beberapa tahun terakhir. Hingga Agustus 2026, destinasi wisata sejarah yang menempati bekas Stasiun Ambarawa atau Willem I Station tersebut telah dikunjungi 148.148 orang sepanjang tahun berjalan.

Jika dihitung sejak 2024, jumlah kunjungan ke Museum Kereta Api Ambarawa mencapai 490.487 orang. Angka itu terdiri atas 161.395 pengunjung pada 2024, 180.944 pengunjung pada 2025, dan 148.148 pengunjung selama Januari–Agustus 2026.

Kenaikan kunjungan juga terlihat dari perbandingan dua tahun penuh terakhir. Jumlah pengunjung pada 2025 meningkat sekitar 12 persen dibandingkan 2024. Sementara hingga delapan bulan pertama 2026, jumlah kunjungannya telah mencapai sekitar 82 persen dari total kunjungan sepanjang 2025.

Di balik tingginya minat tersebut, Museum Kereta Api Ambarawa menyimpan cerita panjang perkembangan transportasi rel di Indonesia. Bangunan stasiun, koleksi lokomotif, sarana kereta api, hingga teknologi jalur bergerigi menjadi bagian dari peninggalan sejarah yang masih dapat dilihat masyarakat.

Museum Kereta Api Ambarawa dan Sejarah Stasiun Willem I

Museum ini berada di bekas Stasiun Ambarawa yang pada masa kolonial dikenal sebagai Willem I Station. Stasiun tersebut dibangun oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dan mulai beroperasi pada 21 Mei 1873.

Pengoperasian Stasiun Ambarawa bertepatan dengan dibukanya jalur kereta api Kedungjati–Ambarawa. Kehadiran jalur tersebut menjadi bagian dari perkembangan jaringan transportasi rel di wilayah Jawa pada masa itu.

Nama Willem I berkaitan dengan Benteng Willem I yang berada di kawasan Ambarawa. Pada masa operasionalnya, stasiun tersebut memiliki peran dalam menunjang mobilitas masyarakat, pengangkutan barang, serta aktivitas kawasan di sekitarnya.

Kini, fungsi stasiun telah berubah. Bangunan bersejarah tersebut menjadi ruang untuk mengenalkan kembali perjalanan perkeretaapian Indonesia kepada masyarakat melalui berbagai peninggalan yang masih terawat.

Jalur Bergerigi Menuju Bedono

Salah satu bagian yang membuat sejarah perkeretaapian Ambarawa menarik adalah keberadaan jalur kereta api bergerigi menuju Bedono.

Jalur tersebut menggunakan teknologi rack railway atau rel bergerigi. Teknologi ini membantu kereta melewati jalur dengan kemiringan yang cukup tinggi di kawasan pegunungan.

Penggunaan sistem tersebut menunjukkan adanya penyesuaian teknologi perkeretaapian terhadap kondisi geografis. Medan yang menanjak membutuhkan sistem pendukung agar kereta dapat bergerak dengan lebih aman dan efektif.

Jejak jalur bergerigi itu menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah perkembangan teknologi kereta api di Indonesia. Bagi pengunjung, keberadaannya juga memperlihatkan bahwa perjalanan kereta api di Indonesia sejak masa lalu tidak hanya berkaitan dengan lokomotif dan stasiun, tetapi juga dengan kemampuan teknologi menghadapi karakter alam di setiap wilayah.

Dari Stasiun Tua Menjadi Museum

Perjalanan Stasiun Ambarawa berlanjut melalui upaya pelestarian sejarah perkeretaapian. Pada 21 April 1978, Stasiun Ambarawa diresmikan sebagai Museum Kereta Api Ambarawa.

Sejak saat itu, kawasan tersebut menjadi salah satu tempat untuk melihat berbagai peninggalan perjalanan kereta api. Koleksinya mencakup lokomotif uap, sarana kereta api, serta berbagai perlengkapan yang berkaitan dengan kegiatan operasional perkeretaapian.

Koleksi tersebut tidak hanya menjadi benda pajangan. Keberadaannya membantu masyarakat memahami perubahan teknologi transportasi rel dari masa ke masa sekaligus melihat bagaimana kereta api pernah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dan perkembangan suatu wilayah.

Kunjungan Wisatawan Terus Bergerak

Tingginya kunjungan ke Museum Kereta Api Ambarawa sejalan dengan aktivitas pariwisata di Kabupaten Semarang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Semarang, jumlah kunjungan wisatawan pada 2025 mencapai 4.511.945 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.506.002 merupakan wisatawan nusantara, sedangkan 5.943 lainnya merupakan wisatawan mancanegara.

Data tersebut menunjukkan bahwa wisata domestik masih menjadi bagian terbesar dari aktivitas pariwisata di Kabupaten Semarang. Museum Kereta Api Ambarawa menjadi salah satu destinasi yang menawarkan pengalaman berbeda karena wisatawan dapat menikmati tempat bersejarah sekaligus mengenal perkembangan transportasi Indonesia.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan Museum Kereta Api Ambarawa menjadi salah satu destinasi yang memperkenalkan perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia melalui peninggalan sejarah yang masih dapat dilihat hingga sekarang.

“Perjalanan kereta api Indonesia memiliki banyak cerita yang tersimpan di berbagai daerah. Museum Kereta Api Ambarawa memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk melihat langsung jejak perjalanan tersebut melalui bangunan stasiun bersejarah, koleksi sarana, serta teknologi perkeretaapian yang berkembang sesuai kondisi wilayah Indonesia,” ujar Anne, Minggu (13/9).

Semarang Juga Ditopang Mobilitas Kereta Api

Perjalanan masyarakat menuju kawasan Semarang dan sekitarnya turut didukung oleh layanan kereta api.

Sepanjang Januari–Agustus 2026, Stasiun Semarang Tawang melayani 1.262.315 pelanggan naik dan turun. Jumlah tersebut terdiri atas 628.946 pelanggan naik dan 633.369 pelanggan turun.

Pada periode yang sama, Stasiun Semarang Poncol mencatat 1.867.005 pelanggan naik dan turun. Rinciannya, sebanyak 902.984 pelanggan naik dan 964.021 pelanggan turun.

Data tersebut memperlihatkan besarnya mobilitas masyarakat melalui transportasi kereta api di kawasan Semarang. Bagi wisatawan yang datang dari berbagai daerah, layanan kereta api juga menjadi salah satu bagian dari perjalanan menuju destinasi wisata di Jawa Tengah.

Bagi wisatawan dari Jawa Timur, termasuk masyarakat Banyuwangi yang hendak menjelajahi kawasan Jawa Tengah, Museum Kereta Api Ambarawa dapat menjadi salah satu pilihan destinasi ketika berkunjung ke Semarang dan Kabupaten Semarang.

Wisata Akhir Pekan Sekaligus Mengenal Sejarah

Menjelang akhir pekan, Museum Kereta Api Ambarawa menawarkan pengalaman wisata yang berbeda. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat bangunan tua, tetapi juga dapat mengenali berbagai sarana perkeretaapian dan memahami perjalanan teknologi kereta api di Indonesia.

Usianya yang telah melampaui 150 tahun sebagai bekas stasiun membuat kawasan ini memiliki nilai sejarah tersendiri. Sementara keberadaan jalur bergerigi menuju Bedono memberikan gambaran tentang bagaimana teknologi perkeretaapian harus beradaptasi dengan kondisi geografis.

Dengan catatan 148.148 pengunjung hingga Agustus 2026, Museum Kereta Api Ambarawa menunjukkan bahwa peninggalan sejarah masih memiliki daya tarik bagi wisatawan masa kini.

Berwisata ke Ambarawa bukan sekadar melihat lokomotif dan bangunan stasiun. Di tempat ini, masyarakat dapat menyusuri salah satu bagian dari perjalanan panjang kereta api yang ikut membentuk mobilitas, teknologi, dan perkembangan kawasan di Indonesia.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Museum Kereta Api Ambarawa wisata sejarah Semarang wisata Kabupaten Semarang destinasi heritage kereta api indonesia