Bukan Cuma Kereta, MRT Jakarta Bidik Kebangkitan Blok M dan Kota Tua

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 11:12 WIB
Aktivitas masyarakat di kawasan Blok M menjadi salah satu contoh penataan ruang publik yang diarahkan untuk menghidupkan kembali ekonomi lokal, UMKM, dan aktivitas komunitas. (ChatGPT)
Aktivitas masyarakat di kawasan Blok M menjadi salah satu contoh penataan ruang publik yang diarahkan untuk menghidupkan kembali ekonomi lokal, UMKM, dan aktivitas komunitas. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Blok M dan Kota Tua sedang ditempatkan dalam satu gagasan besar pengembangan Jakarta. Kawasan yang tidak hanya menjadi titik perpindahan penumpang, tetapi juga ruang untuk berkumpul, berwisata, dan menggerakkan ekonomi lokal.

PT MRT Jakarta (Perseroda) mengembangkan konsep placemaking untuk membuat kawasan yang terintegrasi dengan transportasi umum menjadi lebih hidup. Pendekatan ini tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga menyentuh aktivitas masyarakat, keberadaan UMKM, komunitas, hingga karakter sejarah sebuah kawasan.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, Samuel Ryan Pradipta, mengatakan placemaking merupakan pendekatan dalam merancang dan mengelola ruang publik agar memiliki karakter serta mampu menciptakan pengalaman yang bermakna bagi masyarakat.

“Yaitu tempat yang hidup, inklusif, dan bermakna dengan berbagai aktivitas di dalamnya, serta pelibatan masyarakat dan bisnis lokal, tidak hanya sekadar pembangunan fisik atau infrastruktur,” kata Samuel, Rabu (9/9).

Menurut dia, pendekatan tersebut sejalan dengan salah satu pilar bisnis MRT Jakarta, yakni city regenerator. Melalui konsep ini, kawasan di sekitar stasiun diharapkan tidak hanya menjadi area transit, tetapi berkembang menjadi simpul ekonomi baru.

“City regenerator ini sebetulnya menghidupkan lagi simpul-simpul ekonomi yang ada di kota, khususnya kota tercinta kita di Jakarta,” ujar Samuel.

Hampir 500 UMKM Jadi Bagian dari Ekosistem MRT

Blok M menjadi salah satu contoh kawasan yang disebut dalam penerapan pendekatan tersebut. Kawasan yang pernah mengalami penurunan aktivitas kini kembali dikenal sebagai salah satu tujuan masyarakat, termasuk untuk menikmati kuliner dan suasana yang memadukan tren baru dengan nilai nostalgia.

Perubahan aktivitas di kawasan tersebut dinilai turut membuka kesempatan bagi pelaku usaha lokal. Samuel menyebut hampir 500 UMKM saat ini telah menjadi tenant MRT Jakarta.

“Selain itu nyaman untuk siapa pun, dan yang paling penting sebetulnya ekonominya jadi tumbuh. Di situ, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM)-nya bisa berkembang. Sekarang UMKM yang menjadi tenant MRT sudah hampir 500,” kata Samuel.

Keterlibatan UMKM menjadi bagian penting karena aktivitas ekonomi lokal diharapkan memberikan dampak berantai. Ketika masyarakat berbelanja dan beraktivitas di usaha lokal, perputaran ekonomi kawasan ikut meningkat.

“Kami senang juga bisa bekerja sama dengan UMKM karena kalau belanjanya banyak di UMKM, UMKM yang tumbuh, pada ujungnya nanti pendapatan daerahnya di DKI Jakarta juga meningkat,” ujarnya.

Bagi MRT Jakarta, keberhasilan sebuah kawasan bukan hanya diukur dari ramainya orang yang melintas. Ruang tersebut juga perlu memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk tinggal lebih lama, berinteraksi, serta melakukan berbagai kegiatan.

Karena itu, placemaking juga diarahkan untuk membangun sense of belonging atau rasa memiliki terhadap kawasan. Masyarakat tidak hanya menjadi pengguna ruang, tetapi ikut terlibat dalam membentuk aktivitas di dalamnya.

“Sebetulnya, kata kuncinya adalah inklusif, dan yang paling penting konsep placemaking ini adalah melibatkan masyarakat dan bisnis lokal,” kata Samuel.

“Jadi kita siapkan tempat, lalu masyarakat melibatkan, termasuk komunitas-komunitas atau bisnis juga dirangkul untuk membuat suatu kawasan ini hidup,” imbuhnya.

Kenyamanan dan Konektivitas Jadi Kunci

Dalam penerapannya, terdapat sejumlah unsur yang menjadi perhatian, mulai dari keterhubungan berbagai akses transportasi, kenyamanan, keamanan, hingga aktivitas yang membuat masyarakat memiliki alasan untuk datang dan berinteraksi.

Menurut Samuel, ruang publik akan benar-benar hidup ketika masyarakat merasa nyaman menggunakannya, baik untuk bertemu teman, berkumpul bersama komunitas, maupun menjalankan kegiatan lainnya.

“Karena justru ini yang akan menghidupkan semua dari kawasannya. Kalau orang sudah nyaman di situ, bisa berkumpul sama komunitasnya di sana, bertemu teman, janjian, dan lain-lain, itu baru memenuhi konsep dari placemaking,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, pembangunan transportasi publik diposisikan sebagai bagian dari pengembangan kawasan yang lebih luas. Stasiun dan jaringan MRT diharapkan menjadi penghubung berbagai aktivitas, bukan sekadar tempat naik dan turun penumpang.

Kota Tua Dikembangkan Tanpa Menghilangkan Heritage

Pendekatan placemaking juga diterapkan dalam pengembangan kawasan Kota Tua. Bedanya, kawasan ini memiliki identitas sejarah yang kuat sehingga pembangunan harus berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan warisan atau heritage.

“Heritage-nya tidak boleh hilang, karena itu kekayaan kota kita juga,” kata Samuel.

Pengembangan Kota Tua tersebut berlangsung dalam konteks pembangunan MRT Jakarta Fase 2A rute Bundaran HI-Kota. Hingga Juni 2026, progres pembangunan fase tersebut telah mencapai 61,8 persen.

Fase 2A terdiri atas dua segmen. Segmen 1 yang menghubungkan Bundaran HI-Monas ditargetkan selesai dan mulai beroperasi pada akhir 2027. Sementara jalur yang berlanjut hingga Kota pada segmen 2 ditargetkan selesai dan beroperasi penuh pada akhir 2029.

Menurut Samuel, kawasan Kota Tua sudah memiliki identitas yang kuat. Karakter Pecinan Glodok dan bangunan-bangunan peninggalan Belanda menjadi bagian yang akan dipertahankan dalam pengembangan kawasan.

Di sisi lain, aktivitas ekonomi yang selama ini melekat dengan Glodok juga diharapkan tetap hidup. Salah satunya adalah perdagangan elektronik yang telah lama dikenal masyarakat.

“Jadi memang Kota ini sebetulnya sudah punya identity. Kawasan Glodok dan Pecinan, banyak juga bangunan Belanda. Tapi, orang juga ingat ke sana untuk belanja elektronik, diharapkan ini juga tetap ada untuk menjadi sentra elektronik yang hidup kembali,” ujar Samuel.

Pengembangan Kota Tua juga diarahkan untuk memperkuat aktivitas kesenian, khususnya film. Dengan begitu, kawasan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tujuan wisata sejarah, tetapi juga memiliki kegiatan yang berlangsung secara berkelanjutan.

Pendekatan serupa telah diterapkan di sejumlah kawasan Asia yang mampu mempertahankan identitas sejarah sekaligus mengembangkan aktivitas ekonomi dan pariwisata. Samuel mencontohkan Chinatown dan Little India di Singapura, George Town di Penang, Malaysia, serta Shanghai di China.

Targetnya, Wisatawan Tinggal Lebih Lama di Jakarta

Integrasi transportasi, ruang publik, aktivitas ekonomi, dan kawasan heritage juga diharapkan memperkuat daya tarik Jakarta sebagai destinasi wisata.

Menurut Samuel, salah satu persoalan yang ingin didorong penyelesaiannya adalah durasi kunjungan wisatawan di Jakarta. Rata-rata wisatawan yang berkunjung ke Ibu Kota disebut hanya tinggal sekitar satu hingga dua malam sebelum meneruskan perjalanan ke destinasi lain, seperti Bandung, Bali, atau Bangka Belitung.

Pengembangan kawasan seperti Kota Tua dan Blok M diharapkan memberikan lebih banyak alasan bagi wisatawan untuk menjadikan Jakarta sebagai tujuan yang dieksplorasi lebih lama.

“Jadi kita dorong agar bisa stay lebih lama di Jakarta, 3-4 hari, bisa explore dulu ke Kota Tua, ke Blok M. Itu yang sedang didorong oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” katanya.

Konsep placemaking yang dikembangkan MRT Jakarta menempatkan transportasi publik sebagai bagian dari ekosistem perkotaan. Stasiun tidak hanya menjadi titik perjalanan, tetapi dapat menjadi pintu masuk menuju ruang ekonomi, sosial, budaya, dan wisata.

Bagi masyarakat, keberhasilan pendekatan ini akan terlihat ketika kawasan yang terintegrasi dengan transportasi umum tidak hanya ramai saat jam berangkat dan pulang kerja, tetapi tetap hidup karena memiliki aktivitas yang membuat orang ingin datang, tinggal lebih lama, dan kembali lagi.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Kota Tua Jakarta placemaking development UMKM Jakarta mrt jakarta blok m