RADAR BANYUWANGI - Stasiun Ketapang Banyuwangi semakin ramai. Sepanjang Januari-Agustus 2026, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat 553.202 aktivitas pelanggan naik dan turun di stasiun yang berada di ujung timur Pulau Jawa tersebut.
Jumlah itu meningkat 8,50 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencatat 509.862 aktivitas pelanggan.
Kenaikan dalam setahun terakhir menjadi bagian dari tren pertumbuhan yang berlangsung sejak 2022. Jika dibandingkan dengan Januari-Agustus 2022, aktivitas pelanggan Stasiun Ketapang pada 2026 meningkat 275.274 aktivitas atau sekitar 99,05 persen.
Dengan kata lain, dalam kurun empat tahun, aktivitas pelanggan di Stasiun Ketapang hampir berlipat ganda.
Pertumbuhan tersebut memperlihatkan semakin pentingnya Stasiun Ketapang dalam mobilitas masyarakat di Banyuwangi. Letaknya yang berdekatan dengan Pelabuhan Ketapang juga membuat stasiun ini memiliki posisi strategis bagi masyarakat yang melanjutkan perjalanan menuju Pulau Bali.
Aktivitas Pelanggan Hampir Berlipat Ganda Sejak 2022
Pertumbuhan aktivitas pelanggan Stasiun Ketapang terlihat konsisten dalam data Januari–Agustus selama lima tahun terakhir.
Pada 2022, jumlah aktivitas pelanggan tercatat 277.928. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 388.193 pada 2023 dan kembali bertambah menjadi 449.867 pada 2024.
Pada 2025, aktivitas pelanggan mencapai 509.862. Setahun berikutnya, jumlah tersebut kembali naik hingga 553.202 aktivitas pada Januari–Agustus 2026.
Rinciannya sebagai berikut:
- 2022: 277.928
- 2023: 388.193
- 2024: 449.867
- 2025: 509.862
- 2026: 553.202
Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak hanya terjadi dalam satu tahun terakhir. Dalam empat tahun, jumlah aktivitas pelanggan tercatat bertambah hampir 100 persen.
Namun, angka tersebut merupakan aktivitas pelanggan naik dan turun, bukan jumlah individu penumpang. Karena itu, data tersebut tidak secara langsung dapat digunakan untuk menyimpulkan jumlah wisatawan yang datang ke Banyuwangi atau menyeberang ke Bali.
Dari Stasiun Banyuwangi hingga Menjadi Stasiun Ketapang
Di balik meningkatnya aktivitas saat ini terdapat sejarah panjang perjalanan kereta api di Banyuwangi.
Jaringan kereta api menuju Banyuwangi dibangun pada masa Hindia Belanda oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api negara saat itu. Pembangunan jalur dari wilayah Jawa Timur kemudian dilanjutkan hingga mencapai ujung timur Pulau Jawa.
Lintas Mrawan-Banyuwangi sepanjang 58 kilometer selesai dibangun dan dibuka untuk umum pada 2 Februari 1903. Bersamaan dengan pembukaan jalur tersebut, Stasiun Banyuwangi mulai beroperasi sebagai stasiun ujung timur jaringan kereta api Pulau Jawa.
Pada masa awal operasinya, stasiun tersebut tidak hanya melayani penumpang. Keberadaannya juga berkaitan dengan aktivitas perdagangan melalui Pelabuhan Boom di kawasan Mandar.
Kereta api menjadi sarana untuk membawa penumpang sekaligus barang yang keluar dan masuk Banyuwangi melalui jalur laut. Fungsi tersebut membuat stasiun menjadi salah satu bagian dari aktivitas ekonomi kawasan pada masanya.
Perjalanan kereta api di Banyuwangi kemudian berkembang. Pada 1926, tercatat 12 perjalanan kereta api yang singgah di Stasiun Banyuwangi, termasuk layanan pulang-pergi pada rute Kalibaru–Banyuwangi dan Kalisat–Banyuwangi.
Ketika Pusat Konektivitas Bergeser ke Ketapang
Perubahan tidak berhenti pada perkembangan jaringan kereta api. Peta konektivitas Banyuwangi juga berubah ketika aktivitas pelabuhan bergeser ke Ketapang.
Sejak 1 Januari 1974, aktivitas pelabuhan dipindahkan dari Pelabuhan Boom ke kawasan Ketapang. Pergeseran tersebut kemudian mendorong pembangunan jalur kereta api yang mengarah ke kawasan penyeberangan menuju Bali.
Jalur Kabat–Banyuwangi Baru resmi dibuka pada 7 September 1985. Pada saat yang sama, Stasiun Banyuwangi Baru mulai beroperasi.
Lokasi stasiun baru lebih dekat dengan Pelabuhan Ketapang. Pelayanan penumpang pun secara bertahap dialihkan dari Stasiun Banyuwangi Lama ke stasiun baru tersebut.
Stasiun Banyuwangi Lama akhirnya resmi dinonaktifkan pada 31 Maret 1988.
Nama Stasiun Banyuwangi Baru kemudian berubah menjadi Stasiun Ketapang pada 2019. Pergantian tersebut melengkapi perubahan fungsi kawasan yang sebelumnya berpusat di sekitar Pelabuhan Boom menjadi kawasan Ketapang sebagai salah satu titik penting konektivitas Banyuwangi menuju Bali.
Lebih dari Seabad Menjadi Bagian dari Mobilitas Banyuwangi
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan perkembangan Stasiun Ketapang tidak terlepas dari perubahan kebutuhan masyarakat dan kawasan Banyuwangi.
“Stasiun Ketapang memiliki cerita panjang sejak kereta api mencapai Banyuwangi lebih dari satu abad lalu. Perjalanannya menggambarkan perubahan peran kereta api, dari mendukung aktivitas perdagangan hingga menjadi penghubung perjalanan masyarakat menuju Banyuwangi dan Bali,” ujar Anne.
Sejarah tersebut menunjukkan bahwa fungsi stasiun mengalami perubahan mengikuti perkembangan kawasan. Pada awal abad ke-20, konektivitas kereta api berkaitan erat dengan aktivitas perdagangan dan Pelabuhan Boom. Kini, keberadaan Stasiun Ketapang lebih dekat dengan kebutuhan mobilitas masyarakat dan koneksi menuju Pelabuhan Ketapang.
Pertumbuhan aktivitas pelanggan dalam beberapa tahun terakhir menjadi gambaran lain dari perubahan tersebut.
Bagi Banyuwangi, posisi Stasiun Ketapang tidak hanya berkaitan dengan perjalanan kereta api. Kedekatannya dengan kawasan penyeberangan membuat stasiun tersebut menjadi bagian dari rangkaian perjalanan darat masyarakat yang menuju atau datang dari Bali.
Anne mengatakan perjalanan Stasiun Ketapang merupakan bagian dari sejarah panjang perkembangan perkeretaapian di Banyuwangi.
“Perjalanan Stasiun Ketapang menjadi bagian dari cerita panjang perkeretaapian Indonesia. Dari stasiun yang dahulu mendukung aktivitas perdagangan melalui Pelabuhan Boom hingga menjadi simpul mobilitas masyarakat saat ini, setiap perkembangan kawasan ikut membentuk perjalanan stasiun ini,” kata Anne.
Lebih dari satu abad setelah kereta api pertama kali mencapai Banyuwangi, Stasiun Ketapang masih memainkan peran penting dalam mobilitas di ujung timur Pulau Jawa.
Dari stasiun yang dahulu terhubung dengan aktivitas perdagangan di Pelabuhan Boom, perjalanan sejarah akhirnya membawa pusat konektivitas tersebut ke Ketapang. Kini, pertumbuhan aktivitas pelanggan menjadi penanda bahwa stasiun tersebut terus mengikuti perubahan perjalanan masyarakat Banyuwangi dan konektivitas menuju Bali.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara