RADAR BANYUWANGI - Stasiun Bogor yang kini melayani sekitar 130.000 penumpang setiap hari akan ditata untuk menjadi kawasan transportasi yang lebih terintegrasi. Penataan tersebut mencakup konektivitas KRL dengan Trans Pakuan, transportasi daring, hingga peluang pengembangan LRT perkotaan.
Rencana itu mengemuka seiring penguatan kerja sama antara PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Gojek. Kedua perusahaan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk memperkuat integrasi mobilitas sekaligus mendukung penataan kawasan Stasiun Bogor.
Kerja sama tersebut diresmikan di Bogor pada Senin (7/9). Kolaborasi KAI dan Gojek sebenarnya telah berlangsung sejak 2022 melalui GoTransit, yang mengintegrasikan layanan GoRide dan GoCar dengan KRL Commuter Line.
Kini, ruang kerja sama diperluas dengan penataan kawasan stasiun dan penyediaan titik jemput transportasi daring agar perpindahan penumpang dari kereta menuju moda berikutnya berlangsung lebih teratur.
Stasiun Bogor Layani 130 Ribu Penumpang per Hari
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan Stasiun Bogor memiliki peran penting sebagai salah satu simpul mobilitas masyarakat perkotaan.
Menurut dia, jumlah penumpang yang menggunakan Stasiun Bogor telah mencapai sekitar 130.000 orang per hari. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 100.000 penumpang setiap hari.
Peningkatan volume penumpang membuat kebutuhan konektivitas antarmoda menjadi semakin penting. Kawasan stasiun tidak hanya perlu melayani perjalanan menggunakan kereta, tetapi juga mengatur perpindahan penumpang menuju berbagai pilihan transportasi lainnya.
"Kita harapkan dengan konsep konektivitas ini tidak hanya ada KRL saja. Juga ada nanti Trans Pakuan, kemudian ada angkutan daring. Bahkan kita sedang membicarakan bagaimana kalau kita menginisiasi konsep LRT perkotaan di Bogor," kata Bobby.
Konsep tersebut menempatkan Stasiun Bogor sebagai bagian dari ekosistem transportasi yang menghubungkan beberapa moda. Dengan demikian, perjalanan penumpang tidak berhenti ketika keluar dari stasiun, tetapi dapat dilanjutkan menggunakan layanan transportasi lain secara lebih terarah.
Titik Jemput Gojek Disiapkan di Kawasan Stasiun
Dalam skema integrasi tersebut, Gojek menghadirkan titik jemput GoRide Instant dan GoCar Instant di kawasan stasiun, termasuk Stasiun Bogor.
Titik jemput tersebut terhubung dengan fitur Instant pada aplikasi Gojek. Penumpang KRL yang ingin meneruskan perjalanan menggunakan transportasi daring dapat menuju lokasi yang telah ditentukan setelah keluar dari stasiun.
Penempatan titik jemput secara khusus juga menjadi bagian dari upaya menata aktivitas kendaraan dan penumpang di sekitar stasiun. Dengan lokasi penjemputan yang lebih terarah, proses naik dan turun penumpang diharapkan berlangsung secara lebih tertib.
Chief of Partnership GoTo Henky Prihatna mengatakan integrasi tersebut ditujukan untuk mempermudah perjalanan masyarakat sejak dari rumah hingga mencapai tujuan akhir.
"Kami berharap ini dapat membuat perjalanan masyarakat semakin mudah dan nyaman dari rumah ke stasiun, melanjutkan perjalanan dengan kereta, hingga sampai ke tujuan. Di saat yang sama, kami juga berharap agar kerja sama dan integrasi ini dapat membuka peluang pendapatan yang berkelanjutan bagi Mitra Driver Gojek," kata Henky di Bogor, Senin (7/9).
Menurut Henky, titik jemput GoRide dan GoCar Instant kini telah dihadirkan di 37 stasiun, termasuk Stasiun Bogor.
"Gojek turut menjadi bagian dengan menghadirkan titik jemput GoRide dan GoCar Instant di 37 stasiun, termasuk di Stasiun Bogor," ujar Henky.
Penataan Kawasan Melibatkan Beragam Moda
Rencana penataan Stasiun Bogor tidak hanya berkaitan dengan layanan transportasi daring. KAI Group menyampaikan bahwa kawasan tersebut akan diarahkan untuk mengakomodasi berbagai moda transportasi dalam satu ekosistem mobilitas.
Trans Pakuan menjadi salah satu moda yang disebut akan diintegrasikan. Selain itu, KAI juga membuka pembahasan mengenai kemungkinan pengembangan LRT perkotaan di Bogor.
Wali Kota Bogor Dedie Abdu Rachim mengatakan penataan kawasan perlu dilakukan secara menyeluruh agar distribusi penumpang dapat berlangsung dengan lebih baik.
"Nanti kita menata ulang secara keseluruhan (Stasiun Bogor) dan kemudian akan menjadikan identitas Bogor yang lebih hebat lagi. Kita juga harus coba tata transportasi untuk distribusi penumpang. Artinya tetap ada yang pakai kendaraan transportasi publik massal, tetapi juga ada yang daring," kata Dedie.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kawasan Stasiun Bogor tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan layanan satu moda. Penataan juga menyentuh bagaimana penumpang berpindah dari satu layanan transportasi ke layanan lainnya.
Kerja Sama Berlanjut ke Layanan Digital
Penguatan kolaborasi KAI dan Gojek juga mencakup peluang integrasi di sektor digital. Salah satu yang disiapkan adalah pemanfaatan GoPay sebagai solusi pembayaran digital dalam ekosistem KAI Group.
Kedua pihak juga menjajaki pemanfaatan teknologi Gojek dan GoPay untuk aplikasi KAI Access. Ruang kerja sama tersebut berpotensi diperluas ke sejumlah entitas usaha di bawah KAI Group, termasuk KAI Logistik atau PT Kereta Api Logistik serta KAI Service atau PT Reska Multi Usaha.
Kerja sama yang telah berjalan sejak 2022 itu dengan demikian memasuki tahap yang lebih luas. Integrasi tidak hanya menyentuh perjalanan menggunakan KRL dan transportasi daring, tetapi juga penataan ruang di kawasan stasiun serta pemanfaatan teknologi pembayaran dan layanan digital.
Bagi Stasiun Bogor, peningkatan jumlah penumpang menjadi salah satu alasan penting untuk memperkuat konektivitas antarmoda. Dengan volume perjalanan yang mencapai sekitar 130.000 penumpang per hari, pengaturan perpindahan penumpang menjadi bagian penting dari pengembangan kawasan tersebut.
Ke depan, Stasiun Bogor diproyeksikan tidak hanya menjadi tempat penumpang naik dan turun kereta, tetapi juga menjadi simpul yang mempertemukan berbagai moda transportasi perkotaan.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara