Delapan Tahun Jaga JPL 09 Banyuwangi, Didik Bagikan Kisah dan Pesan Keselamatan

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 15:36 WIB
Pengendara sepeda motor berhenti di belakang palang pintu saat kereta api melintas. Disiplin menunggu hingga palang terbuka menjadi bagian penting dari keselamatan di perlintasan sebidang. (Balquisse untuk Radar Banyuwangi)
Pengendara sepeda motor berhenti di belakang palang pintu saat kereta api melintas. Disiplin menunggu hingga palang terbuka menjadi bagian penting dari keselamatan di perlintasan sebidang. (Balquisse untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Ketika sebagian warga mulai beristirahat, aktivitas di perlintasan kereta api tetap membutuhkan kewaspadaan. Di sebuah pos penjagaan, petugas harus memastikan setiap perjalanan kereta dan lalu lintas pengguna jalan berlangsung dengan aman.

Salah satunya adalah Didik (31), petugas Penjagaan Perlintasan Sebidang (JPL) 09 di Kabupaten Banyuwangi. Selama sekitar delapan tahun menjalani profesinya, ia terbiasa bekerja dalam sistem shift, termasuk menghadapi panjangnya waktu dinas pada malam hari.

Dalam perbincangan khusus bersama tim Osing Train Community (OTC), Didik menceritakan pengalaman serta tantangan yang dihadapi selama menjalankan tugas sebagai penjaga perlintasan.

Bagi Didik, menjaga perlintasan bukan sekadar berada di dalam pos dan menunggu kereta datang. Konsentrasi dan kesiapsiagaan harus tetap terjaga karena setiap saat ada pengguna jalan yang melintas di sekitar jalur kereta api.

Tiga Shift, Delapan Jam dalam Sekali Dinas

Di JPL 09, pembagian tugas dilakukan dalam tiga shift. Masing-masing shift berlangsung selama delapan jam.

Dalam satu pos, terdapat empat personel. Tiga orang menjalankan tugas, sementara satu personel mendapatkan jadwal libur. Pola tersebut membuat penjagaan dapat berlangsung secara bergantian.

Didik sendiri telah bertugas di JPL 09 selama kurang lebih enam bulan terakhir. Sebelumnya, ia juga memiliki pengalaman berpindah dari satu lokasi tugas ke lokasi lainnya dengan periode sekitar satu tahun.

Perpindahan tersebut tidak hanya membuatnya mengenal berbagai kondisi perlintasan, tetapi juga mempertemukannya dengan rekan kerja baru di sejumlah pos.

Pengalaman selama bertahun-tahun itu membuat Didik memahami bahwa setiap lokasi memiliki situasi dan karakteristik tersendiri. Namun, satu hal yang tetap sama adalah tuntutan untuk selalu siap ketika kereta akan melintas.

Menghadapi Dinas Malam dan Rasa Mengantuk

Salah satu tantangan yang tidak terpisahkan dari pekerjaan penjaga perlintasan adalah menjalani dinas malam. Saat aktivitas di jalan mulai berkurang dan rasa kantuk datang, petugas tetap dituntut mempertahankan konsentrasi.

Didik memiliki cara sederhana untuk menjaga tubuh tetap aktif selama bertugas. Ia memperbanyak aktivitas di pos, memastikan waktu istirahat tetap cukup, serta sesekali menikmati kopi dan makanan ringan.

Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari caranya menghadapi jam kerja malam tanpa mengabaikan tanggung jawab utama, yakni tetap siaga terhadap kondisi perlintasan.

JPL 09 Tetap Kondusif

Selama menjalankan tugas di JPL 09, Didik menyebut kondisi lalu lintas di sekitar perlintasan relatif kondusif.

Ia mengungkapkan tidak menemukan kejadian pengendara sepeda motor yang nekat menerobos palang pintu ketika kereta hendak melintas selama bertugas di lokasi tersebut.

Kondisi itu tentu tidak terlepas dari peran petugas dalam melakukan penjagaan. Namun, keselamatan di perlintasan juga sangat bergantung pada kepatuhan pengguna jalan.

Palang pintu dan sirine bukan sekadar tanda untuk memperlambat kendaraan. Keduanya menjadi peringatan agar pengguna jalan berhenti ketika kereta akan melintas.

Pesan Didik untuk Pengendara di Banyuwangi

Didik mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru ketika hendak melewati perlintasan sebidang. Pengendara perlu memastikan kondisi jalur dari kedua arah dan memperhatikan tanda peringatan yang tersedia.

Ia juga menegaskan bahwa ketika sirine perlintasan telah berbunyi, pengendara harus berhenti dan tidak memaksakan diri untuk melintas.

“Hati-hati, kalau mau melintas di perlintasan tengok kanan-kiri. Kalau emang ada yang jaga, sirine bunyi, sudah pastikan berhentilah,” tegasnya.

Pesan sederhana tersebut menggambarkan bagian penting dari pekerjaan yang dijalani Didik selama bertahun-tahun. Di tengah rutinitas menjaga perlintasan, kewaspadaan menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

Bagi pengguna jalan, berhenti beberapa saat ketika sirine berbunyi mungkin terlihat sebagai hal sederhana. Namun, keputusan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keselamatan diri sendiri, penumpang kereta, petugas, dan pengguna jalan lainnya.

Selama delapan tahun bertugas, Didik terus menjalani rutinitas tersebut. Pergantian shift, dinas malam, rasa kantuk, hingga berpindah lokasi kerja menjadi bagian dari pengalaman profesinya.

Di balik perjalanan kereta yang tampak biasa bagi penumpang, ada petugas yang tetap berjaga di perlintasan. Dari pos JPL 09 Banyuwangi, kewaspadaan itu menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari untuk memastikan kereta dan pengguna jalan dapat melanjutkan perjalanan dengan selamat.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Keselamatan perjalanan kereta api JPL 09 Banyuwangi Didik petugas perlintasan perlintasan kereta Banyuwangi osing train community