RADAR BANYUWANGI - Stasiun Bogor akan ditata ulang untuk menghadapi tingginya mobilitas penumpang sekaligus mengintegrasikan berbagai moda transportasi di kawasan tersebut. PT Kereta Api Indonesia (KAI) bersama Pemerintah Kota Bogor menyiapkan revitalisasi yang mencakup perpanjangan peron, jalur perpindahan penumpang, ruang publik, hingga pengembangan kawasan ekonomi.
Stasiun yang setiap hari melayani sekitar 130 ribu penumpang KRL itu akan dikembangkan sebagai bagian dari pusat transportasi terpadu. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 100 ribu penumpang per hari.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan pengembangan kawasan Stasiun Bogor akan berlandaskan tiga konsep, yakni konektivitas, identitas sejarah, dan spasialitas.
“Kami segera menandatangani nota kesepahaman pengembangan kawasan Stasiun Bogor. Konsep yang diusung ada tiga, yaitu konektivitas, identitas, dan spasialitas,” kata Bobby seusai penandatanganan nota kesepahaman dengan Pemerintah Kota Bogor di Stasiun Bogor, Senin (7/9).
Stasiun Bogor dan Paledang Akan Diintegrasikan
Dari sisi konektivitas, KAI berencana mengintegrasikan Stasiun Bogor dengan Stasiun Bogor Paledang. Integrasi ini diharapkan membuat perpindahan penumpang antara kedua stasiun menjadi lebih mudah.
Kawasan tersebut juga dirancang sebagai simpul transportasi antarmoda. Nantinya, Stasiun Bogor akan terhubung dengan layanan Trans Pakuan, Biskita, angkutan daring, serta rencana pengembangan LRT atau trem perkotaan.
Konsep tersebut menjadi penting seiring meningkatnya jumlah penumpang. Dengan rata-rata sekitar 130 ribu pengguna KRL setiap hari, kebutuhan terhadap akses perpindahan yang lebih teratur dan efisien semakin besar.
Peron Diperpanjang, Kapasitas Angkut Naik
Penataan Stasiun Bogor tidak hanya berupa rencana jangka panjang. Sejumlah pekerjaan di dalam kawasan stasiun telah dilakukan.
KAI memperpanjang peron 6, 7, dan 8 sehingga dapat melayani rangkaian KRL hingga 12 kereta. Perubahan tersebut meningkatkan kapasitas angkut sekitar 30 persen dibandingkan sebelumnya.
KAI juga menutup sementara peron 4 dan 5 untuk pemasangan kanopi. Fasilitas ini disiapkan agar penumpang mendapatkan perlindungan yang lebih baik ketika menunggu kereta, terutama saat hujan.
Selain itu, KAI merancang bangunan penghubung di atas rel sebagai jalur perpindahan penumpang. Fasilitas tersebut akan dilengkapi eskalator dan lift.
Dengan jalur tersebut, penumpang nantinya tidak perlu lagi menyeberangi rel di dalam kawasan stasiun. Penataan ini sekaligus diarahkan untuk meningkatkan keselamatan dan kelancaran pergerakan penumpang.
Identitas Stasiun Bersejarah Tetap Dipertahankan
Revitalisasi tidak hanya menyasar fungsi transportasi. KAI juga ingin mempertahankan karakter historis Stasiun Bogor yang dibangun pada 1881.
Unsur sejarah tersebut akan diperkuat agar Stasiun Bogor tetap memiliki identitas sebagai salah satu ikon Kota Bogor, meskipun kawasan di sekitarnya dikembangkan untuk menyesuaikan kebutuhan mobilitas masyarakat modern.
Di sisi lain, konsep spasialitas diarahkan untuk menciptakan ruang publik sekaligus ruang usaha melalui pengembangan kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD).
“Spasialitas ini tidak hanya membuka ruang fisik, tetapi juga membuka ruang ekonomi,” ujar Bobby.
Konsep tersebut membuat revitalisasi tidak berhenti pada peningkatan fasilitas perkeretaapian. Kawasan stasiun juga diarahkan menjadi ruang yang dapat mendukung aktivitas masyarakat dan kegiatan ekonomi.
Pemkot Bogor Tata Jalan di Sekitar Stasiun
Rencana KAI akan diselaraskan dengan penataan kawasan yang dilakukan Pemerintah Kota Bogor. Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan revitalisasi Stasiun Bogor sejalan dengan rencana pemerintah kota menata sejumlah ruas jalan di sekitar kawasan stasiun.
Beberapa di antaranya adalah Jalan Nyi Raja Permas, Jalan MA Salmun, Jalan Mayor Oking, dan Jalan Kapten Muslihat.
“Tinggal kami menyinkronkan apa yang sudah direncanakan Pemerintah Kota Bogor dengan yang akan dilaksanakan PT KAI,” kata Dedie.
Menurut dia, tahap awal penataan dilakukan dari Jalan Nyi Raja Permas hingga Jalan MA Salmun. Penataan kemudian dilanjutkan menuju Jalan Mayor Oking dan Jalan Kapten Muslihat untuk menciptakan kawasan yang lebih tertib dan nyaman.
Pemkot Bogor juga berencana membuka hambatan bangunan di Jalan Dewi Sartika. Langkah tersebut ditujukan untuk menyambungkan jalur dari kawasan Alun-Alun Kota Bogor menuju Jalan Sawojajar.
Alun-Alun Bogor Tidak Dihapus
Salah satu bagian penting dalam penataan kawasan adalah keberadaan Alun-Alun Kota Bogor. Dedie memastikan kawasan tersebut tetap dipertahankan dan justru akan direvitalisasi.
“Alun-alun tidak dihapus, justru direvitalisasi. Area milik pemerintah kota dan PT KAI nantinya akan diintegrasikan,” ujarnya.
Dengan demikian, rencana revitalisasi Stasiun Bogor mencakup lebih dari sekadar pembaruan fasilitas kereta api. KAI dan Pemerintah Kota Bogor berupaya menghubungkan stasiun dengan berbagai moda transportasi, menata ruang publik, mempertahankan identitas sejarah, serta membuka peluang ekonomi di kawasan sekitar.
Bagi masyarakat, perubahan tersebut nantinya diharapkan membuat perpindahan antarmoda lebih mudah, pergerakan di dalam stasiun lebih aman, serta kawasan di sekitar Stasiun Bogor menjadi lebih tertata.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara