RADAR BANYUWANGI – Penutupan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen akibat kebakaran sejak Jumat (4/9) ternyata tidak menyurutkan geliat wisata di Banyuwangi. Wisatawan justru mengalihkan tujuan ke destinasi lain, salah satunya De Djawatan di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, yang dalam sehari diserbu hingga 1.709 pengunjung.
Lonjakan tersebut terlihat sepanjang akhir pekan. Ketika salah satu destinasi unggulan Banyuwangi itu ditutup demi keamanan wisatawan, arus kunjungan justru mengalir ke destinasi alternatif. De Djawatan menjadi salah satu yang menikmati limpahan wisatawan, dengan jumlah pengunjung mencapai ribuan orang dalam sehari.
Supervisor De Djawatan Muryanto mengatakan, pada Kamis (3/9) dan Jumat (4/9), jumlah wisatawan yang datang tercatat sekitar 700 orang per hari.
Angka itu melonjak tajam pada Sabtu (5/9). Total kunjungan mencapai 1.709 orang dalam satu hari.
“Pengunjung yang datang dari Banyuwangi hingga luar kabupaten,” kata Muryanto, Minggu (6/9).
Minggu Siang Sudah 1.154 Pengunjung
Lonjakan kunjungan belum berhenti. Pada Minggu (6/9), hingga sekitar pukul 13.00, jumlah wisatawan yang sudah memasuki kawasan De Djawatan mencapai 1.154 orang.
Jika arus kedatangan bertahan hingga sore, jumlah pengunjung diperkirakan kembali menyentuh angka 2.000 orang dalam sehari.
“Kalau sampai sore, kemungkinan bisa sampai 2 ribu yang berkunjung,” ujarnya.
Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana perubahan kondisi destinasi wisata dapat dengan cepat menggeser pola perjalanan wisatawan. Penutupan Ijen akibat kebakaran tidak serta-merta membuat wisatawan membatalkan agenda liburan. Sebagian memilih mencari destinasi lain yang tetap bisa dikunjungi.
De Djawatan menjadi salah satu pilihan karena menawarkan karakter wisata yang berbeda. Destinasi tersebut berada di kawasan hutan di tengah permukiman dengan daya tarik utama berupa pepohonan trembesi berukuran besar dan berusia puluhan hingga lebih dari satu abad.
Hutan Trembesi Berusia hingga 150 Tahun
De Djawatan memiliki luas sekitar 12 hektare. Kawasan ini menyuguhkan lanskap hutan dengan deretan pohon trembesi raksasa yang menjadi ikon utama destinasi.
Muryanto menyebut terdapat sekitar 132 pohon trembesi di kawasan tersebut. Usianya diperkirakan mencapai 100 hingga 150 tahun.
Keberadaan pohon-pohon tua itu menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam tanpa harus melakukan perjalanan ke kawasan pegunungan.
Di tengah penutupan sementara TWA Kawah Ijen, kondisi De Djawatan sekaligus menunjukkan bahwa Banyuwangi memiliki pilihan destinasi wisata yang cukup beragam. Wisatawan masih dapat mengalihkan perjalanan ke kawasan lain sambil menunggu destinasi utama kembali dibuka.
Lonjakan hingga 1.709 pengunjung dalam sehari juga menjadi sinyal bahwa De Djawatan mampu menjadi destinasi alternatif ketika kunjungan ke Kawah Ijen terganggu. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin