RADAR BANYUWANGI - PT Kereta Api Indonesia (KAI) memperkuat integrasi Stasiun Karet dan Stasiun Sudirman Baru di Jakarta. Penataan ini dilakukan setelah kedua stasiun mencatat 6.702.680 aktivitas pelanggan Commuter Line sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Dari total tersebut, Stasiun Karet mencatat 4.909.334 aktivitas pelanggan, sementara Stasiun Sudirman Baru melayani 1.793.346 aktivitas.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan integrasi kedua kawasan dilakukan dengan menata akses pelanggan dan menyediakan fasilitas penghubung. Langkah tersebut ditujukan untuk membuat perpindahan pelanggan lebih mudah dan tertata.
“Berdasarkan data Januari-Agustus 2026, Stasiun Karet dan Stasiun Sudirman Baru melayani 6.702.680 aktivitas pelanggan,” kata Anne, Minggu (6/9).
KAI Tata Akses Stasiun Karet
Penataan di sisi Stasiun Karet mencakup peningkatan lanskap, pengembangan area drop-off untuk kendaraan lanjutan, termasuk ojek online, pemanfaatan area stasiun, serta pembenahan koridor pejalan kaki.
KAI menempatkan penataan akses tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas fasilitas sekaligus memperlancar pergerakan pelanggan di sekitar kawasan stasiun.
“Penataan ini dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan perjalanan masyarakat dengan menghadirkan konektivitas yang lebih baik antara kawasan Stasiun Karet dan Stasiun Sudirman Baru,” ujar Anne.
Pengembangan kawasan juga menyentuh sisi Kendal. KAI menyiapkan tambahan eskalator akses, kanopi selasar, serta penataan koridor pejalan kaki.
Area pedestrian dan akses kendaraan lanjutan turut ditata untuk mendukung mobilitas pelanggan sekaligus membantu mengurangi kepadatan aktivitas di sekitar Stasiun Karet.
Ada Travelator 20 Meter
Salah satu fasilitas penghubung yang disiapkan KAI adalah satu unit travelator datar sepanjang 20 meter dari Stasiun Karet menuju Stasiun Sudirman Baru.
Selain itu, terdapat dua unit travelator vertikal yang mendukung perpindahan pelanggan menuju kawasan Stasiun Sudirman Baru dan layanan Commuter Line.
Fasilitas tersebut menjadi bagian dari penataan konektivitas kedua kawasan stasiun. Dengan akses yang lebih terarah, pelanggan diharapkan dapat berpindah kawasan tanpa harus menghadapi pola pergerakan yang tidak tertata.
Fungsi Kedua Stasiun Tetap Berbeda
Meski terintegrasi, KAI memastikan Stasiun Karet dan Stasiun Sudirman Baru tetap memiliki fungsi masing-masing.
Setelah pengembangan dilakukan, Stasiun Karet berperan sebagai salah satu akses bagi pelanggan menuju perjalanan KRL yang dilayani melalui Stasiun Sudirman Baru. Sementara konektivitas antarkawasan diperkuat melalui fasilitas penghubung dan penataan jalur pejalan kaki.
“Stasiun Karet tetap memiliki peran sebagai pintu akses pelanggan. Melalui pengembangan fasilitas ini, KAI menata akses dan area pendukung agar pelanggan dapat melakukan perjalanan dengan lebih nyaman, aman dan tertata yang terpusat di Stasiun Sudirman Baru,” ujar Anne.
Pola tersebut membuat integrasi tidak sekadar berupa hubungan fisik antarstasiun, tetapi juga mencakup penataan area pendukung, pedestrian, serta akses kendaraan lanjutan.
Bagian dari Perkembangan Transportasi Rel Jakarta
Integrasi Karet-Sudirman Baru juga menjadi bagian dari perjalanan panjang perkembangan transportasi rel perkotaan di Jakarta.
Stasiun Karet mulai beroperasi pada 1922 dan kemudian menjadi bagian dari perkembangan layanan kereta rel perkotaan. Sementara Stasiun Sudirman Baru mulai melayani perjalanan kereta api pada periode 2017-2018.
Pada 2026, kedua kawasan tersebut memasuki tahap integrasi melalui pengembangan akses dan fasilitas penghubung.
Menurut KAI, pengembangan ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat Jabodetabek yang terus berkembang. Penataan fasilitas diharapkan dapat memberikan akses perjalanan yang lebih teratur sekaligus meningkatkan kenyamanan pelanggan Commuter Line.
“Penguatan fasilitas ini mendukung pengalaman perjalanan Commuter Line yang lebih nyaman bagi masyarakat,” kata Anne.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara