RADAR BANYUWANGI - PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divisi Regional (Divre) III Palembang memastikan KA Rajabasa relasi Kertapati-Tanjungkarang pulang-pergi tetap beroperasi sesuai jadwal meski Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi.
KAI meminta penumpang yang menggunakan kereta tersebut untuk tetap memperhatikan perkembangan situasi, mengikuti informasi resmi dari lembaga berwenang, serta menjaga kesehatan selama perjalanan.
Manajer Humas KAI Divre III Palembang Aida Suryanti mengatakan, keselamatan pelanggan menjadi prioritas perusahaan. KAI terus memantau kondisi perjalanan dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan terhadap operasional kereta api.
"Adanya erupsi Gunung Anak Krakatau tidak berarti layanan KA Rajabasa dihentikan. Namun, KAI tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi perjalanan dan berkoordinasi dengan pihak terkait sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan perjalanan kereta api," kata Aida, Minggu (6/9).
Berdasarkan laporan terbaru Badan Geologi, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Pada 5 September 2026, gunung api tersebut dilaporkan mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh.
Aktivitas tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya erupsi. Badan Geologi mengingatkan adanya sejumlah risiko, antara lain aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, dan hujan abu lebat.
Bagi pelanggan KA Rajabasa yang melakukan perjalanan menuju Lampung maupun sebaliknya, KAI mengimbau agar tidak hanya mengandalkan informasi dari media sosial. Perkembangan kondisi perjalanan dan aktivitas gunung api sebaiknya dipantau melalui sumber resmi.
"Khusus bagi masyarakat yang akan bepergian menggunakan KA Rajabasa menuju Lampung, kami mengimbau untuk selalu mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari Badan Geologi, PVMBG, BMKG, serta pemerintah daerah," ujar Aida.
KAI juga mengingatkan penumpang untuk memperhatikan kondisi udara selama perjalanan. Masker disarankan digunakan, terutama apabila lingkungan sekitar terdampak debu atau abu vulkanik.
Selain aktivitas Gunung Anak Krakatau, kondisi kualitas udara di Palembang dan sejumlah wilayah Sumatera Selatan juga menjadi perhatian. KAI Divre III menyebut kualitas udara mengalami penurunan akibat kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan.
Berdasarkan pemantauan kualitas udara BMKG, konsentrasi Particulate Matter (PM2.5) di Stasiun Pemantauan Musi 2 Palembang pada Minggu berada dalam kategori berbahaya.
Kondisi tersebut membuat pelanggan perlu lebih memperhatikan kesehatan sebelum dan selama perjalanan. Penumpang yang memiliki kondisi kesehatan yang kurang baik juga diminta untuk tidak memaksakan perjalanan apabila situasi lingkungan tidak memungkinkan.
"Kami berharap pelanggan tetap tenang, tidak panik, dan selalu mendapatkan informasi dari sumber resmi. Yang terpenting, jaga kesehatan, gunakan masker saat diperlukan, dan jangan memaksakan perjalanan apabila kondisi kesehatan maupun situasi lingkungan tidak memungkinkan," kata Aida.
Dengan kondisi tersebut, layanan KA Rajabasa relasi Kertapati-Tanjungkarang tetap berjalan sesuai jadwal berdasarkan informasi yang disampaikan KAI Divre III Palembang. Perusahaan tetap melakukan pemantauan dan koordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan keselamatan perjalanan.
Bagi masyarakat yang hendak menggunakan KA Rajabasa, perubahan operasional tetap perlu diantisipasi apabila kondisi di lapangan berubah. Karena itu, informasi terbaru dari KAI, Badan Geologi, PVMBG, BMKG, dan pemerintah daerah menjadi rujukan penting sebelum melakukan perjalanan.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara