B50 Mulai Dipakai KAI, Emisi Operasional Kereta Diperkirakan Turun 9.000 Ton CO₂e

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 19:32 WIB
Lokomotif KAI beroperasi membawa rangkaian kereta penumpang. Sejak 1 Juli 2026, KAI menerapkan penggunaan biodiesel B50 pada lokomotif dan kereta pembangkit berbahan bakar solar untuk operasional KA Jarak Jauh dan KA Lokal. (Antara)
Lokomotif KAI beroperasi membawa rangkaian kereta penumpang. Sejak 1 Juli 2026, KAI menerapkan penggunaan biodiesel B50 pada lokomotif dan kereta pembangkit berbahan bakar solar untuk operasional KA Jarak Jauh dan KA Lokal. (Antara)

RADAR BANYUWANGI - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai menggunakan biodiesel B50 untuk operasional KA Jarak Jauh dan KA Lokal sejak 1 Juli 2026. Dalam 55 hari pertama penerapannya, penggunaan bahan bakar campuran tersebut diperkirakan mampu menekan emisi sekitar 9.000 ton CO₂e.

Program ini menjadi bagian dari langkah PT KAI dalam meningkatkan efisiensi penggunaan energi sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi di sektor transportasi.

B50 merupakan bahan bakar campuran yang mengandung biodiesel dalam komposisi 50 persen. Penggunaannya diterapkan pada sarana kereta api berbahan bakar diesel yang dioperasikan KAI.

Selama periode Januari hingga Agustus 2026, KA Jarak Jauh dan KA Lokal yang dikelola KAI melayani 40.379.062 pelanggan. Pada periode yang sama, konsumsi BBM operasional tercatat sebanyak 172.228.585 liter.

Jika dibandingkan dengan jumlah pelanggan yang dilayani, konsumsi tersebut menghasilkan intensitas sekitar 4,27 liter BBM per pelanggan. Angka itu merupakan gambaran perbandingan antara total penggunaan BBM operasional dan jumlah pelanggan selama periode tersebut, bukan konsumsi bahan bakar secara langsung oleh masing-masing penumpang.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, pengembangan efisiensi energi menjadi bagian dari upaya perusahaan menyiapkan layanan kereta api yang mampu mengikuti kebutuhan mobilitas masyarakat pada masa mendatang.

“Kereta api memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas masyarakat. KAI terus melakukan berbagai inovasi operasional agar layanan semakin efisien, termasuk melalui pemanfaatan bahan bakar yang mendukung pengurangan emisi,” ujar Anne, Minggu (6/9).

Perkiraan pengurangan emisi sekitar 9.000 ton CO₂e tersebut dihitung dari penerapan B50 selama 55 hari, sejak 1 Juli hingga 24 Agustus 2026. Penggunaan bahan bakar berbasis biodiesel ini sekaligus menempatkan operasional KAI dalam rangkaian kebijakan pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan.

Secara nasional, penggunaan B50 merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan sumber energi domestik sekaligus mengurangi emisi karbon. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), penerapan B50 secara nasional diproyeksikan dapat menurunkan emisi sekitar 44,46 juta ton CO₂.

Upaya KAI mengurangi penggunaan energi juga terlihat dari kinerja konsumsi energi perusahaan. Pada 2025, konsumsi energi KAI tercatat 10.107.302 GJ, turun dari 11.945.467 GJ pada tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut mencapai 15,39 persen dibandingkan 2024. Pada periode yang sama, intensitas energi yang dihitung berdasarkan jumlah pelanggan juga turun sebesar 22 persen.

Selain mengoptimalkan penggunaan energi pada operasional kereta, KAI memperluas pemanfaatan energi terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Hingga kini, KAI telah memasang 113 unit PLTS di 92 lokasi dengan total kapasitas 4.430,65 kWp. Pemanfaatan pembangkit tersebut diperkirakan berkontribusi terhadap pengurangan emisi lebih dari 5.000 ton CO₂ setiap tahun.

Bagi layanan kereta api, pengembangan energi tersebut tidak hanya berkaitan dengan konsumsi bahan bakar. Efisiensi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan operasional ketika kebutuhan mobilitas masyarakat terus berkembang.

Anne mengatakan transformasi energi akan terus menjadi bagian dari pengembangan layanan KAI. Efisiensi bahan bakar, pemanfaatan energi terbarukan, dan peningkatan kualitas operasional dilakukan secara beriringan.

“KAI terus memperkuat inovasi melalui efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, dan peningkatan kualitas operasional. Langkah ini dilakukan agar layanan kereta api semakin berkualitas sekaligus mendukung perjalanan masyarakat secara berkelanjutan,” pungkas Anne.

Penerapan B50 dan pengembangan PLTS menunjukkan bahwa transformasi energi KAI tidak hanya diarahkan pada satu jenis sumber energi. Perusahaan menggabungkan efisiensi konsumsi dengan pemanfaatan energi terbarukan sebagai bagian dari pengembangan transportasi berbasis rel yang lebih berkelanjutan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Pengurangan Emisi biodiesel B50 KAI efisiensi energi Kereta Api