RADAR BANYUWANGI - Ada dusun di Gunungkidul yang seolah punya “jam matahari” sendiri. Dusun Wotawati baru mendapat sinar matahari sekitar pukul 08.00 WIB dan kembali gelap lebih cepat sekitar pukul 16.00 WIB. Letaknya yang dikepung perbukitan membuat waktu terang di dusun ini jauh lebih singkat, sekaligus melahirkan lanskap permukiman unik yang sarat cerita leluhur Majapahit.
Dusun Wotawati berada di Kelurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Bagi sebagian orang, pergantian siang dan sore mungkin terasa biasa. Namun, di Wotawati, kontur alam membuat kemunculan dan hilangnya matahari menjadi bagian tersendiri dari kehidupan masyarakat.
Ketika sejumlah wilayah lain sudah lebih dulu terang pada pagi hari, warga Wotawati masih harus menunggu matahari muncul di balik perbukitan.
Begitu pula pada sore hari. Saat matahari masih menyinari banyak kawasan lain, Wotawati sudah lebih dahulu kehilangan cahaya langsung.
Kondisi geografis menjadi kuncinya.
Dusun tersebut berada di kawasan yang dikelilingi perbukitan. Bentang alam itu menghalangi sinar matahari pada pagi dan sore hari sehingga cahaya baru masuk ketika posisi matahari sudah cukup tinggi.
Bukan Sekadar Dusun yang Minim Matahari
Keunikan Wotawati tidak berhenti pada durasi sinar matahari.
Dusun ini sempat menjadi perhatian publik karena karakter wilayahnya yang tidak biasa. Di balik suasana yang seolah “tersembunyi” di antara perbukitan, Wotawati menyimpan cerita sejarah dan tradisi yang masih kuat di tengah masyarakat.
Kisah asal-usul dusun tersebut bahkan dikaitkan dengan cerita para leluhur yang dipercaya memiliki hubungan dengan Kerajaan Majapahit.
Cerita itu diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Menurut kisah yang berkembang di tengah warga, Raden Joko Sukmo dan istrinya, Nyi Arum Sukmawati, dipercaya sebagai tokoh yang pertama datang ke kawasan tersebut.
Wilayah yang mereka datangi disebut merupakan kawasan bekas lembah Bengawan Solo Purba.
Dalam cerita tersebut, keduanya kemudian menetap di Gua Putri, sebuah gua yang berada di sekitar kawasan Wotawati.
Kisah tersebut menjadi bagian dari identitas dusun dan menambah daya tarik bagi pengunjung yang ingin mengenal Wotawati bukan hanya dari sisi geografis, tetapi juga sejarah lokalnya.
Nuansa Kampung Kerajaan Masih Terasa
Keunikan Wotawati semakin terasa ketika pengunjung menyusuri permukimannya.
Tata letak dan bentuk sejumlah bangunan di dusun tersebut masih mempertahankan ciri khas tradisional. Permukimannya disebut mengadopsi konsep perkampungan yang lekat dengan gambaran kehidupan pada masa Majapahit dan Mataram.
Rumah-rumah warga menjadi bagian paling mencolok.
Pagar bernuansa terakota yang mengelilingi sejumlah rumah menghadirkan atmosfer berbeda dibandingkan permukiman modern pada umumnya.
Berjalan di antara rumah-rumah tersebut, pengunjung bisa merasakan suasana seperti berada di sebuah perkampungan dalam cerita kerajaan masa lampau.
Tak heran jika lanskap Wotawati kerap mengingatkan pada latar film kolosal yang menggambarkan kehidupan masyarakat pada era kerajaan.
Ketika Alam Menjadi Identitas Dusun
Wotawati pada akhirnya menawarkan lebih dari sekadar fenomena matahari yang datang terlambat dan pergi lebih cepat.
Kontur perbukitan membentuk pola kehidupan masyarakat. Sejarah tutur membangun identitas. Sementara arsitektur permukiman memperkuat karakter visual dusun.
Semua elemen tersebut berpadu menjadi satu keunikan.
Wotawati adalah dusun di Gunungkidul yang memiliki waktu paparan sinar matahari langsung relatif singkat karena dikelilingi perbukitan, tetapi justru kondisi geografis itu ikut membentuk daya tarik dan karakter kawasan.
Di tempat ini, alam, sejarah, dan bentuk permukiman berjalan beriringan.
Bagi wisatawan yang gemar mencari destinasi dengan cerita berbeda, Wotawati menawarkan pengalaman yang tidak sekadar soal pemandangan. Ada kisah leluhur, jejak tradisi, arsitektur bernuansa masa lampau, dan fenomena alam yang membuat dusun ini memiliki karakter tersendiri di Gunungkidul. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Radar Jogja