Wisatawan Asing Makin Banyak Naik Kereta Api, Banyuwangi Berpeluang Masuk Rantai Perjalanan Wisata

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 19:57 WIB
Pertumbuhan penggunaan kereta api oleh wisatawan asing secara nasional membuka peluang penguatan konektivitas perjalanan menuju berbagai destinasi di Pulau Jawa. (Antara)
Pertumbuhan penggunaan kereta api oleh wisatawan asing secara nasional membuka peluang penguatan konektivitas perjalanan menuju berbagai destinasi di Pulau Jawa. (Antara)

RADAR BANYUWANGI - Hampir setengah juta wisatawan mancanegara menggunakan layanan kereta api di Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Pertumbuhan ini menunjukkan semakin pentingnya konektivitas kereta api dalam perjalanan wisata sekaligus membuka peluang bagi daerah yang berada di jalur jaringan rel, termasuk Banyuwangi.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat 498.232 wisatawan mancanegara menggunakan layanan kereta api selama delapan bulan pertama 2026. Jumlah tersebut meningkat 3,83 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 479.861 pelanggan.

Artinya, terdapat tambahan 18.371 wisatawan mancanegara yang menggunakan kereta api dibandingkan periode Januari-Agustus tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut bukan fenomena sesaat. Dalam lima tahun terakhir, jumlah wisatawan mancanegara yang menggunakan layanan kereta api terus bertambah.

Pada Januari–Agustus 2022, jumlahnya masih 170.094 pelanggan. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 383.732 pelanggan pada 2023, 447.655 pelanggan pada 2024, dan 479.861 pelanggan pada 2025. Pada 2026, jumlahnya kembali bertambah hingga mencapai 498.232 pelanggan.

Tren itu memperlihatkan bahwa kereta api semakin masuk dalam pilihan perjalanan wisatawan asing ketika menjelajahi Indonesia.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pertumbuhan tersebut memperlihatkan pentingnya konektivitas transportasi dalam mendukung perjalanan wisata.

“Kereta api menghubungkan berbagai kota dengan karakter destinasi yang beragam, mulai dari kawasan budaya, wisata alam, hingga pusat ekonomi. KAI terus menjaga kualitas layanan agar perjalanan wisatawan mancanegara semakin nyaman dan memberikan pengalaman yang baik selama berada di Indonesia,” ujar Anne.

Yogyakarta Jadi Pilihan Utama

Data KAI menunjukkan wisatawan mancanegara tidak hanya terkonsentrasi pada satu kota. Sejumlah stasiun di Pulau Jawa menjadi titik keberangkatan menuju berbagai destinasi.

Stasiun Yogyakarta menjadi stasiun keberangkatan favorit wisatawan mancanegara sepanjang Januari–Agustus 2026 dengan 93.189 pelanggan.

Di urutan kedua terdapat Stasiun Gambir dengan 84.011 pelanggan, kemudian Bandung sebanyak 45.400 pelanggan. Pasar Senen mencatat 25.080 pelanggan, sedangkan Surabaya Gubeng berada di posisi berikutnya dengan 24.543 pelanggan.

Daftar sepuluh besar juga menunjukkan adanya sejumlah kota yang menjadi bagian dari jalur perjalanan wisatawan asing, yakni Semarang Tawang Bank Jateng sebanyak 18.032 pelanggan, Malang 17.391 pelanggan, Probolinggo 12.148 pelanggan, Surabaya Pasar Turi 11.491 pelanggan, dan Solo Balapan 10.158 pelanggan.

Keberadaan Surabaya, Malang, dan Probolinggo dalam daftar tersebut menarik jika dilihat dari perspektif perjalanan wisata di Jawa Timur. Ketiga wilayah tersebut berada dalam jaringan perjalanan yang dapat menjadi bagian dari rute menuju berbagai destinasi di kawasan timur Pulau Jawa.

Banyuwangi, yang berada di ujung timur Pulau Jawa, juga memiliki posisi strategis dalam jaringan kereta api tersebut. Namun, data KAI belum merinci jumlah wisatawan mancanegara yang menggunakan stasiun di Banyuwangi.

Juli Jadi Bulan Tersibuk

Pergerakan wisatawan mancanegara menggunakan kereta api juga terlihat dari data bulanan. Pada pertengahan 2026, jumlah pengguna mengalami peningkatan.

Juli menjadi bulan dengan volume tertinggi, mencapai 96.940 wisatawan mancanegara. Setelah itu, Agustus mencatat 92.418 pelanggan dan Juni sebanyak 67.290 pelanggan.

Tingginya penggunaan kereta pada periode tersebut berlangsung ketika aktivitas perjalanan internasional menuju Indonesia juga menunjukkan perkembangan.

Badan Pusat Statistik mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada Januari–Juli 2026 mencapai 9,09 juta kunjungan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Data tersebut memberikan gambaran bahwa pertumbuhan perjalanan internasional perlu diikuti dengan konektivitas transportasi yang mampu menghubungkan wisatawan dari pintu masuk menuju berbagai daerah tujuan.

Peluang bagi Banyuwangi

Bagi Banyuwangi, perkembangan tersebut relevan karena daerah ini merupakan salah satu tujuan wisata di ujung timur Pulau Jawa sekaligus memiliki akses jaringan kereta api.

Perjalanan dengan kereta memungkinkan wisatawan menghubungkan beberapa kota dalam satu rangkaian perjalanan. Wisatawan yang berada di Surabaya, Malang, Probolinggo, atau kota lain di Pulau Jawa, misalnya, memiliki pilihan transportasi darat menuju kawasan timur Jawa.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi Banyuwangi untuk memperkuat posisinya dalam rantai perjalanan wisata. Tidak hanya dari sisi destinasi, tetapi juga melalui ekosistem pendukung seperti akomodasi, kuliner, transportasi lokal, pemandu wisata, hingga pelaku usaha mikro dan kecil.

Namun, peluang tersebut membutuhkan konektivitas yang tidak berhenti pada perjalanan kereta api. Pengalaman wisatawan juga dipengaruhi kemudahan berpindah dari stasiun menuju destinasi, ketersediaan informasi wisata, transportasi lokal, serta kualitas layanan di daerah tujuan.

Dengan kata lain, bertambahnya wisatawan asing yang menggunakan kereta api merupakan peluang yang perlu diikuti kesiapan destinasi.

Anne mengatakan pertumbuhan wisatawan mancanegara dapat menjadi momentum bagi berbagai pihak untuk membangun perjalanan yang lebih terintegrasi.

“Pertumbuhan wisatawan mancanegara menjadi peluang bagi seluruh ekosistem transportasi untuk menghadirkan perjalanan yang semakin terintegrasi. KAI terus memperkuat layanan agar kereta api dapat menjadi bagian dari perjalanan wisatawan dalam mengenal lebih banyak destinasi Indonesia,” kata Anne.

Tren tersebut dapat menjadi salah satu momentum untuk melihat kembali peran transportasi rel dalam pengembangan pariwisata daerah.

Dengan semakin banyak wisatawan asing yang memilih kereta api untuk berpindah antarkota, konektivitas tidak lagi sekadar persoalan bagaimana wisatawan mencapai sebuah daerah. Lebih dari itu, jaringan transportasi menjadi bagian dari bagaimana wisatawan menyusun perjalanan, memilih destinasi, dan menghabiskan waktu serta belanja selama berada di Indonesia.

Pertumbuhan pengguna kereta api dari kalangan wisatawan mancanegara dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa peluang tersebut semakin terbuka. Tantangannya bagi daerah seperti Banyuwangi adalah memastikan konektivitas tersebut dapat diterjemahkan menjadi kunjungan, lama tinggal, dan aktivitas ekonomi yang memberi manfaat bagi masyarakat lokal.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
konektivitas pariwisata wisatawan mancanegara KAI Kereta Api pariwisata banyuwangi