RADAR BANYUWANGI — Kemacetan parah di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, mulai memukul sektor pariwisata hingga kawasan utara. Sejumlah pelaku wisata di Pantai Grand Watudodol (GWD) mengaku kehilangan omzet puluhan juta rupiah setelah wisatawan membatalkan trip menuju Pulau Tabuhan dan Pulau Menjangan karena khawatir terjebak macet.
Kemacetan yang ekornya menjalar hingga wilayah Kecamatan Wongsorejo itu membuat wisatawan kesulitan memperkirakan waktu tempuh menuju Pantai GWD. Kondisi tersebut berujung pada pembatalan sejumlah perjalanan wisata, baik rombongan maupun private trip.
Sandi, pengelola Kapal Wisata Pesona Bahari yang melayani rute Pantai GWD–Pulau Tabuhan–Pulau Menjangan, mengatakan pembatalan perjalanan terjadi cukup banyak dalam beberapa waktu terakhir.
"Rugi banyak, sampai puluhan juta. Wisatawan yang membatalkan perjalanan wisatanya ada yang grup dan private," ungkap Sandi kepada wartawan.
Menurut dia, wisatawan umumnya tidak hanya mengunjungi satu destinasi ketika berlibur di Banyuwangi. Karena itu, kepastian waktu perjalanan menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum mereka memutuskan menggunakan jasa kapal wisata.
Ketika akses menuju Pantai GWD tersendat akibat antrean kendaraan dari kawasan Pelabuhan Ketapang, wisatawan memilih membatalkan atau mengalihkan agenda perjalanan mereka.
"Kalau macet wisatawan pasti malas datang karena umumnya mereka ke Banyuwangi tidak hanya menghabiskan waktu di satu destinasi selama sehari. Wisatawan butuh estimasi waktu yang tepat dan cepat," ujarnya.
Kapal Wisata Ikut Terdampak
Dampak kemacetan juga dirasakan Abdul Azis, Ketua Pokdarwis Pesona Bahari GWD sekaligus Ketua Asosiasi Pokdarwis Banyuwangi. Menurut dia, penurunan tidak hanya terjadi pada kunjungan wisatawan ke Pantai GWD, tetapi juga pada aktivitas penyeberangan menuju Pulau Tabuhan dan Pulau Menjangan.
Pantai GWD selama ini menjadi salah satu titik keberangkatan wisatawan yang hendak menyeberang menuju dua destinasi tersebut. Bahkan, akses dari GWD menuju Pulau Menjangan di kawasan Taman Nasional Bali Barat relatif dekat.
"Pantai GWD itu salah satu titik penyeberangan menuju Pulau Tabuhan dan Pulau Menjangan. Khusus Pulau Menjangan di Taman Nasional Bali Barat kalau dari Pantai GWD paling dekat," papar Azis.
Dia menyebut wisatawan yang sebelumnya telah memesan kapal tidak sedikit yang akhirnya membatalkan perjalanan. Mereka memilih tidak mengambil risiko terjebak kemacetan dan kehilangan waktu liburan.
"Tamu yang sudah boking kapal menuju Pulau Tabuhan dan Menjangan membatalkan order, nggak mau ambil risiko karena macet. Tolonglah, pihak ASDP inikan macet sudah berulang mestinya diantisipasi," tegasnya.
Persoalan tidak berhenti pada pembatalan trip. Sejumlah kapal wisata bahkan harus mengubah titik jemput wisatawan dari lokasi yang selama ini digunakan, termasuk Hotel Ketapang Indah dan Pantai Cacalan, agar tetap dapat melayani tamu yang hendak menuju Pulau Tabuhan dan Pulau Menjangan.
Namun, langkah tersebut menjadi pilihan pahit bagi pelaku wisata karena membuat biaya operasional meningkat tajam.
"Biasanya BBM dari Pantai GWD - Pulau Menjangan - Pulau Tabuhan cukup Rp 200 ribu, kini membengkak sampai Rp 500 ribu," tambah Azis.
Kenaikan biaya bahan bakar tersebut membuat pelaku wisata harus menanggung beban operasional lebih besar di tengah turunnya jumlah wisatawan dan meningkatnya pembatalan perjalanan.
Kemacetan Berulang Diminta Diantisipasi
Azis khawatir kerugian pelaku wisata di wilayah utara Banyuwangi akan semakin besar apabila kemacetan di kawasan Pelabuhan Ketapang berlangsung hingga akhir pekan.
Apalagi, menurut dia, Kecamatan Wongsorejo memiliki sejumlah destinasi wisata lain yang juga berpotensi terdampak ketika akses utama dari arah Ketapang mengalami kepadatan.
Karena itu, dia meminta pemerintah bersama PT ASDP Indonesia Ferry melakukan evaluasi dan menyiapkan langkah antisipasi yang lebih matang terhadap kemacetan di kawasan Pelabuhan Ketapang.
"Tolong pemerintah dan ASDP, macet di Pelabuhan Ketapang adalah peristiwa berulang yang mestinya dijadikan pelajaran. Jangan hanya gagap ketika terjadi, tapi seharusnya selalu diantisipasi," pungkasnya.
Kemacetan Pelabuhan Ketapang dengan demikian tidak lagi sekadar persoalan kelancaran arus kendaraan dan penyeberangan. Ketika antrean kendaraan memanjang hingga akses menuju destinasi wisata, efek dominonya ikut menghantam pelaku usaha pariwisata, mulai dari pengelola kapal, destinasi, hingga pelaku ekonomi yang menggantungkan pendapatan pada kunjungan wisatawan. (*)
Editor : Ali Sodiqin