Liburan ke Banyuwangi Tak Lengkap Tanpa Berburu Kuliner, Ada Cerita di Balik Setiap Sajian

Rizki Anindiya Putri • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 09:28 WIB
Menikmati kuliner khas menjadi bagian dari pengalaman wisata di Banyuwangi. Selain mencicipi rasa, wisatawan dapat mengenal budaya dan kehidupan masyarakat melalui makanan lokal. (ChatGPT)
Menikmati kuliner khas menjadi bagian dari pengalaman wisata di Banyuwangi. Selain mencicipi rasa, wisatawan dapat mengenal budaya dan kehidupan masyarakat melalui makanan lokal. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Setelah puas menikmati destinasi wisata, perjalanan ke Banyuwangi bagi sebagian wisatawan belum benar-benar selesai sebelum mencicipi makanan khas daerah.

Berburu kuliner menjadi agenda lain yang menarik karena wisatawan tidak hanya mendapatkan pengalaman soal rasa, tetapi juga mengenal kehidupan masyarakat setempat.

Banyuwangi memiliki beragam makanan yang dapat menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.

Sego tempong, rujak soto, pecel pitik hingga ayam kesrut merupakan beberapa kuliner yang memiliki karakter dan cerita tersendiri.

Bagi wisatawan, mencoba makanan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan sekadar mengunjungi objek wisata.

Mereka bisa mengenali bahan, cara penyajian, cita rasa, sekaligus kebiasaan masyarakat yang berkembang di daerah tersebut.

Maulanie merupakan salah satu orang yang menjadikan kuliner sebagai bagian dari perjalanan.

Ketika berkunjung ke tempat baru, ia merasa ada yang kurang jika belum mencoba makanan khas daerah tersebut.

“Kalau traveling, aku juga suka cari makanan khasnya. Rasanya kayak kurang lengkap kalau belum nyobain makanan dari daerah tersebut,” ujar Maulanie.

Kebiasaan berburu kuliner sebenarnya bukan hal yang sulit dilakukan.

Wisatawan dapat memulainya dari warung makan yang banyak dikunjungi warga lokal, pasar tradisional, maupun pelaku usaha kuliner yang berada di sekitar kawasan wisata.

Dari tempat-tempat sederhana tersebut, wisatawan sering kali mendapatkan pengalaman yang tidak ditemukan ketika hanya mengunjungi destinasi populer.

Suasana warung, misalnya, dapat memperlihatkan aktivitas masyarakat sehari-hari.

Sementara pasar tradisional mempertemukan wisatawan dengan penjual yang telah lama mengenal bahan pangan dan makanan khas di daerahnya.

Interaksi sederhana itu juga bisa menjadi bagian dari perjalanan.

Wisatawan dapat bertanya mengenai makanan yang disajikan, bahan yang digunakan, hingga alasan sebuah hidangan menjadi bagian dari tradisi masyarakat.

Kuliner dan kondisi daerah juga memiliki hubungan yang erat.

Bahan makanan yang digunakan dalam sebuah hidangan sering kali dipengaruhi oleh hasil alam dan kebiasaan masyarakat setempat.

Karakter wilayah pesisir, misalnya, dapat terlihat dari pemanfaatan hasil laut dalam berbagai hidangan.

Sementara penggunaan rempah dalam jumlah tertentu dapat memperlihatkan bagaimana bahan pangan lokal berkembang menjadi cita rasa khas.

Hal serupa dapat ditemukan dalam kuliner Banyuwangi.

Berbagai hidangan tradisional yang berkembang di daerah ini tidak hanya menawarkan rasa, tetapi juga menjadi bagian dari identitas kuliner masyarakat.

Bagi wisatawan, pengalaman tersebut membuat perjalanan menjadi lebih personal.

Makanan yang pertama kali dicicipi di sebuah warung bisa saja menjadi kenangan yang justru paling mudah diingat setelah perjalanan berakhir.

Aroma masakan, rasa pedas yang khas, suasana tempat makan, atau percakapan singkat dengan penjual dapat melekat dalam ingatan.

Ketika suatu saat mencicipi makanan dengan rasa serupa, pengalaman tersebut bisa kembali mengingatkan seseorang pada perjalanan yang pernah dilakukan.

Karena itu, wisata kuliner tidak harus selalu dilakukan di tempat makan yang sedang populer.

Warung sederhana yang menjadi langganan warga pun dapat menawarkan pengalaman yang menarik selama makanan tersebut memiliki cerita dan karakter lokal.

Bagi wisatawan yang datang ke Banyuwangi, menjadikan kuliner sebagai bagian dari agenda perjalanan juga dapat memperkaya pengalaman selama berada di daerah ujung timur Pulau Jawa tersebut.

Perjalanan pun tidak hanya dihitung dari berapa banyak destinasi yang berhasil dikunjungi.

Ada pula pengalaman yang terbentuk dari makanan yang dicicipi, orang-orang yang ditemui, serta cerita yang didapat selama berada di suatu tempat.

Mengenal Banyuwangi tidak hanya bisa dilakukan dengan melihat bentang alam dan mengunjungi destinasi wisatanya.

Sepiring makanan khas yang dinikmati di tengah aktivitas warga juga dapat menjadi pintu sederhana untuk memahami karakter daerah dan masyarakatnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
makanan khas banyuwangi traveling Banyuwangi Kuliner Banyuwangi wisata kuliner wisata banyuwangi