Jejak Sejarah di Balik Stempel, Stamp Railly KAI Bawa Konsep Eki Stamps ke Jabodetabek

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 17:24 WIB
Stamp Railly menghadirkan koleksi stempel bertema sejarah sejumlah stasiun di wilayah Jabodetabek. (Instagram/kai121_)
Stamp Railly menghadirkan koleksi stempel bertema sejarah sejumlah stasiun di wilayah Jabodetabek. (Instagram/kai121_)

RADAR BANYUWANGI - Perjalanan dengan transportasi publik selama ini identik dengan aktivitas berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Namun, perkembangan pengalaman wisata berbasis transportasi menunjukkan bahwa stasiun dan perjalanan itu sendiri juga dapat menjadi bagian dari aktivitas eksplorasi.

Konsep tersebut antara lain dikenal melalui Eki Stamps di Jepang, yang menjadikan stempel khas stasiun sebagai bagian dari pengalaman mengenal suatu daerah.

Gagasan serupa kini hadir dalam program Stamp Railly yang diluncurkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) bersama KAI Commuter mulai Senin (24/8). 

Program ini mengajak masyarakat mengumpulkan stempel dengan desain khusus yang mengangkat karakter arsitektur, sejarah, dan identitas sejumlah stasiun di wilayah Jabodetabek.

Melalui program tersebut, penumpang tidak hanya menikmati perjalanan menggunakan kereta, tetapi juga dapat membawa pulang penanda visual dari stasiun yang mereka kunjungi.

Aktivitas mengoleksi ini sekaligus memberikan cara yang lebih personal untuk mengingat perjalanan.

Eki Stamps, ketika stasiun menjadi bagian dari perjalanan

Di Jepang, istilah Eki Stamps merujuk pada stempel khas yang tersedia di berbagai stasiun.

Kata eki dalam bahasa Jepang berarti stasiun, sedangkan stamps merujuk pada cap atau stempel.

Desainnya biasanya menggambarkan ciri khas daerah, seperti bangunan bersejarah, ikon lokal, flora dan fauna, maupun unsur budaya setempat.

Daya tarik Eki Stamps terletak pada kemampuannya menghubungkan perjalanan kereta dengan eksplorasi wilayah.

Wisatawan yang ingin mengumpulkan stempel perlu mendatangi berbagai stasiun.

Dengan demikian, aktivitas sederhana tersebut dapat mendorong perjalanan ke lebih banyak lokasi sekaligus memperkenalkan karakter setiap daerah.

Bagi penggemar kereta api, konsep ini memiliki daya tarik tambahan karena stasiun tidak sekadar dipandang sebagai fasilitas transportasi.

Stasiun menjadi bagian dari cerita perjalanan yang dapat didokumentasikan melalui koleksi stempel.

Di sejumlah lokasi, koleksi stempel juga dapat menjadi bagian dari tantangan perjalanan atau kegiatan wisata tertentu.

Buku khusus, edisi musiman, serta koleksi terbatas membuat aktivitas tersebut semakin menarik bagi wisatawan yang senang memburu memorabilia.

Stamp Railly membawa pendekatan serupa ke Jabodetabek

Semangat mengabadikan perjalanan melalui stempel kemudian terlihat dalam Stamp Railly.

KAI dan KAI Commuter menghadirkan cap dengan ilustrasi yang merujuk pada identitas berbagai stasiun di Jabodetabek.

Koleksinya dapat diperoleh di sejumlah titik strategis pada jaringan Stasiun Commuter Line, Stasiun Gambir, serta Stasiun Pasar Senen.

Setiap desain dibuat dengan pendekatan visual yang memiliki keterkaitan dengan sejarah dan karakter stasiun.

Beberapa tema yang ditampilkan antara lain BEOS atau Jakarta Kota, Tanjung Priok, Meester Cornelis atau Jatinegara, Passar Senen, Buitenzorg atau Bogor, Universitas Indonesia, Tanah Abang, Gambir, dan Manggarai.

Kehadiran nama-nama lama seperti BEOS, Meester Cornelis, Passar Senen, dan Buitenzorg juga memberikan konteks historis yang lebih kuat.

Pengguna kereta dapat melihat bahwa nama dan bangunan stasiun tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan perkembangan kota dan perjalanan sejarah transportasi di Indonesia.

Salah satu desain yang memiliki latar sejarah khusus adalah Stasiun Manggarai.

Stasiun tersebut dikaitkan dengan peristiwa KLB Pemindahan Ibu Kota pada 3 Januari 1946, sehingga representasinya dalam Stamp Railly menjadi bagian dari upaya menghubungkan perjalanan masa kini dengan peristiwa masa lalu.

Mengoleksi stempel sebagai dokumentasi perjalanan

Stamp Railly dapat dinikmati oleh penglaju maupun wisatawan.

Pengguna cukup mendatangi stan Stamp Railly yang tersedia di area stasiun, kemudian membubuhkan stempel kayu KAI pada buku catatan perjalanan pribadi.

Konsep ini membuat koleksi tidak harus bersifat formal.

Buku catatan biasa pun dapat menjadi media untuk menyimpan cap perjalanan.

Setiap stempel kemudian berfungsi sebagai penanda bahwa seseorang pernah singgah atau melakukan perjalanan melalui lokasi tertentu.

Pendekatan seperti ini memiliki nilai lebih karena dokumentasi perjalanan tidak hanya berupa foto digital yang tersimpan di ponsel.

Koleksi stempel dapat menjadi benda fisik yang dapat disimpan, ditata, dan dilihat kembali dalam jangka panjang.

Bagi keluarga, misalnya, aktivitas berburu stempel dapat menjadi kegiatan edukatif yang memperkenalkan sejarah transportasi kepada anak-anak.

Sementara bagi wisatawan dan penggemar kereta api, koleksi tersebut dapat menjadi memorabilia yang memperkaya pengalaman menjelajahi Jabodetabek.

Dari transportasi publik menuju pengalaman wisata

Kehadiran stempel di lingkungan transportasi publik juga bukan hal yang sepenuhnya baru di Jakarta.

Sebelumnya, MRT Jakarta telah menghadirkan stempel bertema budaya di sejumlah stasiun sebagai salah satu bentuk suvenir perjalanan.

Stempel tersebut disebut terinspirasi dari konsep Eki Stamp di Jepang.

Beberapa stasiun yang pernah menjadi titik koleksi adalah MRT Blok A, Haji Nawi, dan Cipete Raya.

Desainnya mengangkat unsur budaya Betawi, seperti corak gigi balang, ratangga, petai, kembang sepatu, hingga anyaman bambu.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana transportasi publik dapat digunakan sebagai medium untuk memperkenalkan identitas lokal.

Stasiun dapat menjadi ruang yang menghubungkan mobilitas masyarakat dengan budaya dan sejarah kota.

Keberadaan Stamp Railly memperkuat kecenderungan tersebut.

Perjalanan menggunakan kereta dapat dipadukan dengan aktivitas mengamati sejarah, mengenali arsitektur, dan mengumpulkan artefak visual.

Tips menikmati Stamp Railly

Agar aktivitas mengoleksi stempel lebih terarah, perjalanan dapat direncanakan berdasarkan stasiun yang ingin dikunjungi.

Membuat daftar koleksi juga dapat membantu menentukan rute dan menghindari perjalanan yang tidak efisien.

Buku koleksi berukuran praktis juga dapat dipilih agar mudah dibawa selama perjalanan.

Bagi sebagian orang, buku catatan sederhana sudah cukup untuk mengarsipkan stempel sekaligus menambahkan catatan mengenai tanggal atau pengalaman di setiap stasiun.

Pengunjung juga sebaiknya menyediakan waktu yang cukup ketika menggunakan stempel.

Selain memperhatikan kondisi bantalan tinta dan kertas, aktivitas tersebut dapat dilakukan dengan tertib tanpa mengganggu arus penumpang di stasiun.

Desain stempel juga layak diperhatikan karena nilai koleksinya tidak hanya terletak pada cap yang dihasilkan.

Ilustrasi setiap stasiun menyimpan informasi mengenai tempat, sejarah, atau identitas lokal yang menjadi bagian dari perjalanan.

Setiap stasiun menyimpan cerita

Stamp Railly menawarkan cara berbeda dalam memandang perjalanan menggunakan transportasi publik.

Stasiun yang setiap hari dilewati ribuan orang memiliki sejarah dan karakter yang dapat dieksplorasi.

Melalui sebuah stempel, informasi mengenai suatu tempat dapat berubah menjadi memori sederhana yang lebih mudah diingat.

Semangat itu dirangkum KAI melalui kalimat, “Setiap Stasiun Punya Cerita. Setiap Perjalanan Layak Dikoleksi.”

Pesan tersebut menempatkan perjalanan sebagai pengalaman yang lebih luas.

Perjalanan menggunakan kereta dapat menjadi kesempatan untuk belajar, menjelajah, sekaligus menyimpan potongan cerita sejarah dalam bentuk yang sederhana.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Instagram @kai121_
Stamp Railly Eki Stamps sejarah stasiun Jabodetabek stempel MRT Jakarta kai commuter