Pulau Kucing di Jepang, Ketika Ratusan Anabul Menjadi Daya Tarik Wisata yang Mendunia

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 15:43 WIB
Ratusan kucing menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan di Tashirojima, Jepang, yang dikenal sebagai salah satu Pulau Kucing paling populer di dunia. (Traveloka)
Ratusan kucing menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan di Tashirojima, Jepang, yang dikenal sebagai salah satu Pulau Kucing paling populer di dunia. (Traveloka)

RADAR BANYUWANGI - Jepang dikenal memiliki beragam destinasi yang menawarkan pengalaman wisata berbeda dari kebanyakan tempat.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Nekojima atau Pulau Kucing, sebutan bagi sejumlah pulau yang dihuni oleh populasi kucing dalam jumlah besar.

Dua nama yang paling dikenal adalah Tashirojima di Prefektur Miyagi dan Aoshima di Prefektur Ehime.

Di kedua pulau tersebut, kucing bukan sekadar hewan yang hidup berdampingan dengan manusia.

Keberadaannya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat sekaligus daya tarik wisata.

Kucing-kucing dapat ditemukan bebas berkeliaran di sekitar permukiman, dermaga, jalan kecil, hingga ruang-ruang terbuka di pulau.

Keunikan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba.

Pada masa lalu, masyarakat pulau yang banyak bekerja sebagai nelayan maupun pembudidaya ulat sutra membawa kucing untuk membantu mengendalikan populasi tikus.

Hewan pengerat tersebut dapat merusak kepompong ulat sutra serta mengganggu peralatan dan jaring yang digunakan nelayan.

Lama-kelamaan, hubungan antara manusia dan kucing berkembang menjadi bagian dari budaya setempat.

Masyarakat meyakini perilaku kucing dapat memberikan petunjuk mengenai perubahan cuaca atau arah angin.

Kucing juga dipandang sebagai pembawa keberuntungan, khususnya berkaitan dengan hasil tangkapan laut.

Kepercayaan tersebut bahkan memiliki bentuk penghormatan yang lebih nyata di Tashirojima.

Di pulau ini terdapat Neko Jinja atau kuil kucing yang menjadi simbol penghargaan masyarakat terhadap hewan yang dianggap telah memberikan perlindungan dan keberuntungan bagi kehidupan mereka.

Dari sisi pariwisata, daya tarik Nekojima bukan hanya terletak pada jumlah kucing yang dapat ditemui.

Suasana pulaunya juga menjadi bagian penting dari pengalaman wisata.

Pengunjung dapat melihat kucing beristirahat di dermaga, tidur di bangku, berjemur di tempat terbuka, atau menghampiri wisatawan yang baru tiba dengan kapal feri.

Kondisi tersebut membuat Pulau Kucing menawarkan pengalaman yang berbeda dari destinasi wisata Jepang yang padat dan penuh aktivitas.

Ritme kehidupan di pulau cenderung lebih lambat dan tenang, sehingga sesuai dengan konsep slow travel.

Wisatawan dapat menikmati waktu dengan berjalan kaki, mengamati kehidupan masyarakat, serta berinteraksi dengan kucing tanpa harus mengejar banyak agenda dalam satu perjalanan.

Keberadaan kucing juga memberikan nuansa tersendiri di tengah perubahan demografi masyarakat pulau.

Jumlah penduduk lansia yang meningkat dan populasi manusia yang terus menyusut membuat suasana sejumlah pulau menjadi semakin sepi.

Dalam kondisi tersebut, kehadiran kucing justru menjadi elemen yang menghidupkan ruang-ruang publik sekaligus menarik wisatawan dan pencinta hewan dari berbagai negara.

Namun, berkunjung ke Nekojima tidak berarti dapat memperlakukan pulau seperti objek wisata biasa.

Fasilitas di lokasi relatif terbatas.

Wisatawan tidak dapat mengandalkan keberadaan pusat perbelanjaan besar atau restoran dengan pilihan yang sangat beragam.

Karena itu, persiapan perjalanan dan sikap menghormati kebiasaan masyarakat setempat menjadi bagian penting dari kunjungan.

Wisatawan juga perlu menjaga kebersihan dengan membawa kembali sampah pribadi serta memberikan makanan kepada kucing secara bijak.

Menghormati aturan lokal merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat, kehidupan satwa, dan aktivitas pariwisata.

Bagi wisatawan Indonesia, termasuk masyarakat Banyuwangi yang akrab dengan destinasi berbasis alam dan budaya, Pulau Kucing Jepang dapat menjadi contoh bahwa daya tarik sebuah tempat tidak selalu bergantung pada atraksi berskala besar.

Interaksi sederhana antara manusia, hewan, tradisi, dan lingkungan justru dapat menciptakan pengalaman yang berkesan.

Nekojima menawarkan gambaran mengenai cara sebuah komunitas mempertahankan hubungan dengan lingkungan sekaligus membangun identitas wisata dari tradisi yang telah berlangsung lama.

Bagi pengunjung yang mencari perjalanan lebih santai, suasana tenang dan perjumpaan dengan ratusan kucing dapat menjadi pengalaman unik yang sulit ditemukan di destinasi lain.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Pulau Kucing Tashirojima Aoshima Nekojima jepang