RADAR BANYUWANGI – Mencari toilet di stasiun biasanya bukan perkara yang membutuhkan banyak pikir. Tinggal membaca papan petunjuk, lalu berjalan ke arah yang ditunjukkan.
Namun, pemandangan berbeda muncul di Stasiun Semarang Tawang. Di area Toilet Timur, KAI menyelipkan permainan kata yang membuat petunjuk sederhana itu terasa lebih menghibur.
Pada satu sisi papan tertulis, “MEN to the left because”. Sementara sisi lainnya memuat kalimat, “WOMEN are always right”.
Ketika dua bagian itu dibaca sebagai satu rangkaian, muncullah humor sederhana, laki-laki ke kiri karena perempuan selalu benar.
Permainan tersebut memanfaatkan kata “right” yang dalam bahasa Inggris memiliki dua makna. Kata itu dapat berarti “kanan” sebagai penunjuk arah, sekaligus “benar” dalam konteks pernyataan atau pendapat. Di titik itulah fungsi papan informasi bertemu dengan humor.
Secara praktis, penumpang tetap mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Namun, cara penyampaiannya memberi pengalaman berbeda. Penumpang bukan hanya tahu ke mana harus berjalan, tetapi juga memperoleh momen kecil yang membuat perjalanan terasa lebih ringan.
Manager Humas KAI Daop 4 Semarang Luqman Arif menyebut pendekatan semacam itu merupakan bagian dari upaya KAI memperhatikan pengalaman pelanggan hingga ke detail-detail kecil di stasiun.
“Bagi kami, pelayanan pelanggan tidak hanya tentang perjalanan kereta api yang aman, nyaman, dan tepat waktu. Pengalaman pelanggan juga dibentuk dari berbagai detail selama berada di stasiun, termasuk bagaimana informasi disampaikan,” ujar Luqman, Sabtu (15/8).
Menurut dia, papan tersebut menunjukkan bahwa informasi fungsional tidak harus selalu tampil kaku.
“Kami mencoba menghadirkan informasi yang tetap mudah dipahami, tetapi dikemas secara kreatif dan humanis. Harapannya, hal sederhana seperti ini dapat memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan bagi pelanggan. Jadi, saat mencari toilet, pelanggan tidak hanya mendapatkan petunjuk arah, tetapi juga bisa tersenyum,” katanya.
Menariknya, kalimat “Women are always right” sendiri bukanlah ungkapan yang memiliki satu pencetus atau satu peristiwa sejarah tertentu. Frasa tersebut lebih tepat dipahami sebagai produk budaya populer yang berkembang melalui humor domestik, media massa, dan berbagai bentuk plesetan bahasa.
Salah satu akar yang kerap dikaitkan dengan fenomena tersebut ialah slogan bisnis “The customer is always right”. Ungkapan itu dipopulerkan dalam dunia perdagangan pada awal abad ke-20, antara lain melalui tokoh peritel seperti Marshall Field dan Harry Gordon Selfridge.
Dalam perkembangan budaya populer, pola kalimat tersebut kemudian mudah dipindahkan ke konteks rumah tangga. “Customer” diganti menjadi “woman” atau “wife”. Lahirlah semacam lelucon sosial bahwa demi menjaga ketenangan rumah tangga, pria sebaiknya mengakui bahwa perempuan selalu benar.
Narasi semacam itu semakin akrab melalui film dan sitkom Barat pada paruh kedua abad ke-20. Sosok suami sering digambarkan memilih mengalah, mengangkat tangan, kemudian menjawab, “Yes, dear”. Belakangan, muncul pula ungkapan populer “Happy wife, happy life” yang memiliki semangat serupa.
Tentu, konteksnya lebih dekat dengan komedi daripada sebuah aturan kehidupan rumah tangga.
Di sinilah ungkapan tersebut menjadi menarik bila dilihat dari perspektif sosial. Kalimat “perempuan selalu benar” memang terdengar seperti pujian. Perempuan seolah ditempatkan sebagai pihak yang memiliki intuisi lebih tajam, lebih peka, atau lebih mampu membaca situasi.
Dalam kajian gender, pola seperti itu dapat dikaitkan dengan konsep benevolent sexism atau seksisme yang tampak positif. Stereotip tersebut terlihat seperti penghormatan, tetapi tetap menyederhanakan perempuan ke dalam gambaran tertentu.
Dalam hubungan sehari-hari, ungkapan tersebut juga bisa berfungsi sebagai jalan pintas dalam sebuah perdebatan. Ketika seorang pria berkata, “Kamu selalu benar,” belum tentu itu berarti ia benar-benar menerima argumen pasangannya. Bisa saja itu hanya strategi untuk menghentikan pertengkaran.
Karena itu, kalimat tersebut lebih tepat dipandang sebagai humor tentang dinamika hubungan ketimbang kebenaran mutlak.
Sejumlah narasi populer bahkan mencoba mencari pembenaran ilmiah untuk stereotip tersebut. Penelitian mengenai kemampuan membaca emosi, komunikasi nonverbal, kemampuan linguistik, hingga memori verbal kerap dibawa ke dalam perbincangan semacam ini.
Namun, ketika temuan ilmiah dipindahkan menjadi kesimpulan bahwa satu gender “selalu benar”, persoalannya tentu menjadi jauh lebih kompleks. Kemampuan psikologis manusia tidak sesederhana pembagian hitam-putih antara laki-laki dan perempuan.
Terlepas dari perdebatan tersebut, KAI memilih sisi yang paling ringan dari ungkapan itu, melalui permainan bahasa.
Papan di Stasiun Semarang Tawang tidak sedang mencoba membuktikan siapa yang benar dalam sebuah perselisihan. Papan tersebut memanfaatkan ambiguitas kata “right” untuk membuat petunjuk arah menjadi lebih memorable.
Langkah semacam ini menunjukkan bagaimana fasilitas publik dapat dirancang tidak semata-mata untuk menyampaikan informasi, tetapi juga membangun suasana.
Di tengah rutinitas perjalanan, detail kecil bisa menjadi hal yang justru paling mudah diingat. Penumpang mungkin lupa warna dinding di sekitar toilet. Namun, papan bertuliskan “WOMEN are always right” berpotensi menempel di ingatan karena menghadirkan humor yang sederhana.
Tak mengherankan jika papan itu kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Perpaduan antara fungsi, bahasa, dan humor membuat sudut sederhana di stasiun berubah menjadi sesuatu yang layak dibagikan.
Tidak perlu memperdebatkan apakah perempuan benar-benar selalu benar.
Untuk urusan papan petunjuk di Stasiun Semarang Tawang, kata “right” memang berhasil melakukan dua pekerjaan sekaligus, menunjukkan arah dan memancing senyum.
Editor : Lugas Rumpakaadi