Slow Travel Mulai Dilirik, Gaya Liburan Santai Bisa Jadi Peluang Baru Pariwisata Banyuwangi

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 18:12 WIB
Slow travel mulai mengubah cara wisatawan menikmati liburan.  (Unsplash/Dino Reichmuth)
Slow travel mulai mengubah cara wisatawan menikmati liburan. (Unsplash/Dino Reichmuth)

RADAR BANYUWANGI - Liburan tak selalu harus berpacu dengan waktu.

Di tengah kebiasaan wisatawan menyusun agenda padat demi mendatangi sebanyak mungkin destinasi, muncul kecenderungan sebaliknya, menikmati perjalanan dengan tempo lebih lambat.

Konsep tersebut dikenal sebagai slow travel atau wisata lambat.

Bukan dengan memperpanjang masa tinggal, slow travel mengubah cara wisatawan menikmati sebuah daerah.

Pelancong tidak lagi menjadikan banyaknya objek yang didatangi sebagai ukuran keberhasilan perjalanan, melainkan seberapa dalam pengalaman yang diperoleh.

Bagi daerah seperti Banyuwangi, perubahan pola tersebut membuka peluang tersendiri.

Kabupaten di ujung timur Jawa itu memiliki beragam karakter wisata, mulai dari alam, desa, budaya, kuliner, hingga kehidupan masyarakat yang dapat dinikmati tanpa harus dikejar dalam satu hari.

Dalam konsep slow travel, wisatawan justru didorong untuk memberikan waktu lebih banyak kepada satu daerah.

Mereka dapat mengurangi perpindahan dari satu objek ke objek lain dan memilih untuk menikmati suasana sekitar secara lebih utuh.

Pagi hari, misalnya, tidak harus selalu dimulai dengan mengejar destinasi berikutnya.

Wisatawan bisa menikmati suasana lingkungan tempat menginap, berjalan kaki, bersepeda, berbincang dengan warga, atau mencoba makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat setempat.

Perjalanan menuju sebuah lokasi pun menjadi bagian dari pengalaman.

Transportasi darat seperti kereta api atau sepeda memungkinkan wisatawan menikmati perubahan lanskap secara perlahan.

Dengan begitu, perjalanan tidak hanya dipandang sebagai aktivitas menuju tempat tujuan, tetapi juga sebagai bagian dari cerita liburan.

Pilihan tempat menginap turut menentukan pengalaman tersebut.

Akomodasi yang dikelola warga lokal dapat memberi kesempatan kepada wisatawan untuk mengenal kehidupan masyarakat secara lebih dekat.

Begitu pula dengan kuliner.

Warung dan kedai kecil yang menjadi bagian dari keseharian warga dapat memberikan pengalaman berbeda dibandingkan dengan sekadar mendatangi tempat makan yang sudah populer di media sosial.

Pola tersebut juga berpotensi memberikan manfaat yang lebih luas bagi ekonomi lokal.

Ketika wisatawan tinggal lebih lama, pengeluaran mereka tidak hanya berhenti pada satu objek wisata.

Belanja dapat menyebar ke penginapan, warung makan, transportasi lokal, pelaku UMKM, pemandu wisata, hingga produk kerajinan masyarakat.

Di titik inilah slow travel menarik untuk dikembangkan sebagai salah satu pendekatan pariwisata Banyuwangi.

Wisatawan tidak sekadar datang, berfoto, lalu pergi, tetapi memiliki alasan untuk memperpanjang waktu tinggal.

Namun, slow travel bukan berarti wisatawan harus menghabiskan waktu berhari-hari tanpa agenda.

Esensinya terletak pada ritme perjalanan.

Agenda yang lebih realistis memungkinkan wisatawan memiliki waktu untuk menikmati sebuah tempat tanpa terus-menerus memikirkan destinasi berikutnya.

Konsep ini sekaligus menjadi antitesis dari fast travel yang mengandalkan itinerary yang sangat padat.

Dalam pola perjalanan cepat, wisatawan bisa saja mendatangi banyak lokasi dalam waktu singkat.

Namun, terbatasnya waktu di setiap tempat membuat interaksi dengan lingkungan dan masyarakat lokal menjadi lebih minim.

Sementara itu, slow travel menawarkan pengalaman yang lebih personal.

Wisatawan memiliki kesempatan untuk mengamati kebiasaan warga, memahami karakter suatu kawasan, mencicipi makanan lokal, serta menemukan tempat-tempat yang mungkin tidak masuk dalam daftar destinasi populer.

Banyuwangi memiliki modal untuk menawarkan pengalaman semacam itu.

Kekayaan alam dan budaya yang tersebar di berbagai kawasan dapat dikembangkan bukan hanya sebagai objek kunjungan singkat, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan yang lebih panjang.

Jika dikembangkan dengan tepat, slow travel dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas pengalaman wisata sekaligus memperluas manfaat ekonomi kepada masyarakat di sekitar destinasi wisata.

Ukuran keberhasilan sebuah perjalanan tidak selalu ditentukan oleh jumlah tempat yang berhasil dikunjungi.

Ada kalanya perjalanan justru terasa lebih berarti ketika wisatawan berhenti mengejar waktu.

Duduk lebih lama, menikmati makanan lokal, berbincang dengan warga, melihat lanskap dari perjalanan darat, atau sekadar memahami ritme kehidupan sebuah daerah bisa menjadi pengalaman yang tidak diperoleh dari itinerary yang terlalu padat.

Di tengah tuntutan hidup yang semakin cepat, slow travel menawarkan satu hal yang semakin mahal, yaitu waktu untuk benar-benar hadir di sebuah tempat.

Bagi Banyuwangi, kesempatan tersebut dapat menjadi cara lain untuk membuat wisatawan datang, tinggal lebih lama, mengenal lebih jauh, hingga membawa pulang pengalaman yang lebih bermakna.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Tren Liburan Wisata Lokal slow travel wisata banyuwangi pariwisata banyuwangi