RADAR BANYUWANGI - Kebutuhan masyarakat terhadap transportasi kereta api di Bandung Raya terus menunjukkan pertumbuhan.
Sepanjang Januari-Juli 2026, layanan kereta api lokal di kawasan tersebut telah melayani 11.872.273 pelanggan.
Jumlah itu meningkat 8,55 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencatat 10.936.955 pelanggan.
Jika dibandingkan dengan Januari-Juli 2023, pertumbuhan bahkan mencapai 38,13 persen.
Saat itu, jumlah pelanggan tercatat 8.595.185 orang.
Angka tersebut menjadi gambaran semakin kuatnya mobilitas masyarakat di kawasan Bandung Raya.
Kereta api tidak hanya digunakan untuk perjalanan antarkota, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas harian masyarakat di kawasan dengan pusat ekonomi, pendidikan, perdagangan, dan pariwisata yang padat tersebut.
Tren pertumbuhan juga terlihat dalam catatan tahunan.
Sepanjang 2023, layanan kereta api di Bandung Raya melayani 14.720.252 pelanggan.
Jumlah itu meningkat menjadi 16.159.458 pelanggan pada 2024 atau tumbuh 9,77 persen.
Pada 2025, jumlah pelanggan kembali naik 15,89 persen menjadi 18.727.224 orang.
Dalam dua tahun, volume pelanggan bertambah sekitar 27,22 persen.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, pertumbuhan jumlah pelanggan menjadi salah satu indikator penting dalam membaca perkembangan sebuah kawasan sekaligus kebutuhan terhadap transportasi massal.
“Ketika aktivitas masyarakat meningkat dan kebutuhan perjalanan sudah terbentuk, kapasitas transportasi publik harus dipersiapkan untuk mengikutinya. Data pelanggan menjadi salah satu dasar penting untuk menentukan apa yang perlu diperkuat dan kapan penguatan itu dibutuhkan,” ujar Anne, dikutip Antara.
Konsistensi pergerakan pelanggan juga terlihat sepanjang Januari-Juli 2026.
Dalam periode tersebut, jumlah pelanggan KA lokal Bandung Raya berada pada kisaran 1,45 juta hingga 1,84 juta orang per bulan.
Maret menjadi salah satu bulan dengan jumlah pelanggan tertinggi, yakni sekitar 1,84 juta orang.
Sementara pada Juli, jumlahnya masih berada di kisaran 1,77 juta pelanggan.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap layanan kereta api di Bandung Raya bukan sekadar fenomena sesaat.
Aktivitas perjalanan tetap berada pada level tinggi dari bulan ke bulan.
Kondisi itu sekaligus menjadi pertimbangan ketika peningkatan kapasitas transportasi dipersiapkan.
Penguatan tidak hanya berkaitan dengan jumlah perjalanan, tetapi dapat mencakup kapasitas jalur, sistem persinyalan, fasilitas stasiun, akses menuju layanan, kesiapan armada hingga pengembangan teknologi seperti elektrifikasi.
Anne mengatakan, pilihan peningkatan kapasitas maupun elektrifikasi perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing lintas.
“Elektrifikasi dan peningkatan kapasitas merupakan pilihan yang perlu dikaji berdasarkan kebutuhan setiap lintas. Kita perlu melihat jumlah pelanggan, pola perjalanan, frekuensi yang dibutuhkan, kesiapan pasokan energi, kondisi prasarana, biaya investasi, serta manfaat yang diterima masyarakat,” jelasnya.
Pertumbuhan kebutuhan transportasi di Bandung Raya juga memiliki kaitan dengan semakin luasnya konektivitas kereta api antarkawasan.
Salah satu layanan yang menghubungkan Bandung dengan wilayah timur Pulau Jawa adalah KA Sangkuriang relasi Ketapang (Banyuwangi)-Bandung pulang pergi (PP).
Kereta tersebut resmi beroperasi pada 1 Mei 2026 dan dalam tiga bulan pertama menunjukkan respons positif dari masyarakat.
Berdasarkan data hingga 1 Agustus 2026, KA Sangkuriang telah melayani 78.264 pelanggan.
Sebanyak 43.569 pelanggan tercatat melakukan perjalanan berangkat dari stasiun-stasiun di wilayah PT KAI Daop 9 Jember.
Sementara 34.695 pelanggan tercatat tiba di wilayah Daop 9 Jember.
Data tersebut menunjukkan bahwa konektivitas Bandung dengan kawasan timur Jawa tidak hanya membuka akses perjalanan baru, tetapi juga mendapat respons dari masyarakat di sepanjang lintasan.
Bagi wilayah Banyuwangi, keberadaan KA Sangkuriang memberikan alternatif perjalanan menuju sejumlah kota strategis di Pulau Jawa.
Sebaliknya, masyarakat dari Bandung dan daerah lain yang terhubung lintasan tersebut memperoleh akses menuju Banyuwangi dan kawasan timur Jawa.
Di wilayah Daop 9 Jember, Stasiun Banyuwangi Kota menjadi salah satu titik dengan aktivitas pelanggan KA Sangkuriang paling tinggi.
Berdasarkan akumulasi pelanggan naik dan turun, Stasiun Banyuwangi Kota mencatat 21.410 pelanggan.
Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan Stasiun Jember yang mencatat 20.878 pelanggan.
Selisih keduanya mencapai 532 pelanggan.
Jika dilihat dari pelanggan yang datang menggunakan KA Sangkuriang, Stasiun Banyuwangi Kota juga mencatat angka tinggi.
Sebanyak 10.188 pelanggan tercatat tiba di stasiun tersebut.
Jumlah itu berada di bawah Stasiun Probolinggo yang mencatat 10.192 pelanggan.
Sementara Stasiun Jember mencatat 9.397 pelanggan kedatangan.
Tingginya aktivitas di Banyuwangi Kota memperlihatkan posisi stasiun tersebut sebagai salah satu simpul perjalanan penting di wilayah timur Jawa.
Mobilitas pelanggan tidak hanya berkaitan dengan perjalanan antarkota, tetapi juga berpotensi mendukung aktivitas bisnis, pendidikan, kunjungan keluarga hingga pariwisata.
Dari sisi keberangkatan, tujuan yang paling banyak dipilih pelanggan dari wilayah Daop 9 Jember adalah Surabaya Gubeng dengan 12.344 penumpang.
Bandung berada di urutan berikutnya dengan 7.291 penumpang.
Besarnya jumlah perjalanan menuju Bandung menjadi salah satu gambaran adanya kebutuhan konektivitas langsung dari kawasan timur Jawa menuju Jawa Barat.
Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember Cahyo Widiantoro mengatakan, capaian selama tiga bulan pertama menunjukkan respons masyarakat terhadap layanan KA Sangkuriang cukup kuat.
“Sejak mulai beroperasi pada 1 Mei 2026, KA Sangkuriang mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat. Dalam kurun waktu tiga bulan, lebih dari 78 ribu pelanggan telah mempercayakan perjalanannya menggunakan KA Sangkuriang,” ujar Cahyo pada Radar Banyuwangi.
Menurut dia, layanan tersebut memberikan alternatif transportasi bagi masyarakat dengan jangkauan perjalanan yang luas.
“Hal ini menunjukkan bahwa layanan ini mampu memberikan pilihan transportasi yang efektif, nyaman, serta mendukung peningkatan konektivitas antarwilayah,” lanjutnya.
Pertumbuhan pelanggan di Bandung Raya dan respons terhadap KA Sangkuriang menunjukkan pola yang sama, ketika aktivitas perjalanan masyarakat meningkat, kebutuhan terhadap layanan transportasi yang mampu menghubungkan pusat-pusat kegiatan juga ikut berkembang.
KAI menilai pengembangan kapasitas harus dilakukan berdasarkan data dan kajian.
Setiap wilayah memiliki karakter mobilitas, kondisi geografis, pusat kegiatan ekonomi, potensi penumpang dan kebutuhan investasi yang berbeda.
Karena itu, penguatan infrastruktur perkeretaapian tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk seluruh wilayah.
Jumlah pelanggan, pola perjalanan, kebutuhan frekuensi, kondisi prasarana, kesiapan energi, biaya investasi dan manfaat bagi masyarakat menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhitungkan.
Data mobilitas di luar Jawa juga menunjukkan adanya aktivitas perjalanan yang cukup kuat.
Berdasarkan data BPS, jumlah penumpang kereta api di luar Jawa yang mencakup Sumatra dan Sulawesi sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 3,99 juta orang.
Jumlah tersebut meningkat 9,22 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Namun, angka tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai gambaran umum perkembangan mobilitas nasional.
Kebutuhan pembangunan jaringan di setiap daerah tetap harus ditentukan berdasarkan karakter dan potensi wilayah masing-masing.
Anne menegaskan, keputusan mengenai pengembangan jaringan maupun peningkatan kapasitas harus mempertimbangkan manfaat jangka panjang.
“Kebutuhan Sumatra tentu berbeda dengan Kalimantan, Sulawesi, maupun Papua. Ada wilayah dengan potensi penumpang yang kuat, ada wilayah yang kebutuhan logistiknya lebih besar, dan ada yang berpotensi melayani keduanya. Karena itu, prioritas harus ditentukan dari data dan kajian agar manfaatnya benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat,” katanya.
Bagi Bandung, pertumbuhan pelanggan menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap transportasi massal di kawasan perkotaan dan sekitarnya.
Sementara bagi Banyuwangi, tingginya aktivitas di Stasiun Banyuwangi Kota sekaligus menunjukkan bahwa konektivitas antarkawasan melalui jalur kereta api memiliki pasar perjalanan yang nyata.
Kedua kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan transportasi tidak berdiri sendiri.
Infrastruktur mengikuti perkembangan aktivitas masyarakat, sekaligus dapat membuka peluang mobilitas baru ketika konektivitas antarkawasan semakin baik.
Cahyo mengatakan, KAI Daop 9 Jember akan terus berupaya mempertahankan kualitas layanan KA Sangkuriang seiring respons positif masyarakat.
“Kepercayaan masyarakat ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan pelayanan terbaik, mulai dari ketepatan waktu perjalanan, kenyamanan sarana, hingga pelayanan di stasiun maupun di atas kereta,” katanya.
KAI berharap KA Sangkuriang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi dan pariwisata di daerah yang dilalui.
Pelanggan juga diimbau merencanakan perjalanan dengan baik, memesan tiket melalui kanal resmi KAI, datang ke stasiun lebih awal, memastikan identitas sesuai dengan data pada tiket, serta memperhatikan barang bawaan.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara