KAI Catat Lebih dari 1 Juta Penumpang Kereta Api Makassar-Parepare, Konektivitas Sulsel Kian Menguat

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 15:19 WIB
KA Makassar-Parepare melayani 206.651 penumpang sepanjang Januari-Juli 2026 atau naik 13,62 persen. (Antara)
KA Makassar-Parepare melayani 206.651 penumpang sepanjang Januari-Juli 2026 atau naik 13,62 persen. (Antara)

RADAR BANYUWANGI - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat tren positif layanan Kereta Api (KA) Makassar–Parepare sepanjang Januari hingga Juli 2026. Selama tujuh bulan pertama tahun ini, layanan tersebut mengangkut 206.651 pelanggan atau meningkat 13,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 181.876 pelanggan.

Secara kumulatif, sejak mulai beroperasi hingga akhir Juli 2026, KA Makassar–Parepare telah melayani 1.032.163 pelanggan. Capaian tersebut menjadi tonggak penting sekaligus mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat Sulawesi Selatan terhadap moda transportasi kereta api yang aman, nyaman, terjangkau, dan memiliki jadwal perjalanan yang pasti.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pertumbuhan jumlah pelanggan tidak sekadar mencerminkan peningkatan penggunaan transportasi publik, tetapi juga menunjukkan semakin pentingnya konektivitas dalam mendukung pembangunan daerah.

Menurut Anne, akses transportasi yang semakin baik memungkinkan masyarakat menjangkau pusat pendidikan, kawasan perdagangan, lokasi pekerjaan, layanan publik, destinasi wisata, hingga berbagai aktivitas sosial dengan lebih mudah.

"Indonesia memiliki potensi besar yang tersebar di setiap daerah. Konektivitas membantu mempertemukan potensi tersebut dengan kesempatan. Ketika akses perjalanan semakin terbuka, masyarakat memiliki ruang yang lebih luas untuk belajar, bekerja, membangun usaha, bertemu keluarga, dan ikut mengembangkan daerahnya," ujarnya, dikutip Antara.

Kehadiran layanan kereta api di Sulawesi Selatan juga memperluas pilihan moda transportasi masyarakat di luar Pulau Jawa dan Sumatra. Jalur KA Makassar–Parepare merupakan bagian dari pengembangan jaringan perkeretaapian Sulawesi yang dirancang untuk menghubungkan berbagai pusat aktivitas masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan wilayah.

Peran konektivitas dinilai semakin strategis seiring pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang mencapai 6,88 persen secara tahunan pada Triwulan I 2026. Kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya aktivitas ekonomi yang membutuhkan sistem transportasi yang andal dan saling terhubung.

Kemudahan mobilitas memberikan dampak nyata bagi berbagai lapisan masyarakat. Para pekerja memiliki pilihan lebih luas untuk menjangkau lokasi kerja tanpa harus meninggalkan daerah asal. Pelajar dan mahasiswa memperoleh akses yang lebih mudah menuju sekolah, perguruan tinggi, maupun pusat pelatihan.

Sementara itu, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berpeluang memperluas pasar melalui meningkatnya mobilitas masyarakat. Arus perjalanan yang semakin tinggi membuka kesempatan menghadirkan pelanggan baru sekaligus memperkenalkan produk lokal kepada pasar yang lebih luas.

Sektor pariwisata juga diproyeksikan memperoleh manfaat. Jalur KA Makassar–Parepare melintasi sejumlah daerah yang memiliki potensi wisata alam, budaya, sejarah, dan kuliner, seperti Maros, Pangkep, dan Barru. Kemudahan akses perjalanan diharapkan mendorong meningkatnya kunjungan wisatawan yang berdampak pada tumbuhnya usaha kuliner, penginapan, transportasi lanjutan, ekonomi kreatif, hingga penjualan produk lokal.

"Peluang hadir dalam bentuk yang konkret. Ada pedagang yang bertemu pelanggan baru, anak muda yang mengikuti pendidikan atau pelatihan, pekerja yang menjangkau tempat kerja, serta keluarga yang dapat melakukan perjalanan dengan lebih mudah. Setiap perjalanan dapat menjadi awal dari kesempatan yang sebelumnya terasa jauh," kata Anne.

KAI juga menilai konektivitas memiliki peran penting dalam membuka akses generasi muda terhadap pendidikan dan pengembangan diri. Anne mencontohkan Parepare sebagai kota kelahiran Presiden ketiga Republik Indonesia, B.J. Habibie, yang menjadi bukti bahwa talenta besar dapat lahir dari daerah mana pun selama memiliki kesempatan untuk berkembang.

"Parepare pernah melahirkan B.J. Habibie, sosok yang menunjukkan bahwa seorang anak daerah dapat membawa gagasan Indonesia melintasi batas dunia. Kita tidak pernah tahu dari kota atau desa mana talenta besar berikutnya akan lahir. Tugas bersama kita adalah membuka akses agar setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, dan melaju," ujarnya.

Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, pertumbuhan layanan KA Makassar–Parepare disebut menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat pembangunan transportasi bagi masyarakat.

Anne menegaskan, kemerdekaan memiliki makna yang lebih nyata ketika setiap warga memperoleh kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan, pekerjaan, membangun usaha, maupun meningkatkan kualitas hidup tanpa terkendala keterbatasan akses transportasi.

"Setiap orang berhak melaju. Mereka berhak memiliki kesempatan untuk belajar lebih tinggi, bekerja lebih baik, membangun usaha, dan menghadirkan perubahan bagi daerahnya. Kereta api terus melaju membawa masyarakat menuju tujuan, sebagaimana Indonesia terus melaju melalui kemampuan dan harapan rakyatnya," katanya.

KAI mencatat, lebih dari satu juta pelanggan yang telah menggunakan KA Makassar–Parepare berasal dari beragam latar belakang dan tujuan perjalanan. Ada pelajar yang mengejar pendidikan, pekerja yang mencari nafkah, pelaku usaha yang mengembangkan bisnis, wisatawan yang menikmati potensi daerah, hingga keluarga yang melakukan perjalanan untuk bersilaturahmi.

Ke depan, KAI berkomitmen terus meningkatkan kualitas layanan melalui aspek keselamatan, kenyamanan, kebersihan, keramahan petugas, serta keandalan operasional perjalanan. Perusahaan juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, KAI, dan seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat integrasi antarmoda, meningkatkan akses menuju stasiun, serta mengembangkan kawasan di sekitar jalur kereta.

"Indonesia tidak kekurangan potensi. Di setiap kota, desa, pesisir, dan kawasan pegunungan terdapat masyarakat dengan kemampuan, keberanian, dan cita-cita. Konektivitas membuka jalan agar potensi tersebut bertemu dengan kesempatan. Ketika masyarakat Sulawesi Selatan dapat terus melaju, daerah ikut berkembang dan Indonesia juga melaju," pungkas Anne.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
ka makassar parepare