RADAR BANYUWANGI - Gunung Raung menjadi salah satu destinasi favorit bagi pendaki berpengalaman yang ingin menguji kemampuan sekaligus menikmati panorama pegunungan dari ketinggian. Berdiri setinggi 3.332 meter di atas permukaan laut (mdpl), gunung yang berada di kawasan Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember ini dikenal memiliki karakter pendakian yang berbeda dibandingkan gunung lain di Pulau Jawa.
Julukan sebagai gunung paling ekstrem di Pulau Jawa bukan sekadar anggapan. Pendakian menuju Puncak Sejati Gunung Raung tidak hanya mengandalkan kemampuan trekking, tetapi juga menuntut keterampilan melewati jalur teknis berupa tebing batu yang cukup terjal.
Pada sejumlah titik, pendaki harus menggunakan perlengkapan keselamatan seperti harness, tali, carabiner, hingga helm untuk mengurangi risiko saat melintasi medan yang curam. Kemampuan menggunakan peralatan tersebut menjadi syarat penting sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak.
Tantangan berikutnya menanti di punggungan batu yang dikenal sebagai Shiratal Mustaqim. Jalur ini memiliki lebar yang sangat sempit, bahkan di beberapa bagian hanya berkisar setengah meter hingga satu meter.
Di sisi kanan dan kiri jalur terbentang jurang dengan kedalaman ratusan meter tanpa pembatas alami. Kondisi tersebut membuat setiap langkah harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Konsentrasi pendaki juga diuji ketika angin bertiup cukup kencang di kawasan puncak.
Sebelum tiba di Puncak Sejati, pendaki masih harus melewati beberapa titik penting, yakni Puncak Bendera, Puncak 17, dan Puncak Tusuk Gigi. Masing-masing memiliki karakter medan yang berbeda dengan tingkat kesulitan yang terus meningkat.
Selain menguras stamina, lintasan tersebut juga menguji mental karena sebagian besar berada di area terbuka yang langsung berbatasan dengan jurang.
Keistimewaan Gunung Raung tidak hanya terletak pada jalur pendakiannya, tetapi juga pada keberadaan kaldera raksasa yang dapat disaksikan dari Puncak Sejati. Kaldera dengan diameter sekitar dua kilometer itu menjadi pusat aktivitas vulkanik Gunung Raung yang hingga kini masih berstatus gunung api aktif.
Karena aktivitas vulkaniknya masih berlangsung, kondisi Gunung Raung terus dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Apabila terjadi peningkatan aktivitas, jalur pendakian dapat ditutup sementara sebagai langkah mitigasi demi menjaga keselamatan masyarakat dan para pendaki.
Meski memiliki reputasi sebagai salah satu gunung paling menantang di Indonesia, tingkat kesulitan Gunung Raung dinilai sangat bergantung pada kesiapan pendakinya.
Hal tersebut disampaikan salah seorang pendaki yang diwawancarai dalam dokumentasi pendakian di kanal YouTube Fiersa Besari.
"Benar, Gunung Raung itu sangat ekstrem, tapi dalam tanda kutip untuk mereka yang kurang pengetahuan, kurang info, dan tanpa persiapan yang matang," ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa medan Gunung Raung memang memiliki tingkat risiko tinggi. Namun, risiko tersebut dapat diminimalkan apabila pendaki memahami karakter jalur, menguasai penggunaan peralatan keselamatan, serta mempersiapkan kondisi fisik dan mental secara optimal sebelum memulai pendakian.
Editor : Lugas Rumpakaadi