Kereta Cepat Whoosh Dominasi Akses Wisman ke Jawa Barat, Okupansi Hotel Ikut Menguat

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 06:32 WIB
Pemerintah memastikan pelunasan utang Kereta Cepat Whoosh tidak membebani APBN. (Pexels/Noval Gani)
Transportasi berbasis rel semakin menjadi pilihan utama wisatawan mancanegara ke Jawa Barat. (Pexels/Noval Gani)

RADARBANYUWANGI.ID - Moda transportasi berbasis rel semakin memperkuat perannya sebagai pilihan utama wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Jawa Barat. Integrasi antara Kereta Cepat Whoosh dan layanan kereta api konvensional dinilai mampu menopang mobilitas wisata sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata di provinsi tersebut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati mengungkapkan, sepanjang Juni 2026 tercatat 17.877 kunjungan warga negara asing (WNA) ke Jawa Barat menggunakan Kereta Cepat Whoosh. Dari jumlah tersebut, Stasiun Padalarang menjadi pintu masuk utama dengan kontribusi mencapai 86,46 persen.

Secara kumulatif selama Januari hingga Juni 2026, jumlah kunjungan WNA yang memanfaatkan layanan Whoosh telah mencapai 87.751 kunjungan. Capaian tersebut menunjukkan bahwa kereta cepat semakin berperan sebagai moda transportasi strategis dalam mendukung arus wisatawan internasional menuju Jawa Barat.

Selain Whoosh, layanan kereta api konvensional juga mencatatkan pertumbuhan positif. Hingga Juni 2026, jumlah penumpang kereta api di Jawa Barat mencapai 2,43 juta orang atau meningkat 9,57 persen secara kumulatif pada Semester I-2026.

Sementara itu, jumlah penumpang Kereta Cepat Whoosh juga masih menunjukkan tren kenaikan meski lebih moderat, yakni tumbuh 0,61 persen secara year-to-date (ytd).

Di sisi lain, sektor transportasi udara justru mengalami kontraksi cukup tajam. Pergerakan penumpang internasional melalui Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati pada Juni 2026 turun 93,94 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan tersebut dipengaruhi berakhirnya fase operasional pemulangan jamaah haji yang sebelumnya mendongkrak aktivitas penerbangan internasional di bandara tersebut.

Adapun sektor perhotelan di Jawa Barat memperlihatkan sinyal pemulihan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Juni 2026 tercatat mencapai 51,05 persen atau meningkat 2,85 poin dibandingkan periode sebelumnya.

Kabupaten Karawang menjadi daerah dengan tingkat okupansi hotel berbintang tertinggi, yakni 72,11 persen. Posisi berikutnya ditempati Kota Tasikmalaya dengan TPK 63,22 persen dan Kabupaten Purwakarta sebesar 62,48 persen.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Kereta Cepat Whoosh