RADARBANYUWANGI.ID - PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus memperkuat layanan transportasi berbasis rel guna mendukung mobilitas masyarakat di berbagai kawasan aglomerasi. Pengembangan layanan dilakukan untuk menghubungkan kota utama dengan wilayah penyangga, kawasan permukiman, pusat pendidikan, sentra perdagangan, kawasan industri, destinasi wisata, hingga bandara.
Kawasan aglomerasi menjadi wilayah dengan aktivitas masyarakat yang saling terhubung antarkota maupun antarkabupaten. Pola mobilitas tersebut memungkinkan masyarakat tinggal di satu daerah, kemudian bekerja, belajar, atau menjalankan aktivitas ekonomi di daerah lain dalam satu hari. Kondisi itu menjadikan kereta api sebagai moda transportasi massal yang dinilai mampu melayani perjalanan secara terjadwal, terjangkau, dan berkapasitas besar.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, pengembangan layanan dilakukan dengan menyesuaikan karakteristik kebutuhan perjalanan masyarakat di setiap daerah.
"Batas administrasi bukan lagi batas aktivitas masyarakat. Perjalanan untuk bekerja, belajar, berdagang, berwisata, dan mengakses layanan publik semakin terhubung antarkota dan antarkabupaten. KAI menghadirkan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan mobilitas di masing-masing daerah," ujarnya, dikutip Antara.
Di Jawa Barat, Commuter Line Bandung Raya menjadi salah satu tulang punggung mobilitas kawasan Bandung dan sekitarnya. Selama Semester I 2026, layanan KAI Commuter di wilayah Bandung melayani 10.106.912 pelanggan atau meningkat 9,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 9.258.327 pelanggan.
Tren pertumbuhan juga terlihat dalam tiga tahun terakhir. Jumlah pelanggan meningkat dari 14.720.252 orang pada 2023 menjadi 16.159.458 pelanggan pada 2024 dan kembali naik menjadi 18.727.224 pelanggan pada 2025 atau tumbuh 27,22 persen dibandingkan 2023.
Layanan tersebut menghubungkan Kota Bandung dengan Cimahi, Padalarang, Cicalengka, Rancaekek, serta sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Purwakarta, hingga Garut sehingga mendukung mobilitas pekerja, pelajar, mahasiswa, pedagang, dan wisatawan.
Di kawasan Yogyakarta-Solo, Commuter Line Yogyakarta-Palur mencatat 4.719.593 pelanggan pada Semester I 2026 atau naik 6,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara Commuter Line Prameks relasi Yogyakarta-Kutoarjo melayani 582.541 pelanggan atau meningkat 6,41 persen.
Secara keseluruhan, kedua layanan tersebut mengangkut 5.302.134 pelanggan selama Semester I 2026, meningkat 6,87 persen dibandingkan 4.961.139 pelanggan pada Semester I 2025. Jaringan ini membentuk konektivitas perjalanan dari Kutoarjo di sisi barat hingga Palur di sisi timur dengan Yogyakarta dan Solo sebagai pusat aktivitas.
Konektivitas di Solo Raya juga diperkuat melalui KA Bandara Internasional Adi Soemarmo (BIAS). Layanan tersebut melayani 461.482 pelanggan pada Semester I 2026 atau meningkat 24,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, KAI mengoperasikan KA Joglosemarkerto yang menghubungkan Semarang, Solo, Yogyakarta, Purwokerto, Tegal, Pekalongan, serta sejumlah kota lain di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Selama Semester I 2026, layanan tersebut melayani 730.576 pelanggan atau tumbuh 10,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di Jawa Timur, jaringan KAI Commuter juga menunjukkan pertumbuhan positif. Sepanjang Semester I 2026, jumlah pelanggan mencapai 8.528.571 orang atau meningkat 8,23 persen dibandingkan Semester I 2025 yang sebanyak 7.879.862 pelanggan.
Pertumbuhan juga terlihat secara tahunan. Jumlah pelanggan meningkat dari 13.360.638 orang pada 2023 menjadi 14.731.053 pelanggan pada 2024, kemudian bertambah menjadi 16.016.534 pelanggan pada 2025.
Jaringan tersebut meliputi Commuter Line Dhoho, Penataran, Supas, Jenggala, Blorasura, dan Tumapel yang menghubungkan Surabaya dengan Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Mojokerto, Jombang, Malang, Blitar, serta sejumlah daerah lainnya.
"Jaringan kereta api di Jawa Timur memperlihatkan bahwa kebutuhan perjalanan masyarakat tidak terkonsentrasi pada satu kota. Kereta api menghubungkan pusat pemerintahan, pendidikan, industri, perdagangan, dan pariwisata yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota," kata Anne.
Di Banten, Commuter Line Merak melayani 2.414.115 pelanggan pada Semester I 2026 atau naik 9,40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jalur ini menghubungkan kawasan permukiman dengan pusat pemerintahan, sentra industri, perdagangan, hingga Pelabuhan Merak.
KAI Commuter juga mengoperasikan layanan Kereta Petani Pedagang pada lintas Rangkasbitung-Merak yang dimanfaatkan 26.074 pelanggan selama Semester I 2026.
Sementara itu, Commuter Line Jabodetabek tetap menjadi layanan dengan jumlah pelanggan terbesar. Sepanjang Semester I 2026, layanan ini mengangkut 176.575.981 pelanggan yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang, Rangkasbitung, serta berbagai wilayah penyangga lainnya.
Akses menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta juga diperkuat melalui Commuter Line Basoetta yang melayani 1.197.413 pelanggan atau meningkat 12,71 persen dibandingkan Semester I 2025.
Di Sumatra Barat, Minangkabau Ekspres terus mendukung perjalanan masyarakat menuju Bandara Internasional Minangkabau sekaligus menghubungkan pusat aktivitas di Padang dan Kabupaten Padang Pariaman.
Adapun KA Lembah Anai mencatat pertumbuhan tertinggi dengan melayani 162.428 pelanggan selama Semester I 2026 atau meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan 51.035 pelanggan pada periode yang sama tahun lalu.
Selain layanan tersebut, KAI juga mengoperasikan berbagai kereta lokal dan regional lainnya seperti KA Pangrango, KA Siliwangi, KA Cut Meutia, KA Srilelawangsa, KA Datuk Belambangan, KA Kuala Stabas, serta KA Rajabasa yang disesuaikan dengan kebutuhan mobilitas di masing-masing wilayah.
Anne menegaskan KAI akan terus memperkuat layanan melalui evaluasi pola operasi, peningkatan kapasitas rangkaian, penyesuaian jadwal perjalanan, pengembangan fasilitas stasiun, serta integrasi dengan moda transportasi lain. Upaya tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pelanggan, aspek keselamatan, kesiapan prasarana, dan keberlanjutan operasional.
"Kereta api membantu mendekatkan kota utama dengan wilayah penyangganya. Konektivitas yang semakin baik membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk bekerja, belajar, berusaha, berwisata, dan memperoleh pelayanan publik di berbagai daerah," pungkasnya.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara