Jangan Asal Beli JR Pass, Simak Tips Naik Shinkansen untuk Liburan Keluarga ke Jepang yang Lebih Hemat

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 06:24 WIB
Liburan keluarga ke Jepang semakin diminati. (Pexels/Huu Huynh)
Liburan keluarga ke Jepang semakin diminati. (Pexels/Huu Huynh)

RADARBANYUWANGI.ID - Minat masyarakat Indonesia untuk berlibur ke Jepang terus meningkat. Bersamaan dengan tren perjalanan keluarga yang melibatkan anak-anak hingga lansia, perencanaan transportasi antarkota menjadi faktor penting agar liburan berlangsung nyaman, efisien, sekaligus tidak membebani anggaran.

Salah satu moda transportasi yang paling banyak digunakan wisatawan adalah Shinkansen. Namun, tanpa perencanaan yang matang, perjalanan menggunakan kereta cepat tersebut berpotensi menimbulkan kendala, mulai dari pemesanan kursi, pengaturan bagasi, hingga pemilihan tiket yang kurang sesuai dengan kebutuhan perjalanan.

CEO Avenir, Tiara Hanita, mengatakan kenyamanan wisata keluarga tidak hanya ditentukan oleh destinasi yang dikunjungi, tetapi juga bagaimana perpindahan antarkota dirancang sejak awal.

"Keluarga tiga generasi punya kebutuhan yang berbeda, sehingga perpindahan antarlokasi harus dirancang dengan cermat agar anak-anak maupun orang tua tetap nyaman sepanjang perjalanan," ujarnya, dikutip Antara.

Bagi keluarga yang bepergian bersama balita, lansia, atau membawa stroller, reservasi kursi menjadi langkah yang sebaiknya tidak diabaikan. Dengan pemesanan lebih awal, seluruh anggota keluarga dapat duduk berdekatan sehingga perjalanan menjadi lebih nyaman.

Selain itu, wisatawan yang membawa koper berukuran besar juga perlu memperhatikan aturan bagasi di sejumlah layanan Shinkansen. Beberapa rute menerapkan ketentuan khusus untuk bagasi oversized sehingga ruang penyimpanan perlu dipesan sebelum keberangkatan.

Menurut Tiara, langkah sederhana tersebut dapat mengurangi kerepotan selama perjalanan, terutama saat musim liburan ketika jumlah penumpang meningkat.

Perencanaan waktu perpindahan antarkereta juga menjadi hal yang sering diabaikan wisatawan.

Di stasiun besar seperti Tokyo, Kyoto, maupun Shin-Osaka, perpindahan antarperon idealnya diberi waktu sekitar 15 hingga 20 menit. Durasi tersebut memberikan ruang yang cukup bagi keluarga yang membawa anak kecil, stroller, maupun lansia yang membutuhkan akses lift atau eskalator.

Dengan waktu transit yang memadai, wisatawan tidak perlu terburu-buru sehingga perjalanan menjadi lebih nyaman dan minim risiko tertinggal kereta.

Salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan wisatawan adalah langsung membeli JR Pass tanpa menghitung kebutuhan perjalanan.

Tiara menjelaskan, dengan harga JR Pass tujuh hari yang kini berada di kisaran 50.000 yen, tiket perjalanan satuan justru lebih ekonomis apabila wisatawan hanya melakukan perjalanan pulang-pergi Tokyo–Osaka.

Sebaliknya, JR Pass lebih menguntungkan bagi wisatawan yang berencana mengunjungi beberapa kota sekaligus, seperti Kyoto, Hiroshima, dan Kanazawa dalam satu perjalanan.

Artinya, pemilihan tiket sebaiknya disesuaikan dengan itinerary, bukan semata mengikuti tren penggunaan JR Pass.

Untuk mobilitas di dalam kota, wisatawan disarankan menggunakan kartu IC seperti Suica, PASMO, atau ICOCA yang dapat dipakai di berbagai layanan kereta lokal, subway, maupun bus.

Meski demikian, kartu IC tidak dapat digunakan sebagai pengganti tiket dasar Shinkansen. Tiket kereta cepat tetap harus dibeli secara terpisah sesuai rute perjalanan.

Agar lebih praktis saat berpindah kota, keluarga juga dapat memanfaatkan layanan pengiriman koper antarkota atau takkyubin. Layanan tersebut memungkinkan wisatawan bepergian hanya dengan membawa barang bawaan seperlunya sehingga perjalanan menjadi lebih ringan.

Tiara menilai pola perjalanan wisata keluarga ke Jepang kini mulai bergeser ke konsep slow travel. Wisatawan tidak lagi mengejar banyak destinasi dalam waktu singkat, tetapi memilih menikmati lebih banyak waktu di setiap kota yang dikunjungi.

Pendekatan tersebut dinilai lebih sesuai bagi keluarga karena memberikan waktu istirahat yang cukup, mengurangi kelelahan selama perjalanan, sekaligus memberi kesempatan untuk mengeksplorasi destinasi secara lebih mendalam.

Melalui konsep tersebut, operator tur menyusun itinerary dengan mempertimbangkan ritme perjalanan keluarga, mulai dari durasi transfer, kebutuhan anak-anak dan lansia, hingga efisiensi penggunaan transportasi.

Selain transportasi, wisatawan juga perlu menyiapkan seluruh dokumen perjalanan sejak jauh hari. Persyaratan bagi anak-anak, dokumen pendukung, hingga ketentuan visa Jepang perlu dipastikan melalui sumber resmi sebelum keberangkatan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
JR Pass wisata keluarga jepang Shinkansen liburan