Tren Slow Living Kian Diminati, Banyuwangi Tawarkan Wisata Alam dan Budaya untuk Menjaga Kesehatan Mental

Rizki Anindiya Putri • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:03 WIB
Tren slow living mendorong wisatawan menikmati liburan lebih santai dan bermakna. (Travelerien.com)
Tren slow living mendorong wisatawan menikmati liburan lebih santai dan bermakna. (Travelerien.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Tren berwisata terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya liburan identik dengan mengunjungi banyak destinasi dalam waktu singkat, kini semakin banyak orang memilih perjalanan yang lebih santai dan bermakna. Konsep slow living pun semakin diminati sebagai cara menikmati liburan sekaligus menjaga keseimbangan kesehatan fisik dan mental.

Slow living merupakan filosofi hidup yang mengajak seseorang menjalani aktivitas dengan lebih sadar, tidak tergesa-gesa, serta memberi ruang untuk beristirahat dari rutinitas. Konsep ini mendorong setiap individu menikmati setiap proses, mengurangi distraksi, dan meluangkan waktu bagi diri sendiri tanpa merasa bersalah.

Kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental juga pernah disampaikan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. Mengutip pernyataannya yang dimuat TIMES Indonesia, Ipuk menegaskan bahwa kesehatan mental memiliki peran yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik sehingga keduanya harus dijaga secara seimbang.

"Kalau kesehatan mental kita tidak dijaga, kesehatan fisik kita bisa terganggu, bisa saja kita terkena stroke," ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengambil jeda dari padatnya aktivitas sehari-hari. Salah satu cara yang banyak dipilih ialah menikmati suasana alam yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Banyuwangi menjadi salah satu daerah yang menawarkan pengalaman tersebut. Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini memiliki kekayaan alam, budaya, dan suasana yang masih terjaga sehingga mendukung wisatawan menikmati perjalanan dengan ritme yang lebih santai.

Salah satu destinasi yang dapat menjadi pilihan ialah Desa Wisata Osing Kemiren di Kecamatan Glagah. Desa adat tersebut masih mempertahankan tradisi masyarakat Osing dengan lingkungan pedesaan yang asri. Pengunjung dapat menikmati kopi khas Banyuwangi, berinteraksi dengan masyarakat setempat, hingga mengenal berbagai tradisi budaya yang tetap dilestarikan.

Suasana menenangkan juga dapat ditemukan di kawasan Kecamatan Licin. Daerah berhawa sejuk ini menawarkan hamparan persawahan hijau dengan latar lereng Gunung Ijen. Berjalan santai pada pagi hari sambil menghirup udara segar menjadi aktivitas sederhana yang mampu membantu melepas penat setelah menjalani rutinitas.

Bagi pencinta wisata pesisir, Banyuwangi juga memiliki sejumlah pantai yang cocok untuk menikmati waktu dengan lebih rileks. Duduk di tepi pantai, mendengarkan deburan ombak, atau menyaksikan matahari terbenam menjadi pengalaman sederhana yang menghadirkan ketenangan.

Pilihan lain juga tersedia melalui kafe-kafe berkonsep alam yang kini semakin banyak bermunculan di kawasan Glagah dan sekitarnya. Dengan latar persawahan maupun pegunungan, tempat-tempat tersebut menjadi ruang yang nyaman untuk membaca buku, menulis, bekerja, atau sekadar menikmati secangkir kopi tanpa terburu-buru.

Editor : Lugas Rumpakaadi
slow living Desa Wisata Osing Kemiren kesehatan mental