RADARBANYUWANGI.ID - Tren wisata petualangan terus berkembang dengan menghadirkan pengalaman yang semakin menantang. Salah satu aktivitas yang kini menjadi sorotan adalah canyoneering terbalik (inverted rappelling), yakni teknik menuruni tebing air terjun dengan posisi tubuh tergantung terbalik menggunakan sistem tali pengaman.
Aktivitas ini menarik perhatian luas setelah banyak foto dan video pendek yang beredar di media sosial. Selain memacu adrenalin, posisi terbalik saat menuruni tebing menghadirkan sudut pandang yang tidak biasa sehingga menghasilkan dokumentasi visual yang dinilai unik dan estetik.
Dalam praktiknya, peserta menggunakan perlengkapan keselamatan berstandar, seperti harness, helm, serta tali statis khusus. Seluruh peralatan tersebut dirancang untuk menunjang keamanan selama proses penurunan di area tebing dan air terjun.
Salah seorang peserta, Putri Amel, 17, mengaku pengalaman tersebut memberikan sensasi yang berbeda dibanding aktivitas petualangan lainnya.
"Deg-degan banget pas badan harus dibalik 180 derajat di atas ketinggian. Tapi begitu posisi sudah stabil dan liat gemuruh air terjun langsung dari sudut terbalik, rasanya luar biasa keren dan estetik banget. Sensasi ekstremnya bener-bener nagih," ujarnya.
Popularitas canyoneering terbalik terus meningkat seiring banyaknya unggahan di berbagai platform media sosial. Tak sedikit pegiat wisata alam yang tertarik mencoba pengalaman tersebut, baik untuk menguji keberanian maupun mengabadikan momen berlatar tebing cadas dan derasnya aliran air terjun.
Aktivitas ini tersedia di sejumlah destinasi wisata alam yang memiliki kawasan ngarai atau tebing air terjun dengan layanan canyoning. Pengelola umumnya menyediakan pemandu profesional yang mendampingi peserta sejak tahap persiapan hingga kegiatan selesai.
Meski menawarkan pengalaman yang menyenangkan, canyoneering terbalik bukan aktivitas yang dapat dilakukan tanpa persiapan. Peserta memerlukan kondisi fisik yang memadai, kemampuan menjaga keseimbangan tubuh, serta fokus tinggi selama berada dalam posisi terbalik di atas ketinggian.
Kontrol otot inti juga menjadi faktor penting agar pergerakan di atas tali tetap stabil dan tidak mengalami hambatan. Selain menghadapi derasnya arus air, peserta dituntut mampu mengendalikan mental saat berada di atas jurang dengan posisi kepala menghadap ke bawah.
Demi menjaga keselamatan, setiap peserta diwajibkan mengikuti sesi pengarahan atau safety briefing sebelum kegiatan dimulai. Instruktur akan menjelaskan teknik penggunaan peralatan, prosedur penurunan, hingga langkah-langkah antisipasi apabila terjadi kendala di lapangan.
Editor : Lugas Rumpakaadi