RADARBANYUWANGI.ID - Perubahan iklim dan meningkatnya emisi gas rumah kaca menjadi tantangan global yang membutuhkan langkah nyata dari berbagai sektor. Di Indonesia, sektor transportasi masih menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar, terutama akibat dominasi penggunaan kendaraan pribadi di jalan raya.
Di tengah upaya menekan emisi, kereta api dinilai memiliki peran strategis sebagai moda transportasi yang lebih ramah lingkungan. Kemampuan mengangkut penumpang dalam jumlah besar dengan konsumsi energi yang lebih efisien menjadikan transportasi berbasis rel sebagai salah satu solusi untuk mendukung mobilitas berkelanjutan.
Berdasarkan perhitungan jejak karbon PT Kereta Api Indonesia (KAI), perjalanan menggunakan kereta api menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan kendaraan pribadi. Kereta api berlokomotif diesel diperkirakan menghasilkan emisi sekitar 45,9 kilogram CO₂e per kilometer operasional. Sementara itu, mobil bermesin 1.000–2.000 cc menghasilkan emisi sekitar 150–250 gram CO₂e per kilometer, dengan konsumsi bensin yang setara menghasilkan sekitar 2,31 kilogram CO₂e per liter bahan bakar.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal berbasis rel, semakin besar pula potensi pengurangan emisi karbon yang dapat dicapai.
Selain lebih hemat energi, kereta api juga berkontribusi mengurangi kepadatan lalu lintas. Satu rangkaian kereta mampu mengangkut ratusan hingga ribuan penumpang dalam satu perjalanan sehingga jumlah kendaraan yang melintas di jalan dapat ditekan. Dampaknya tidak hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga meningkatkan kualitas udara sekaligus mempercepat waktu tempuh masyarakat.
Komitmen menuju transportasi rendah emisi juga sejalan dengan target Indonesia mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060. PT KAI telah menyusun strategi dekarbonisasi jangka panjang melalui peningkatan efisiensi operasional, pemanfaatan energi terbarukan, elektrifikasi jalur, hingga pengurangan jejak karbon dalam berbagai aktivitas perusahaan.
Transformasi tersebut juga diwujudkan melalui penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Dalam beberapa tahun terakhir, KAI secara bertahap mengikuti kebijakan pemerintah dalam implementasi biodiesel, mulai dari B20, B30, B35, hingga penerapan B40 serta rencana menuju B50. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus memperkuat pemanfaatan energi terbarukan nasional.
Di kawasan perkotaan, elektrifikasi jaringan kereta menjadi salah satu upaya efektif dalam menekan emisi. Kehadiran KRL Jabodetabek, MRT Jakarta, dan LRT menjadi contoh bagaimana transportasi berbasis listrik mampu menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat modern. Seiring meningkatnya penggunaan energi terbarukan sebagai sumber pasokan listrik nasional, emisi dari sektor perkeretaapian juga diproyeksikan semakin rendah.
Manfaat transportasi hijau tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga berdampak terhadap perekonomian. Infrastruktur perkeretaapian yang semakin baik mampu meningkatkan konektivitas antarwilayah, memperlancar distribusi orang dan barang, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Kehadiran layanan seperti Whoosh, KRL, hingga pengembangan jalur kereta di berbagai wilayah menjadi bagian dari investasi jangka panjang yang mendukung daya saing nasional.
Meski demikian, tantangan terbesar masih terletak pada perubahan perilaku masyarakat. Peningkatan minat menggunakan transportasi umum membutuhkan dukungan berupa integrasi antarmoda, peningkatan kenyamanan layanan, serta pembangunan infrastruktur yang semakin merata.
Editor : Lugas Rumpakaadi