RADARBANYUWANGI.ID - Perjalanan wisatawan mancanegara (wisman) menggunakan kereta api jarak jauh selama Semester I 2026 menunjukkan tren yang semakin merata ke berbagai daerah di Jawa dan Sumatra. PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat sebanyak 308.874 wisman menggunakan layanan KA jarak jauh pada periode Januari–Juni 2026 atau meningkat 2,54 persen dibandingkan 301.219 pelanggan pada periode yang sama tahun lalu.
Menariknya, pertumbuhan tersebut tidak hanya terjadi di stasiun-stasiun utama. Sebanyak 106.474 pelanggan atau 34,47 persen memulai perjalanan dari 222 stasiun di luar 10 stasiun dengan volume wisman tertinggi. Artinya, sekitar satu dari tiga wisatawan mancanegara kini berangkat dari stasiun regional.
Kinerja kelompok stasiun regional bahkan tumbuh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan jumlah wisman KAI secara keseluruhan. Pada Semester I 2025, kelompok stasiun tersebut melayani 101.531 pelanggan, kemudian meningkat menjadi 106.474 pelanggan pada Semester I 2026 atau bertambah 4.943 pelanggan setara 4,87 persen.
Tambahan pelanggan dari stasiun regional itu menyumbang sekitar 64,57 persen dari total kenaikan bersih sebanyak 7.655 pelanggan mancanegara dalam setahun terakhir. Sementara itu, kontribusi perjalanan dari luar 10 stasiun terbesar juga meningkat dari 33,71 persen menjadi 34,47 persen.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, penyebaran perjalanan tersebut menjadi salah satu indikator berkembangnya pilihan destinasi wisata bagi wisatawan mancanegara di Indonesia.
"Wisatawan mulai menggunakan lebih banyak stasiun sebagai titik awal perjalanan. Pola ini membuka ruang bagi kota-kota regional untuk memperkenalkan kekuatan budaya, kuliner, sejarah, alam, serta kehidupan masyarakatnya," ujarnya, dikutip Antara.
Tren tersebut berlangsung seiring meningkatnya kunjungan wisatawan asing ke Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat kunjungan wisman pada Mei 2026 mencapai 1,38 juta kunjungan atau naik 5,83 persen dibandingkan Mei 2025. Di tingkat global, UN Tourism juga melaporkan perjalanan wisata internasional meningkat 2 persen pada triwulan pertama 2026 dan diproyeksikan tumbuh sekitar 3–4 persen sepanjang tahun.
Di lingkungan operasional KAI, pertumbuhan perjalanan wisman belum terjadi secara merata. Sebanyak 11 dari 13 wilayah operasi mencatat kenaikan dibandingkan Semester I 2025, sedangkan dua wilayah lainnya mengalami penurunan.
Secara persentase, kenaikan tertinggi terjadi di Divisi Regional IV Tanjungkarang sebesar 12,76 persen. Disusul Daerah Operasi 4 Semarang sebesar 12,38 persen, Daerah Operasi 5 Purwokerto sebesar 11,46 persen, serta Daerah Operasi 8 Surabaya sebesar 11,42 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa permintaan perjalanan wisatawan mancanegara tidak lagi terpusat di satu kawasan. Kota-kota di Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Lampung mulai memperoleh porsi yang lebih besar dalam arus perjalanan wisatawan asing.
Pada tingkat stasiun, Purwokerto melayani 5.780 wisman selama Semester I 2026 atau naik 20,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Stasiun Tegal mencatat 2.980 pelanggan atau meningkat 23,55 persen, sedangkan Kiaracondong melayani 2.018 pelanggan atau naik 18,08 persen.
Sementara itu, pertumbuhan lebih tinggi secara persentase terjadi pada stasiun dengan basis pelanggan yang lebih kecil. Garut melayani 587 wisman atau meningkat 41,79 persen. Purwakarta mencatat 617 pelanggan atau naik 56,20 persen. Adapun Bogor Paledang melayani 1.262 pelanggan, hampir tiga kali lipat dibandingkan 420 pelanggan pada Semester I 2025.
Meski demikian, Anne mengingatkan bahwa persentase pertumbuhan tetap perlu dibaca bersama besaran volumenya. Stasiun-stasiun utama masih menjadi gerbang utama perjalanan wisatawan mancanegara, sedangkan peningkatan di stasiun regional menjadi sinyal awal semakin beragamnya pilihan perjalanan.
"Data stasiun dapat membantu daerah membaca perubahan pola kunjungan. Informasi tersebut dapat menjadi bahan untuk menyiapkan transportasi lanjutan, informasi destinasi, fasilitas publik, serta layanan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan," katanya.
Menurut Anne, penyebaran perjalanan wisatawan berpotensi memperluas manfaat ekonomi ketika stasiun memiliki konektivitas yang baik menuju kawasan wisata. Wisatawan membutuhkan transportasi lanjutan, akomodasi, kuliner, pemandu wisata, layanan informasi, hingga produk kerajinan lokal.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pengelola penginapan, penyedia jasa perjalanan, komunitas budaya, serta pelaku ekonomi kreatif untuk memperoleh manfaat dari meningkatnya mobilitas wisatawan.
KAI sendiri saat ini mengelola 627 stasiun dengan total 7.765 kilometer jalur rel aktif di Pulau Jawa dan Sumatra. Jaringan tersebut menjadi penghubung antarkota sekaligus membuka akses menuju berbagai destinasi wisata dengan karakter budaya dan alam yang beragam.
Anne menambahkan, keselamatan, ketepatan waktu, kebersihan, kenyamanan sarana, kemudahan pemesanan tiket, penyediaan informasi yang mudah dipahami, hingga akses menuju transportasi lanjutan menjadi faktor penting dalam meningkatkan pengalaman wisatawan mancanegara.
"Perluasan perjalanan ke 222 stasiun regional menunjukkan bahwa manfaat konektivitas dapat menjangkau lebih banyak daerah. Potensi itu perlu dipertemukan dengan kesiapan destinasi dan kolaborasi antarpemangku kepentingan agar perjalanan wisatawan memberi nilai yang lebih luas bagi masyarakat," pungkasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi