RADARBANYUWANGI.ID - Sebagian besar perjalanan kereta api di Pulau Sumatra ternyata tidak terkonsentrasi di stasiun-stasiun utama. Data PT Kereta Api Indonesia (KAI) menunjukkan 60,44 persen dari total 7.637.540 aktivitas naik dan turun pelanggan selama Semester I 2026 justru terjadi di 70 stasiun yang tersebar hingga kota-kota kabupaten. Temuan ini menegaskan bahwa kereta api semakin menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat di berbagai daerah, tidak hanya di pusat-pusat kota.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan tingginya aktivitas di berbagai stasiun mencerminkan beragam kebutuhan masyarakat, mulai dari bekerja, menempuh pendidikan, berdagang, berobat, mengunjungi keluarga hingga berwisata.
"Perjalanan pelanggan di Sumatra tersebar di banyak stasiun. Ada yang bepergian untuk bekerja, menempuh pendidikan, berdagang, berobat, mengunjungi keluarga, serta menikmati perjalanan wisata. Setiap stasiun melayani karakter wilayah dan kebutuhan masyarakat yang berbeda," ujarnya, dikutip Antara.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, sebanyak 75 stasiun KAI di Sumatra mencatat 7.637.540 aktivitas naik-turun pelanggan, yang terdiri atas 3.818.770 aktivitas naik dan 3.818.770 aktivitas turun. Rata-rata, stasiun-stasiun tersebut melayani sekitar 42.196 aktivitas pelanggan setiap hari.
Data tersebut menunjukkan stasiun kereta tidak hanya menjadi titik keberangkatan dan kedatangan, tetapi juga simpul yang menghubungkan kawasan permukiman, pusat perdagangan, pendidikan, industri, layanan kesehatan, destinasi wisata hingga bandara.
Stasiun Medan masih menjadi stasiun dengan aktivitas pelanggan terbesar di Sumatra. Selama Semester I 2026, stasiun tersebut mencatat 997.723 aktivitas, disusul Stasiun Padang sebanyak 613.140 aktivitas, Stasiun Kertapati 587.556 aktivitas, Stasiun Pariaman 432.449 aktivitas, dan Stasiun Tanjungkarang 390.415 aktivitas.
Kelima stasiun tersebut secara keseluruhan membukukan 3.021.283 aktivitas atau 39,56 persen dari total aktivitas pelanggan di Sumatra.
Namun, porsi terbesar justru berasal dari 70 stasiun lainnya yang mencatat 4.616.257 aktivitas atau 60,44 persen. Angka tersebut memperlihatkan bahwa mobilitas masyarakat menggunakan kereta api tersebar luas hingga berbagai daerah di luar kota-kota besar.
"Data ini menarik karena sebagian besar aktivitas justru tersebar di luar lima stasiun dengan volume tertinggi. Artinya, layanan kereta api memiliki peran yang dekat dengan kehidupan masyarakat di banyak daerah," kata Anne.
Wilayah Divisi Regional I Sumatera Utara menjadi penyumbang aktivitas terbesar dengan 2.781.970 aktivitas naik-turun pelanggan atau 36,42 persen dari total aktivitas di Sumatra.
Selain Stasiun Medan, aktivitas tinggi juga tercatat di Stasiun Kisaran sebanyak 289.385 aktivitas, Rantau Prapat 258.281 aktivitas, Tanjung Balai 252.216 aktivitas, Tebing Tinggi 205.035 aktivitas, serta Siantar 193.654 aktivitas.
Sementara itu, Bandar Kalipah mencatat 95.715 aktivitas, Lubukpakam 76.736 aktivitas, Perlanaan 55.073 aktivitas, dan Mambang Muda 54.894 aktivitas. Sebaran tersebut mencerminkan tingginya konektivitas antara Kota Medan dengan kawasan perkebunan, perdagangan, pendidikan, dan kota-kota di pesisir timur Sumatra Utara.
Di Divisi Regional II Sumatera Barat, sebanyak 20 stasiun mencatat 2.284.932 aktivitas atau 29,92 persen dari total aktivitas pelanggan di Sumatra.
Selain Stasiun Padang dan Pariaman, aktivitas pelanggan juga tinggi di Air Tawar sebanyak 213.880 aktivitas, Naras 138.383 aktivitas, Lubuk Alung 131.044 aktivitas, serta Stasiun Bandara Internasional Minangkabau 110.093 aktivitas.
Aktivitas juga tercatat di Kuraitaji sebanyak 98.580 aktivitas, Alai 81.830 aktivitas, Pauh Kambar 72.766 aktivitas, dan Kayutanam 65.352 aktivitas.
Menurut Anne, karakter perjalanan di Sumatra Barat memperlihatkan hubungan yang erat antara mobilitas harian, pendidikan, sektor pariwisata, dan akses menuju bandara.
"Stasiun dengan skala pelayanan yang berbeda tetap memiliki arti penting bagi pelanggan di wilayahnya," ujarnya.
Di wilayah Divisi Regional III Palembang, sebanyak sembilan stasiun membukukan 1.209.971 aktivitas naik-turun pelanggan. Stasiun Kertapati menjadi yang terbesar dengan 587.556 aktivitas, disusul Lubuklinggau 255.237 aktivitas, Lahat 111.345 aktivitas, Prabumulih 99.634 aktivitas, dan Muara Enim 93.325 aktivitas.
Stasiun-stasiun tersebut menjadi penghubung antara pusat pemerintahan, kawasan perdagangan, pendidikan, industri, pertambangan, hingga permukiman di Sumatra Selatan.
Sementara itu, 18 stasiun di Divisi Regional IV Tanjungkarang mencatat 1.360.667 aktivitas. Aktivitas terbesar berada di Stasiun Tanjungkarang sebanyak 390.415, diikuti Kotabumi 257.105 aktivitas, Baturaja 206.406 aktivitas, Martapura 100.186 aktivitas, dan Blambangan Umpu 99.199 aktivitas.
Aktivitas lainnya tercatat di Labuan Ratu sebanyak 79.454 aktivitas, Waytuba 41.403 aktivitas, Tulung Buyut 26.223 aktivitas, Peninjawan 22.698 aktivitas, dan Tegineneng 22.217 aktivitas.
Sebaran tersebut memperlihatkan pentingnya kereta api dalam mendukung mobilitas masyarakat antara Lampung dan Sumatra Selatan, baik untuk bekerja, bersekolah, mengakses layanan publik maupun mengunjungi keluarga.
Berdasarkan data bulanan, aktivitas naik-turun pelanggan mencapai 1.247.838 pada Januari, 1.078.232 pada Februari, 1.343.802 pada Maret, 1.269.520 pada April, 1.332.066 pada Mei, dan meningkat menjadi 1.366.082 aktivitas pada Juni 2026.
Juni menjadi bulan dengan aktivitas tertinggi selama Semester I 2026. Rata-rata aktivitas harian pada bulan tersebut mencapai 45.536, lebih tinggi dibandingkan rata-rata semester pertama yang berada di angka 42.196 aktivitas per hari.
Anne menjelaskan, data naik dan turun pelanggan menjadi dasar bagi KAI dalam memetakan pola perjalanan masyarakat, menentukan kebutuhan pelayanan di setiap stasiun, meningkatkan kualitas informasi kepada pelanggan, menyiapkan petugas, hingga memperkuat keterhubungan dengan moda transportasi lanjutan.
"Di balik setiap angka terdapat perjalanan masyarakat yang perlu dilayani dengan aman dan nyaman. Data stasiun membantu KAI memahami bagaimana layanan digunakan dari hari ke hari dan bagaimana kebutuhan pelanggan berbeda di setiap daerah," katanya.
KAI saat ini mengelola layanan kereta api di Pulau Jawa dan Sumatra. Di Sumatra, wilayah operasional meliputi Divisi Regional I Sumatera Utara, Divisi Regional II Sumatera Barat, Divisi Regional III Palembang, Divisi Regional IV Tanjungkarang, serta Subdivisi Regional Aceh. Secara nasional, KAI mengoperasikan 627 stasiun dengan 7.765 kilometer jalur rel aktif.
KAI menegaskan bahwa angka 7,64 juta aktivitas merupakan akumulasi pencatatan pelanggan di stasiun keberangkatan dan kedatangan. Dengan demikian, satu perjalanan dihitung pada dua titik pelayanan sehingga angka tersebut menggambarkan aktivitas pelayanan stasiun, bukan jumlah individu yang melakukan perjalanan.
Editor : Lugas Rumpakaadi