RADARBANYUWANGI.ID - Jutaan penumpang kereta api menikmati perjalanan yang aman setiap tahun. Namun, sedikit yang mengetahui bahwa di balik kelancaran operasional tersebut terdapat sebuah fasilitas milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) di Bandung yang selama lebih dari satu abad memproduksi jembatan baja dan berbagai peralatan penting untuk menjaga rel tetap andal.
Berjarak sekitar 500 meter dari Stasiun Kiaracondong, Balai Yasa Jembatan Kiaracondong di Jalan Kiaracondong Nomor 92 telah beroperasi sejak 1921. Fasilitas ini menjadi pusat produksi dan perbaikan jembatan baja sekaligus pembuatan berbagai peralatan kerja yang digunakan dalam perawatan jalur kereta api di Pulau Jawa dan Sumatra.
Hampir seluruh perjalanan kereta api bergantung pada kondisi rel dan jembatan yang selalu prima. Karena itu, setiap komponen yang diproduksi di balai yasa tersebut memiliki peran penting dalam mendukung keselamatan perjalanan, mulai dari pemeriksaan rutin hingga penanganan kondisi darurat.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan seluruh produk yang dihasilkan dirancang untuk memastikan rel dan jembatan tetap aman dilalui kereta api.
"Setiap produk yang dihasilkan berangkat dari kebutuhan menjaga rel dan jembatan tetap aman dilalui perjalanan kereta api," ujarnya, dikutip Antara.
Dalam periode 2023–2025, Balai Yasa Jembatan Kiaracondong menghasilkan 9.899 produk dan komponen yang terbagi dalam 26 jenis. Seluruhnya digunakan untuk mendukung pemeriksaan, perawatan, perbaikan, hingga penanganan kondisi khusus pada rel dan jembatan.
Produksi tersebut meliputi:
- 2.970 mata pecok untuk alat pemadat batu pecah di bawah bantalan rel.
- 587 penjepit rel sementara guna mengamankan rel yang mengalami kerusakan sebelum diperbaiki permanen.
- 464 alat pengukur dan penyesuai lebar jalur.
- 399 mistar pemeriksa cacat rel.
- 290 alat ukur keausan rel.
- 603 pengikat rel untuk konstruksi jembatan darurat.
- 312 penyangga jembatan darurat.
- 132 cetakan tetrapod.
Mata pecok merupakan komponen pada alat pemadat batu pecah (ballast) yang berfungsi menjaga posisi rel tetap stabil saat dilalui kereta. Sementara itu, tetrapod adalah struktur beton yang ditempatkan di sekitar pilar maupun pangkal jembatan untuk mengurangi dampak gerusan arus sungai.
Untuk mendukung pekerjaan di lapangan, balai yasa juga memproduksi roda lori, katrol pengangkat rel, alat penggeser rel, alat pemasang pengikat rel, hingga alat pemindah rel. Lori sendiri merupakan kendaraan kerja berukuran kecil yang digunakan petugas untuk mengangkut alat dan material menuju lokasi perawatan.
"Keselamatan membutuhkan pemeriksaan yang teliti. Karena itu, alat ukur dan peralatan perawatan harus akurat, kuat, dan sesuai kebutuhan petugas di lapangan," kata Anne.
Selain memenuhi kebutuhan perawatan rutin, Balai Yasa Jembatan Kiaracondong juga memproduksi peralatan yang digunakan saat terjadi kondisi khusus pada infrastruktur.
Selama 2023–2025, fasilitas tersebut menghasilkan 312 penyangga jembatan darurat dalam berbagai tipe. Beberapa di antaranya mampu menopang beban hingga 46 ton, sedangkan tipe 50 memiliki kapasitas maksimum mencapai 83 ton.
Peralatan tersebut digunakan untuk menjaga stabilitas konstruksi jembatan ketika diperlukan penanganan darurat sehingga proses pengamanan dapat dilakukan lebih cepat sesuai kondisi di lapangan.
Menurut Anne, kemampuan memproduksi komponen secara mandiri membuat KAI lebih siap memenuhi kebutuhan peralatan sesuai karakteristik jalur.
"Produksi internal memperkuat kesiapan penanganan. Komponen dapat dibuat sesuai kebutuhan jalur sehingga petugas memiliki peralatan yang tepat saat melakukan pengamanan dan perbaikan," jelasnya.
Kemampuan Balai Yasa Jembatan Kiaracondong tidak hanya terlihat dari jumlah produksinya, tetapi juga kapasitas menangani konstruksi berukuran besar.
Dalam program kerja 2026, balai yasa telah menyelesaikan penanganan satu jembatan baja sepanjang 40 meter dengan bobot mencapai 137,91 ton.
Selain itu, fasilitas tersebut menyelesaikan 16 komponen untuk empat jembatan di lintas Pekalongan–Sragi dengan total berat 3,236 ton. Pada sektor produksi peralatan kerja, sebanyak 760 mata pecok juga telah selesai dibuat.
Sementara itu, produksi 75 set penyangga jembatan darurat telah mencapai progres 57,76 persen berdasarkan periode pelaporan.
Seluruh proses produksi dilakukan secara bertahap, mulai dari pemotongan material baja sesuai ukuran, pembentukan, pengeboran, perakitan, pengelasan, hingga pelapisan permukaan untuk mengurangi risiko korosi dan memperpanjang usia pakai komponen.
Balai yasa didukung mesin pemotong logam, mesin bor, mesin pembentuk logam, mesin bubut, peralatan pengelasan, serta ruang khusus untuk proses pembersihan dan pelapisan baja.
Untuk menangani material berukuran besar, tersedia enam alat pengangkat dengan kapasitas masing-masing 10 ton serta dua kendaraan pengangkat barang berkapasitas tiga ton.
Per 1 Juni 2026, Balai Yasa Jembatan Kiaracondong didukung 26 pekerja yang terdiri atas 21 pegawai KAI, dua petugas kebersihan, dan tiga petugas pengamanan.
Seluruh pegawai memiliki sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sesuai bidangnya. Selain itu, balai yasa menerapkan standar manajemen mutu ISO 9001:2015 untuk memastikan kualitas setiap tahapan produksi.
Mulai dari penerimaan material, pemeriksaan peralatan, penggunaan alat pelindung diri, pengaturan area kerja, hingga pengendalian risiko dilakukan secara berjenjang sebelum produk dinyatakan siap digunakan.
Tak hanya memproduksi jembatan baja dan peralatan kerja, Balai Yasa Jembatan Kiaracondong juga mengembangkan berbagai inovasi untuk mendukung keselamatan perjalanan kereta.
Salah satunya adalah dongkrak rel berkapasitas hingga 12 ton yang digunakan saat pekerjaan perawatan maupun penggantian komponen jalur.
Fasilitas tersebut juga mengembangkan alat digital untuk mengukur gelombang keausan permukaan rel. Pemantauan ini penting karena kondisi rel dapat memengaruhi kenyamanan perjalanan sekaligus umur komponen jalur.
Selain itu, tengah dikembangkan alat pengukur keausan wesel—bagian rel yang mengarahkan kereta berpindah jalur—perangkat pemeriksa akurasi alat ukur lebar jalur, hingga kendaraan kerja sederhana yang membantu petugas melakukan inspeksi lintas.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari rencana transformasi Balai Yasa Jembatan Kiaracondong menjadi Balai Yasa Jalan Rel dan Jembatan agar mampu mendukung kebutuhan perawatan rel dan jembatan secara lebih luas.
"Pengembangan alat ukur dan peralatan kerja diarahkan untuk membantu petugas menemukan kondisi jalur lebih dini sehingga penanganan keselamatan dapat dilakukan secara tepat," pungkas Anne.
Editor : Lugas Rumpakaadi