RADARBANYUWANGI.ID - Sebanyak 293.859 liter air bersih berhasil dihemat LRT Jabodebek sepanjang Semester I 2026. Penghematan tersebut diperoleh dari pemanfaatan air hasil daur ulang yang kini memenuhi hampir sepertiga kebutuhan air untuk mencuci setiap rangkaian kereta.
Di balik armada LRT Jabodebek yang selalu tampak bersih setiap hari, ternyata tidak seluruh proses pencucian menggunakan air baru. Sebagian air bekas pencucian diolah kembali melalui sistem pengolahan khusus sehingga dapat dimanfaatkan kembali secara aman tanpa mengurangi kualitas kebersihan kereta.
Langkah tersebut menjadi bagian dari penerapan operasional berkelanjutan yang dijalankan LRT Jabodebek. Selain mendorong masyarakat beralih ke transportasi massal guna mengurangi kemacetan dan emisi kendaraan, perusahaan juga berupaya menekan konsumsi sumber daya alam dalam aktivitas sehari-hari.
Air bekas pencucian kereta tidak langsung dibuang. Air tersebut terlebih dahulu diproses melalui Water Treatment Plant (WTP) yang terintegrasi dengan Automatic Train Wash Plant (ATWP). Dalam sistem tersebut, air melewati proses pemisahan lumpur dan minyak, penyaringan, hingga penyesuaian tingkat keasaman (pH). Setelah memenuhi standar, air digunakan kembali untuk proses pencucian berikutnya.
Setiap satu rangkaian kereta membutuhkan sekitar 973 liter air untuk sekali pencucian. Dari jumlah tersebut, sekitar 309 liter berasal dari air hasil daur ulang, sedangkan 664 liter sisanya menggunakan air bersih baru. Skema tersebut mampu mengurangi kebutuhan air bersih tanpa mengorbankan kualitas pencucian armada.
Proses pencucian kereta dilakukan menggunakan Automatic Train Wash Plant (ATWP). Saat kereta memasuki jalur pencucian, seluruh tahapan berlangsung secara otomatis, mulai dari penyemprotan air, aplikasi deterjen, penyikatan, pembilasan, hingga tahap akhir menggunakan demineralized water.
Menariknya, seluruh proses tersebut hanya memerlukan waktu sekitar dua menit untuk membersihkan satu rangkaian kereta dengan panjang sekitar 100 meter. Sistem otomatis ini tidak hanya membuat proses perawatan lebih cepat, tetapi juga mendukung efisiensi penggunaan air.
Manager of Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, mengatakan keberlanjutan transportasi publik tidak hanya diukur dari berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi, tetapi juga dari bagaimana operator mengelola sumber daya secara bertanggung jawab.
"Melalui sistem pencucian otomatis yang dilengkapi pengolahan air, kami dapat memanfaatkan kembali sebagian air bekas pencucian sehingga mengurangi kebutuhan penggunaan air bersih," ujarnya, dikutip Antara.
Menurutnya, manfaat transportasi publik tidak berhenti pada perjalanan yang lebih cepat atau berkurangnya kemacetan. Di balik operasionalnya, terdapat berbagai upaya efisiensi yang dilakukan, termasuk pengelolaan air agar penggunaannya lebih hemat dan berkelanjutan.
Editor : Lugas Rumpakaadi