RADARBANYUWANGI.ID - Mobilitas masyarakat yang terus meningkat membuat kebutuhan terhadap transportasi publik berbasis rel semakin besar. Tidak hanya untuk perjalanan antardaerah, kereta api juga menjadi tulang punggung distribusi logistik nasional. Untuk memastikan layanan tetap berjalan aman, andal, dan tepat waktu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) kini mengelola 12.856 sarana perkeretaapian yang beroperasi di berbagai wilayah Indonesia.
Jumlah tersebut menjadi fondasi penting bagi KAI dalam menjaga kelancaran perjalanan penumpang sekaligus distribusi berbagai komoditas. Setiap hari, kesiapan armada disesuaikan dengan jadwal perjalanan, kapasitas angkut, karakteristik lintas, hingga kebutuhan operasional di lapangan.
Berdasarkan data per Juni 2026, armada KAI terdiri atas 551 lokomotif, 1.064 Kereta Rel Listrik (KRL), 2.238 kereta penumpang, 8.907 gerbong barang, serta 96 Kereta Rel Diesel Elektrik/Indonesia (KRDE/I).
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, kesiapan sarana merupakan faktor utama dalam menjaga keandalan transportasi berbasis rel di tengah meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat dan aktivitas logistik nasional.
"Mobilitas masyarakat dan distribusi logistik memerlukan kesiapan sarana dalam jumlah yang memadai. Setiap lokomotif, KRL, kereta, gerbong, dan KRDE/I memiliki fungsi yang saling melengkapi untuk menjaga pelayanan tetap selamat, andal, dan sesuai dengan kebutuhan," ujarnya, dikutip Antara.
Dari total 12.856 sarana yang dikelola, gerbong barang menjadi armada dengan jumlah terbesar, yakni 8.907 unit atau sekitar 69,28 persen. Sisanya terdiri atas 2.238 kereta penumpang (17,41 persen), 1.064 KRL (8,28 persen), 551 lokomotif (4,29 persen), dan 96 KRDE/I (0,75 persen).
Setiap jenis sarana memiliki fungsi berbeda. Lokomotif menjadi tenaga penarik rangkaian kereta penumpang maupun barang. Kereta digunakan untuk melayani pelanggan, sedangkan gerbong mendukung distribusi berbagai komoditas sesuai karakteristik muatannya. Adapun KRL dan KRDE/I melayani perjalanan di kawasan perkotaan, aglomerasi, serta lintas lokal.
Perbedaan fungsi tersebut membuat kebutuhan operasional setiap armada tidak sama. Mulai dari jumlah awak, susunan rangkaian, pola pemeriksaan, siklus perawatan, hingga fasilitas pendukung disiapkan sesuai karakteristik masing-masing sarana.
Meningkatnya jumlah sarana sejalan dengan pertumbuhan pengguna kereta api. Sepanjang Semester I 2026, KAI Group melayani 258.993.359 pelanggan atau naik 7,55 persen dibandingkan Semester I 2025 yang mencapai 240.805.920 pelanggan.
Peningkatan ini menunjukkan kereta api semakin menjadi pilihan masyarakat untuk berbagai aktivitas, mulai bekerja, menempuh pendidikan, menjalankan usaha, mengakses layanan publik, hingga berwisata dan melakukan perjalanan antardaerah.
Bagi masyarakat Banyuwangi, peningkatan kapasitas dan kesiapan sarana menjadi bagian dari upaya menjaga keandalan layanan kereta menuju berbagai kota tujuan seperti Jember, Surabaya, Malang, Yogyakarta, maupun Jakarta yang menjadi jalur penting bagi mobilitas warga maupun wisatawan.
Anne menegaskan, pertumbuhan jumlah pelanggan harus diimbangi dengan kesiapan armada yang direncanakan secara berkelanjutan.
"Pertumbuhan pelanggan perlu diikuti dengan kesiapan kapasitas yang terencana. Ketersediaan sarana, keandalan teknis, fasilitas perawatan, serta kesinambungan pembaruan menjadi bagian yang saling berkaitan dalam menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat," katanya.
Selain melayani penumpang, KAI juga mencatat kinerja positif pada sektor logistik. Selama Semester I 2026, volume angkutan barang mencapai 32.498.043 ton.
Sebagian besar atau 26.534.095 ton merupakan batu bara, sedangkan 5.963.948 ton lainnya berasal dari komoditas nonbatu bara seperti semen, bahan bakar minyak, peti kemas, komoditas curah, hasil perkebunan, general cargo, hingga layanan pengiriman paket.
Layanan tersebut berperan dalam mendukung kebutuhan energi, industri, konstruksi, perdagangan, hingga kelancaran rantai pasok di berbagai daerah. Setiap jenis komoditas memerlukan spesifikasi gerbong, kekuatan lokomotif, susunan rangkaian, dan fasilitas bongkar muat yang berbeda sehingga kesiapan sarana menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran distribusi.
Sebelum dioperasikan, seluruh sarana menjalani pemeriksaan untuk memastikan seluruh persyaratan teknis, keselamatan, dan operasional terpenuhi. Perawatan dilakukan secara berkala berdasarkan waktu operasi, jarak tempuh, kondisi komponen, serta hasil pemeriksaan petugas.
Pekerjaan tersebut dilaksanakan melalui depo dan Balai Yasa sesuai tingkat penanganannya. Depo bertugas melakukan pemeriksaan dan perawatan rutin untuk mendukung operasional harian, sedangkan Balai Yasa menangani perawatan berkala dengan lingkup pekerjaan yang lebih besar.
Menurut Anne, menjaga kesiapan ribuan sarana membutuhkan perencanaan jangka panjang yang mencakup pengadaan armada, pembaruan teknologi, penyediaan suku cadang, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, hingga pengembangan fasilitas perawatan.
"Keberlanjutan layanan perkeretaapian memerlukan keterhubungan antara kebutuhan operasi, pengembangan teknologi, kapasitas industri, standardisasi, serta perencanaan investasi. Sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi penting agar kapasitas sarana dapat terus mengikuti perkembangan mobilitas pelanggan dan kebutuhan logistik nasional," ujarnya.
KAI juga terus memperkuat koordinasi antara unit operasi, depo, Balai Yasa, petugas pengendali perjalanan, serta unit pendukung lainnya agar jadwal pemeriksaan dan perawatan berjalan selaras dengan kebutuhan operasional.
Editor : Lugas Rumpakaadi