RADARBANYUWANGI.ID - Sebanyak 73 persen pekerja PT Kereta Api Indonesia (KAI) berada pada rentang usia 18–40 tahun. Komposisi tersebut menjadi modal utama perusahaan dalam mempercepat transformasi digital, memperkuat budaya keselamatan, sekaligus mendukung pengembangan layanan perkeretaapian yang berkelanjutan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Data KAI per Juni 2026 mencatat, dari total 28.003 pekerja KAI Induk, sebanyak 20.446 orang merupakan pekerja berusia produktif. Mereka terdiri atas 6.684 pekerja berusia 18–30 tahun dan 13.762 pekerja berusia 31–40 tahun. Sementara itu, sebanyak 4.736 pekerja berusia 41–50 tahun dan 2.821 pekerja berusia 51 tahun ke atas.
Momentum tersebut sejalan dengan peringatan Hari Keterampilan Pemuda Sedunia (World Youth Skills Day) yang diperingati setiap 15 Juli. Tahun ini, tema Skills for a Shared Future menyoroti pentingnya penguasaan keterampilan digital, kecerdasan artifisial (AI), ekonomi hijau, serta kemampuan sosial-emosional untuk menghadapi perubahan dunia kerja.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, perubahan teknologi dan meningkatnya ekspektasi pelanggan membuat kebutuhan kompetensi di sektor perkeretaapian semakin kompleks. Karena itu, pengembangan kemampuan pekerja menjadi salah satu fokus utama perusahaan.
"Perkeretaapian merupakan sistem yang menghubungkan manusia, teknologi, sarana, prasarana, dan pelayanan dalam satu rangkaian kerja. Karena itu, setiap pekerja perlu terus mengembangkan kompetensi, tetap adaptif, dan mampu berkolaborasi dengan tetap mengutamakan disiplin keselamatan," ujarnya, dikutip Antara.
Selain didominasi generasi muda, KAI juga mengandalkan kolaborasi lintas generasi untuk menjaga keberlanjutan pengetahuan di lingkungan kerja. Pengalaman pekerja senior dipadukan dengan kemampuan generasi muda dalam memanfaatkan teknologi, pola komunikasi baru, dan inovasi pelayanan.
Bobby menjelaskan, transfer pengetahuan mengenai keselamatan, operasional, dan pelayanan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas layanan perkeretaapian.
Menurutnya, perusahaan juga membuka ruang bagi pekerja muda untuk menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan pelanggan tanpa mengabaikan standar keselamatan.
Pengembangan kompetensi dilakukan di berbagai bidang, mulai dari operasional perjalanan kereta api, pelayanan pelanggan, perawatan sarana dan prasarana, teknologi informasi, keamanan sistem, pengelolaan data, logistik, hingga fungsi pendukung perusahaan.
Perubahan layanan digital membuat pekerja KAI dituntut memahami perkembangan teknologi sekaligus perilaku pelanggan. Transformasi tersebut diwujudkan melalui berbagai inovasi, antara lain aplikasi Access by KAI dan layanan Face Recognition Boarding Gate.
Sepanjang Semester I 2026, fasilitas Face Recognition Boarding Gate telah dimanfaatkan 5.555.034 pelanggan kereta api jarak jauh.
Pemanfaatan teknologi tersebut tidak hanya mempercepat proses boarding, tetapi juga mengurangi penggunaan sekitar 13.888 rol kertas boarding pass, dengan estimasi efisiensi biaya mencapai Rp203,80 juta.
Kemampuan memanfaatkan teknologi, membaca data, hingga menjaga keamanan sistem kini menjadi bagian dari kompetensi yang dibutuhkan pekerja di berbagai lini pelayanan.
Selain transformasi digital, KAI juga memperkuat keterampilan pekerja dalam mendukung operasional yang lebih ramah lingkungan.
Saat ini perusahaan telah mengoperasikan 113 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di 92 lokasi dengan total kapasitas terpasang 4.430,65 kilowatt peak.
Sejak 1 Juli 2026, KAI juga mulai menerapkan penggunaan biodiesel B50 secara bertahap dengan memperhatikan kualitas bahan bakar, kesiapan sarana, keselamatan perjalanan, dan keandalan operasional.
Menurut Bobby, seluruh transformasi tersebut dijalankan berdasarkan prinsip 3P, yaitu profit, people, dan planet.
"Transformasi KAI diarahkan pada keseimbangan 3P: profit, people, dan planet. Perusahaan harus mampu menjaga kinerja, memberi manfaat bagi masyarakat, dan berperan aktif dalam merawat bumi. Prinsip ini menjadi bagian dari cara KAI menjalankan bisnis dan operasional secara berkelanjutan," katanya.
Semangat pengembangan kompetensi juga diwujudkan melalui Pekan Olahraga dan Seni Kereta Api (Porseni) 2026 yang berlangsung di Yogyakarta.
Kegiatan bertema Spirit Competition, Power of Sustainability tersebut diikuti 1.632 peserta dari 17 kontingen di lingkungan KAI Group.
Peserta berasal dari berbagai daerah operasi, divisi regional, unit kerja, hingga anak perusahaan. Mereka mengikuti sembilan cabang olahraga, yakni basket, futsal, sepak bola, bola voli, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, catur, dan e-sport Mobile Legends, serta kompetisi seni band dan tari tradisional.
Selain meningkatkan kebugaran, kegiatan tersebut juga menjadi sarana mengasah kepemimpinan, komunikasi, kerja sama tim, kreativitas, hingga kemampuan mengambil keputusan yang dibutuhkan dalam operasional sehari-hari.
Sejalan dengan tema keberlanjutan, peserta Porseni juga didorong menggunakan tumbler dan alat makan guna ulang untuk mengurangi sampah sekali pakai. Setiap pekerja turut mengumpulkan satu seragam putih R6 yang telah habis masa pakai untuk diolah kembali melalui konsep ekonomi sirkular.
Rangkaian kegiatan lingkungan juga diwujudkan melalui penanaman 25 pohon produktif di Balai Yasa Yogyakarta pada 13 Juli 2026. Secara kumulatif, KAI telah menanam 99.785 pohon sejak 2022 hingga 13 Juli 2026, termasuk 4.540 pohon yang ditanam sepanjang tahun ini.
Penguatan kompetensi pekerja turut menopang peningkatan layanan KAI Group sepanjang Semester I 2026.
Pada periode Januari–Juni 2026, KAI Group melayani 258.993.359 pelanggan, meningkat 7,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 240.805.920 pelanggan.
Dalam periode yang sama, KAI juga mengangkut sekitar 32,50 juta ton barang untuk mendukung distribusi komoditas energi, industri, perkebunan, hingga logistik nasional.
Layanan tersebut melibatkan ribuan pekerja yang bertugas di stasiun, di atas kereta api, pusat kendali operasi, balai yasa, depo, jalur kereta, serta berbagai unit pendukung lainnya.
"Setiap pekerja membawa keterampilan dan tanggung jawab yang berbeda, kemudian menghubungkannya dalam satu sistem pelayanan. Melalui pengembangan kompetensi dan ruang kolaborasi, KAI menyiapkan insan yang mampu menjaga keselamatan, menghadirkan inovasi, memberi manfaat bagi masyarakat, serta membawa perkeretaapian Indonesia menjawab kebutuhan masa depan," pungkas Bobby.
Hingga Semester I 2026, KAI Group telah melayani hampir 259 juta pelanggan dan mengangkut 32,5 juta ton barang. Capaian tersebut menunjukkan bahwa penguatan kompetensi sumber daya manusia menjadi salah satu fondasi utama dalam menjaga keselamatan perjalanan, mempercepat transformasi digital, serta meningkatkan kualitas layanan perkeretaapian nasional secara berkelanjutan.
Editor : Lugas Rumpakaadi