RADARBANYUWANGI.ID - Kereta tidur bukanlah layanan baru dalam dunia perkeretaapian Indonesia. Jauh sebelum istilah sleeper train dikenal luas seperti sekarang, kereta dengan fasilitas tempat tidur sudah beroperasi sejak masa Hindia Belanda sebagai layanan premium untuk perjalanan antarkota yang menempuh waktu semalam.
Perjalanan panjang kereta tidur di Indonesia memperlihatkan dinamika perkembangan transportasi rel nasional. Layanan ini pernah menjadi simbol kemewahan pada era kolonial, mencapai masa keemasan melalui KA Bima, kemudian menghilang selama hampir tiga dekade sebelum akhirnya kembali hadir dalam balutan teknologi modern melalui Compartment Suites.
Pada dekade 1920-an, perusahaan kereta api Staatsspoorwegen (SS) mengoperasikan Java Night Express yang melayani rute Batavia–Surabaya. Kereta malam tersebut dilengkapi gerbong tidur atau slaaprijtuig yang dirancang untuk memberikan kenyamanan selama perjalanan lebih dari 12 jam.
Saat itu, fasilitas kereta tidur diperuntukkan bagi kalangan pejabat kolonial, pengusaha, serta penumpang kelas atas. Selain menyediakan ruang pribadi yang dapat diubah menjadi tempat tidur pada malam hari, gerbong tersebut juga dilengkapi layanan makanan dan petugas khusus yang melayani kebutuhan penumpang.
Konsep tersebut mengadopsi kereta tidur di Eropa. Kehadiran layanan premium ini sekaligus menjadi bukti bahwa jaringan perkeretaapian di Pulau Jawa pada awal abad ke-20 telah berkembang cukup maju dan mampu menghadirkan standar pelayanan setara dengan negara-negara Eropa.
Memasuki masa setelah kemerdekaan, layanan kereta tidur tetap dipertahankan setelah seluruh aset perkeretaapian dinasionalisasi. Pengelolaannya berlanjut dari Djawatan Kereta Api (DKA), kemudian Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA), hingga Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA).
Tonggak penting berikutnya hadir pada 1 Juni 1967 melalui peluncuran KA Bima. Kereta ini menjadi salah satu layanan paling prestisius karena menghadirkan pendingin udara (AC) dan kereta tidur kompartemen, fasilitas yang tergolong mewah pada zamannya.
Setiap kompartemen dirancang tertutup sehingga memberikan privasi bagi penumpang. Di dalamnya tersedia tempat tidur beserta berbagai fasilitas pendukung perjalanan malam. Pada era 1970 hingga 1980-an, KA Bima bahkan dikenal sebagai "hotel berjalan" dan menjadi pilihan berbagai kalangan, mulai dari pebisnis hingga pejabat negara yang bepergian di lintas Jakarta–Surabaya.
Namun, kejayaan tersebut tidak berlangsung selamanya. Memasuki akhir 1980-an hingga awal 1990-an, operasional kereta tidur mulai mengalami penurunan. Tingginya biaya perawatan, terbatasnya jumlah pengguna, serta berubahnya pola perjalanan masyarakat membuat layanan tersebut semakin sulit dipertahankan.
Di sisi lain, PJKA saat itu menghadapi tantangan finansial sehingga lebih memprioritaskan pengembangan layanan yang mampu melayani lebih banyak penumpang dengan tarif lebih terjangkau. Akibatnya, kereta tidur perlahan menghilang dari lintas utama di Pulau Jawa.
Salah satu layanan terakhir yang masih mengusung konsep tempat tidur adalah kereta kuset (couchette) pada KA Senja Utama Solo. Berbeda dengan kompartemen eksklusif KA Bima, kereta kuset menggunakan tempat tidur bertingkat yang dipakai bersama beberapa penumpang dalam satu ruang. Berakhirnya operasional layanan tersebut pada dekade 1990-an sekaligus menutup era kereta tidur klasik di Indonesia.
Selama hampir 30 tahun berikutnya, Indonesia praktis tidak lagi memiliki layanan kereta tidur dalam pengertian sesungguhnya.
Baru pada 2018, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menghadirkan layanan Luxury Sleeper. Meski populer disebut kereta tidur, layanan ini sebenarnya masih menggunakan kursi premium yang dapat direbahkan hingga sekitar 150 derajat, sehingga belum sepenuhnya berupa tempat tidur datar.
Kebangkitan kereta tidur secara nyata baru terjadi pada 2023 melalui peluncuran Compartment Suites. Kereta ini dirakit di Balai Yasa Manggarai dengan memanfaatkan kereta eksekutif produksi PT INKA tahun 2008–2009 yang dimodifikasi menjadi layanan premium.
Setiap rangkaian memiliki 16 kompartemen pribadi. Penumpang memperoleh kursi yang dapat direbahkan hingga 180 derajat menjadi flat bed, dilengkapi pintu geser elektrik, pengaturan pencahayaan, tablet hiburan, hingga pelayanan khusus dari train attendant.
Compartment Suites resmi diluncurkan pada 10 Oktober 2023 dan mulai dioperasikan pada KA Bima serta KA Argo Semeru. Kehadirannya tidak hanya menawarkan standar kenyamanan baru, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan kembali warisan kereta tidur Indonesia yang pernah berjaya sejak era Staatsspoorwegen dan KA Bima.
Pengembangannya pun terus berlanjut. Pada 2025, layanan tersebut diperluas ke KA Anggrek yang melayani rute Surabaya–Jakarta. Selanjutnya pada 2026, Compartment Suites mulai hadir di KA Sangkuriang untuk lintas Bandung–Banyuwangi, menandai meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan perjalanan kereta api premium.
Sejarah kereta tidur di Indonesia memperlihatkan perjalanan yang unik. Layanan ini lahir pada masa kolonial sebagai simbol kemewahan, mencapai puncak popularitas melalui KA Bima, kemudian menghilang akibat perubahan kondisi ekonomi dan operasional, sebelum akhirnya kembali hadir dengan teknologi yang lebih modern melalui Compartment Suites.
Editor : Lugas Rumpakaadi