RADARBANYUWANGI.ID - Kabupaten Banyuwangi kembali menegaskan daya tarik wisata alamnya melalui De Djawatan, kawasan hutan yang terkenal dengan deretan pohon trembesi berukuran raksasa dan berusia puluhan hingga ratusan tahun. Keberadaan pepohonan tua dengan batang kokoh, ranting menjulang, serta tajuk yang rindang menghadirkan panorama alam yang memikat sekaligus menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai daerah.
Keunikan De Djawatan tidak hanya terletak pada ukuran pohonnya, tetapi juga atmosfer yang tercipta di dalam kawasan hutan. Cahaya matahari yang menembus sela-sela ranting dan dedaunan menghasilkan pemandangan dramatis, terutama pada pagi maupun sore hari. Suasana tersebut kerap disebut menyerupai latar hutan dalam film fantasi sehingga menarik perhatian para pecinta fotografi maupun pembuat konten media sosial.
Selain menawarkan panorama yang memanjakan mata, De Djawatan juga menjadi destinasi ideal untuk menghabiskan waktu bersama keluarga maupun sahabat. Pengunjung dapat berjalan santai menyusuri kawasan hutan, menikmati udara yang sejuk, hingga merasakan ketenangan di tengah suasana alami yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Kondisi tersebut membuat kawasan ini banyak dipilih sebagai lokasi rekreasi sekaligus tempat melepas penat.
Ramainya kunjungan wisatawan turut memberikan dampak positif bagi masyarakat di sekitar kawasan. Kehadiran pengunjung membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk mengembangkan berbagai produk maupun layanan pendukung pariwisata. Aktivitas ekonomi yang tumbuh dari sektor wisata tersebut menjadi salah satu kontribusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperluas promosi potensi wisata Banyuwangi.
Di sisi lain, upaya menjaga kelestarian kawasan terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama masyarakat. Perawatan lingkungan secara berkala disertai ajakan kepada setiap wisatawan untuk menjaga kebersihan menjadi langkah penting agar ekosistem tetap terpelihara. Kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian alam diharapkan mampu memastikan keindahan De Djawatan tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Editor : Lugas Rumpakaadi